Banjir kembali melanda sejumlah kawasan Kota Padang pada 10 Oktober 2026. Perumahan Lumin Park di Lubuk Minturun dan Kampung Guo di Kecamatan Kuranji menjadi dua lokasi terdampak. Peristiwa ini menunjukkan bahwa ancaman banjir di Padang bukan hanya persoalan hujan lebat, tetapi juga berkaitan dengan kondisi pegunungan, jaringan sungai, karakteristik tanah, dan dinamika sedimen.
Bagi warga Lumin Park, banjir kali ini bukan pengalaman pertama. Pada 26–27 November 2025, kawasan tersebut juga mengalami banjir yang membawa material dari hulu. Belum genap setahun, banjir kembali memasuki permukiman. Pengamatan lapangan menunjukkan ketinggian air mencapai sekitar 1,5 meter. Sejumlah kendaraan terseret menuju bagian belakang kompleks yang berdekatan dengan sungai.
Mengapa banjir berulang terjadi pada lokasi yang sama? Jawabannya memerlukan pemahaman mengenai hubungan antara curah hujan, bentuk permukaan bumi, pergerakan air, dan material sedimen dari pegunungan menuju dataran rendah.
Membaca Topografi Padang dengan DEMNAS
Digital Elevation Model Nasional (DEMNAS) memungkinkan kita mempelajari topografi secara kuantitatif, termasuk elevasi, kemiringan lereng, lembah, serta jalur aliran air.
Analisis DEMNAS memperlihatkan kontras topografi Padang yang besar. Kawasan pegunungan di sebelah timur mencapai elevasi sekitar 1.864 meter, sedangkan bagian barat merupakan dataran rendah yang berbatasan dengan Samudra Hindia.
Berdasarkan pengolahan DEMNAS pada resolusi analisis 30 meter, sekitar 48,84 persen wilayah daratan valid dalam cakupan raster memiliki kemiringan lebih dari 15 derajat. Pada zona elevasi 500–1.000 meter, sekitar 78,66 persen wilayahnya memiliki lereng lebih dari 15 derajat. Angka tersebut menggambarkan kondisi regional cakupan DEMNAS, bukan persentase khusus DAS Batang Kuranji ataupun Batang Aia Dingin.
Secara hidrogeomorfologi, lereng curam berpotensi mempercepat konsentrasi aliran menuju lembah ketika hujan lebat. Namun, besarnya limpasan juga ditentukan oleh intensitas hujan, infiltrasi tanah, tutupan vegetasi, dan kondisi kelembapan tanah sebelumnya.

Mengapa Dataran Landai Mengalami Banjir?
Analisis DEMNAS menunjukkan bahwa Lumin Park berada pada elevasi sekitar 36,1 meter di atas permukaan laut, dengan kemiringan lereng hanya 0,62 derajat. Kampung Guo berada pada elevasi sekitar 22,7 meter, dengan kemiringan 1,17 derajat. Keduanya merupakan kawasan relatif datar.
Meskipun landai, kawasan tersebut menerima aliran dari daerah tangkapan air di pegunungan. Hujan yang jatuh di hulu mengalir melalui anak-anak sungai, kemudian terkonsentrasi pada alur utama. Ketika debit melampaui kapasitas sungai, air meluap menuju dataran banjir.
Lumin Park berkaitan dengan sistem Batang Lubuk Minturun dan Batang Aia Dingin, sedangkan Kampung Guo berhubungan dengan sistem sungai kawasan Kuranji. Keduanya tidak boleh dianggap berada dalam satu DAS karena memiliki jaringan aliran dan daerah tangkapan berbeda.
Pengamatan lapangan di Lumin Park menunjukkan air banjir masuk dari arah timur, melalui kawasan sungai di belakang permukiman, bukan dari jalan masuk kompleks. Temuan ini menguatkan indikasi bahwa banjir berkaitan dengan luapan sungai, bukan semata-mata masalah drainase permukiman.
Pertemuan beberapa aliran sungai juga perlu diperhatikan. Ketika peningkatan debit dari anak-anak sungai terjadi hampir bersamaan, muka air di bagian hilir dapat meningkat dengan cepat, terutama apabila kapasitas penampang sungai terbatas.

