Opini Dosen
- Details
Bahasa adalah jembatan bagi manusia untuk memahami alam. Namun, dalam dunia astronomi, jembatan ini sering kali justru menyesatkan. Ada sebuah ironi di mana istilah-istilah yang kita gunakan sehari-hari justru bertolak belakang dengan realitas fisika yang terjadi di atas cakrawala. Sebagai seorang akademisi yang terbiasa bekerja dengan data presisi, saya merasa penting untuk meluruskan distorsi bahasa ini agar publik tidak terus terjebak dalam pemahaman yang romantis, namun keliru secara sains.
- Details
Jika saja bumi ini datar, mungkin hidup kita jauh lebih sederhana. Kita bisa menetapkan satu waktu global yang seragam, tanpa perlu pusing memikirkan perbedaan zona waktu atau rotasi planet. Namun, realitasnya, Allāh ﷻ menciptakan bumi dalam bentuk sferis—bulat. Konsekuensi dari bentuk geometris ini sangat mutlak: waktu matahari terbit dan terbenam akan selalu berbeda di setiap garis bujur. Ini bukan sekadar teori, melainkan hukum alam yang presisi dan tak terelakkan.
- Details
Pukul 05:44 WIB, di sebuah sudut di Nanggalo, waktu seolah berhenti sejenak. Dalam apa yang sering saya sebut secara seloroh sebagai Nanggalo State Time (NST), saya berdiri di halaman rumah dengan sebuah gawai sederhana—yang sering kita labeli "HP C1na"—mengarahkan lensa ke ufuk timur. Di sana, di ketinggian 53°49', seiris cahaya melengkung indah di penghujung fajar. Bagi mata awam, itu mungkin hanya "bulan sabit". Namun, bagi nalar yang terbiasa membaca data, lengkungan itu adalah sebuah pesan penting tentang keteraturan alam semesta (Sunnatullāh) yang sering kali kita salah pahami.
- Details
Dunia saat ini sedang menahan napas. Di Timur Tengah, tensi antara Amerika Serikat dan Iran telah mencapai titik didih. Ancaman serangan terbuka terhadap infrastruktur minyak Iran dan janji balasan yang empat kali lebih besar dari pihak Iran menciptakan ketakutan akan disrupsi pasokan energi global yang masif. Bagi masyarakat awam, konflik ini mungkin terdengar jauh dan hanya menjadi berita di layar televisi dan di media sosial. Namun, secara ekonomi, ini adalah ancaman nyata yang bisa merambat masuk ke kantong kita, mendistorsi harga barang di pasar, hingga mengguncang stabilitas fiskal Republik Indonesia sampai ke akarnya.
- Details
BIMA adalah Basis Informasi Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat. Satu aplikasi yang digunakan Kementerian Pendidikan Tinggi Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) untuk mengelola hibah penelitian dan pengabdian masyarakat untuk dosen di Perguruan tinggi negeri maupun swasta. Melalui aplikasi ini tiap tahun kementerian ini mengelola dana penelitian dan pengabdian kepada masyarakat yang jumlah dananya triliun rupiah. Tiap tahun pula para dosen selalu menunggu jadwal pendaftaran hingga pengumuman diterima atau tidaknya proposal yang diusulkan.
More Articles ...
- IGRS: Antara Kebutuhan Rating GIM Dengan Ketidaksiapan Kurasi Otoritas
- Strategi Reversi Biologis: Transformasi Fisik 29 Tahun Di Usia 59 Demi Investasi Hidup Panjang Hingga 89 Tahun
- Gelar, Nalar, dan Hilal: Mengapa Debat Ilmiah Sering Berujung pada "Serangan Pribadi"?
- Menelusuri Jagoan Minang Yang Beraksi

