Perkembangan kecerdasan buatan sedang mengubah cara orang berinteraksi dengan layanan digital. Selama bertahun-tahun, perguruan tinggi membangun berbagai aplikasi untuk kebutuhan yang berbeda. Mahasiswa membuka sistem akademik untuk melihat jadwal dan nilai. Dosen membuka aplikasi penelitian untuk memeriksa proposal atau laporan. Tenaga Kependidikan menggunakan aplikasi lain untuk kepegawaian, remunerasi, keuangan, dan administrasi. Masyarakat umum juga harus berpindah dari satu halaman ke halaman lain untuk mencari program studi, jadwal penerimaan, informasi penelitian, atau layanan universitas.
Read more: Perguruan Tinggi sebagai AI-Accessible Digital Service
Seorang mahasiswa kini dapat menghasilkan esai 1.500 kata dalam beberapa menit. Ia dapat meminta kecerdasan buatan (AI) merangkum jurnal, menjelaskan teori yang sulit, menerjemahkan artikel ilmiah, bahkan membantu menyusun argumen. Tugas yang dahulu membutuhkan berjam-jam membaca dan menulis kini dapat diselesaikan jauh lebih cepat.
Read more: Apakah AI Membuat Mahasiswa Lebih Produktif atau Lebih Malas Berpikir?
Kabut asap sering dipandang secara sederhana, hutan terbakar, asap mengepul, udara menjadi keruh, lalu masyarakat diminta memakai masker. Cara pandang seperti ini sebenarnya terlalu sederhana untuk menggambarkan persoalan kesehatan yang sedang terjadi.
Read more: Menakar Bahaya Kesehatan Kabut Asap: Ketika Api yang Jauh Tetap ‘Membakar’ Paru-Paru Kita
Erupsi Gunung Anak Krakatau pada awal September 2026 tidak hanya dapat diamati melalui kolom abu dan aktivitas vulkanik dari permukaan bumi. Ratusan kilometer di atasnya, satelit Sentinel-2 merekam bagaimana bentang permukaan kepulauan Krakatau berubah setelah erupsi.
Read more: Membaca Dampak Erupsi Anak Krakatau dari Angkasa hingga Tanah
Dalam peta keilmuan Indonesianis dan studi Minangkabau modern, sosok Jeffrey Alan Hadler menempati kedudukan yang istimewa. Melalui artikel memoar berjudul "Places Like Home: Reminiscing About Jeffrey Hadler’s Historical Trajectory as an Indonesianist and Minangkabauist" yang dipublikasikan oleh Cornell University Press dalam jurnal Indonesia (2026), Yusmarni Djalius menuangkan kesaksian mendalam tentang sang sarjana.
Read more: Menolak Narasi Kolonial: Jeffrey Hadler dan Ketahanan Adat Minang dalam Pusaran Sejarah