Sedimen Memperbesar Bahaya Banjir
Banjir dari kawasan pegunungan sering membawa material tanah dan batuan. Sedimen dapat berasal dari erosi permukaan, longsoran lereng, pengikisan tebing sungai, maupun pengangkatan kembali endapan pada dasar sungai.
Ketika energi aliran meningkat, pasir, kerikil, bahkan bongkah batu dapat terangkut menuju hilir. Sebaliknya, ketika kecepatan aliran berkurang, sebagian material akan diendapkan.
Akumulasi sedimen dapat mengubah bentuk penampang dan mengurangi kapasitas alur sungai. Akibatnya, luapan lebih mudah terjadi ketika debit kembali meningkat.
Pengamatan setelah banjir Oktober 2026 memperlihatkan material kasar di sekitar alur sungai Lumin Park. Temuan tersebut menunjukkan pentingnya proses transportasi sedimen. Namun, volume material, sumber sedimen, dan tingkat pendangkalan belum dapat dipastikan tanpa survei penampang serta pengukuran sedimen.
Apakah Kerusakan Lingkungan Hulu Menjadi Penyebab?
Pembukaan hutan, perubahan penggunaan lahan, pembangunan jalan pada lereng, dan aktivitas yang mengganggu kestabilan tanah dapat memengaruhi respons hidrologi DAS. Berkurangnya tutupan vegetasi berpotensi meningkatkan keterbukaan tanah, limpasan, dan erosi.
Namun, hubungan antara kerusakan lingkungan dan banjir tidak selalu sederhana. Kawasan berhutan pun dapat menghasilkan aliran besar ketika hujan sangat intensif atau berkepanjangan.
Perbandingan citra Sentinel-2 sebelum dan sesudah banjir November 2025 di Batang Lubuk Minturun memperlihatkan indikasi bertambahnya area terbuka di sekitar alur sungai. Perubahan tersebut dapat berkaitan dengan erosi, endapan banjir, ataupun aktivitas penggunaan lahan.
Karena itu, menyimpulkan bahwa banjir Oktober 2026 semata-mata disebabkan kerusakan hutan belum memiliki dasar pembuktian yang cukup. Analisis perubahan tutupan lahan, sifat tanah, curah hujan, dan dinamika sedimen diperlukan untuk menilai kondisi lingkungan hulu.
Memutus Siklus Banjir Berulang
Banjir pada lokasi yang sama menunjukkan perlunya penanganan berbasis sistem DAS secara menyeluruh, bukan sekadar membersihkan material setelah banjir.
Pemeriksaan kapasitas sungai, kestabilan tebing, kondisi jembatan, dan titik pertemuan anak sungai menjadi langkah penting. Di kawasan hulu, perlindungan vegetasi serta pengendalian aktivitas pada lereng rentan perlu diperkuat.
Di kawasan hilir, penataan ruang harus mempertimbangkan dataran banjir. Lahan yang tampak aman ketika sungai berdebit normal belum tentu aman saat terjadi hujan ekstrem.
Sistem peringatan dini berbasis curah hujan dan tinggi muka air sungai juga perlu dikembangkan. Integrasi DEMNAS, GPM, Sentinel-2, dan pengamatan lapangan dapat membantu mengidentifikasi kawasan rawan serta menentukan prioritas penanganan.
Namun, persentase kemungkinan banjir berulang belum dapat ditentukan hanya dari kejadian sebelumnya. Perhitungan probabilitas memerlukan data hujan dan debit jangka panjang serta pemodelan hidrologi-hidraulika.
Banjir Padang mengingatkan bahwa tanah bukan sekadar media tumbuh tanaman, melainkan bagian penting sistem hidrologi yang mengatur infiltrasi, penyimpanan air, limpasan, dan erosi.
Kota Padang tidak dapat mengubah pegunungan dan sungai yang membentuk bentang alamnya. Namun, risiko banjir dapat dikurangi melalui pengelolaan DAS, penataan ruang, penguatan sistem peringatan dini, dan kesiapsiagaan masyarakat.
Banjir mungkin tidak dapat dihilangkan sepenuhnya, tetapi kerusakan dan korban akibat banjir bukan sesuatu yang harus terus berulang tanpa upaya pencegahan.
Penulis: Prof. Dr. Ir. Dian Fiantis, M.Sc. (Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian, dan Sekolah Pascasarjana Universitas Andalas, Padang, Pengurus dan Anggota Himpunan Ilmu Tanah Indonesia (HITI)
