Ruang kelas bisa tiba-tiba kehilangan fungsinya. Bukan karena sekolah tidak memiliki guru atau buku, melainkan karena udara di sekitar sekolah tidak lagi aman bagi anak-anak. Kabut asap akibat kebakaran hutan kembali menunjukkan bahwa pendidikan Indonesia harus mampu bekerja ketika kondisi tidak normal.
Setiap musim penerimaan mahasiswa baru, kita melihat paradoks yang sama. Program studi seperti Kedokteran dan Teknik Informatika/Ilmu Komputer diperebutkan ribuan calon mahasiswa, sementara sejumlah program studi lain justru kesulitan memenuhi daya tampung. Kelompok yang sering menghadapi situasi ini antara lain berasal dari rumpun sains dasar, ilmu budaya dan sastra daerah, serta bidang-bidang spesifik yang kurang populer atau belum dipahami dengan baik oleh calon mahasiswa.
Di ruang perkuliahan dan laboratorium perguruan tinggi, seminar proposal merupakan salah satu tonggak penting dalam perjalanan akademik seorang mahasiswa. Baik pada jenjang Sarjana (S1), Magister (S2), maupun Doktor (S3), forum ini dirancang sebagai panggung pengujian gagasan: apakah rencana penelitian yang diajukan memiliki kerangka berpikir yang logis, metodologi yang sahih, serta daya guna yang jelas.
“Publikasi Scopus harus bayar.” Anggapan ini muncul dalam sebagian percakapan tentang penelitian dan karier dosen. Ada pula yang menganggap bahwa selama penulis mampu membayar, naskah akan mudah diterima. Pandangan semacam ini dapat membuat kerja penelitian dinilai dari tagihan penerbit, sementara proses ilmiah di baliknya luput dari perhatian.
Partai-partai politik kini kehilangan kemewahan untuk terus bungkam. Ruang netralitas semu telah tertutup rapat sejak palu Mahkamah Konstitusi diketuk, menyisakan gema perdebatan hukum dan etika yang kian hari kian bising. Bola panas itu secara perlahan namun pasti menggelinding ke gedung parlemen, mengetuk pintu para wakil rakyat yang selama ini memilih bermain aman di balik tembok kekuasaan.