BIMA adalah Basis Informasi Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat. Satu aplikasi yang digunakan Kementerian Pendidikan Tinggi Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) untuk mengelola hibah penelitian dan pengabdian masyarakat untuk dosen di Perguruan tinggi negeri maupun swasta. Melalui aplikasi ini tiap tahun kementerian ini mengelola dana penelitian dan pengabdian kepada masyarakat yang jumlah dananya triliun rupiah. Tiap tahun pula para dosen selalu menunggu jadwal pendaftaran hingga pengumuman diterima atau tidaknya proposal yang diusulkan. 

Pengumuman itu telah terjadi sekitar seminggu yang lalu. Tepatnya 9 April 2026. Bima mengumumkan hasil seleksi yang pendanaan dikelola melalui Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan di bawah Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek). Pengumuman kali pengumuman disampaikan langsung melalui akun Bima masing-masing dosen pengusul. Bisa jadi itu dilakukan untuk mengantisipasi agar tidak terjadinya “kekacauan” "crowded" situs Kementerian karena banyaknya orang yang mengakses. Pengumuman dimulai sejak pukul 16.00 Wib.

Suasana kebatinan dosen di seluruh Indonesia kali ini agak berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Tanggal pengumuman kelulusan proposal itu pun tiba. Perasaan kecewa, bahkan juga kesal menyelimuti jiwa dosen. Hasil seleksi BIMA tahun ini memang sangat luar biasa. Katanya, sangat selektif. Tetapi hasilnya sangat mengecewakan banyak dosen bila dibandingkan hasil seleksi pada tahun-tahun sebelumnya. Menurut data Kemendiktisaintek, tahun ini hanya 17 % proposal yang lolos. Dari 104.546 proposal yang diajukan, hanya 18.215 proposal dinyatakan lolos, atau di danai. Rationya dari 100 proposal yang diajukan, hanya 18 yang lolos. Wajar saja  muncul rasa kecewa dari banyak dosen yang disampaikan secara spontan melalui media social. Ironis bukan!

Aliansi Dosen ASN Kemendiktisaintek (ADAKSI) misalnya, melayangkan kritik keras kepada pihak kementerian. Mereka meminta transparansi pendanaan riset Bima dari pemerintah. Pada awalnya, tepatnya pada bulan Januari 2026 Pemerintah menyatakan akan menganggarkan Rp 12 T untuk riset dan pengabdian. Namun pada akhirnya mengalami penurunan yang amat drastis menjadi Rp 1,7 T.  Mereka juga mempertanyakan proses review, penentuan sebuah proposal lolos atau tidak.

Buntut dari pengumuman itu beredar berbagai ekspresi dan bahkan parodi di media sosial yang intinya menyampaikan pesan kekecewaan yang sangat mendalam dari para dosen yang telah mempersiapkan proposal penelitian dan pengabdian kepada Masyarakat. Siang malam mereka bekerja untuk mempersiapkan proposal agar lulus dan didanai oleh Kementerian.

Lihat saja misalnya salah satu parodi kekecewaan itu. Ketika seorang lelaki yang katanya dosen sedang dirundung kecewa menempelkan salonpas koyo (plester pereda nyeri) di pelipisnya. Tidak mau makan, walau disuapkan sang istri. Ia tetap ngotot melihat pengumuman Bima. Matanya tertuju tajam. Da -dig -dug, lolos atau tidak.

Pada meme (mim) yang lain di Instagram, seorang yang Bernama Eri Kurniawan juga memunculkan anekdot yang memperlihatkan akun Bimanya merah semua. Dari empat skema yang diajukan, baik penelitian maupun pengabdian, semua berwarna merah. Tidak satupun lolos didanai. Dengan kondisi seperti itu, ia mengatakan ternyata dirinya hanya dianggap sebagai teman oleh Bima. Ya hanya ikut meramaikan, tetapi tidak digunakan, begitulah kira-kira pendapatnya.

Pada Instagram Dr. Ginanjar Rahmawan muncul pula meme, seakan dua teman sedang beradu pandang. Sama-sama ketawa dan saling merasakan kecewa, tidak satupun proposal yang diajukan di danai. Begitulah berbagai parodi dan anekdot berseliweran di dunia maya. Belum lagi berbagai komentar disampaikan dalam grup-grup penelitian dan pengabdian di perguruan tinggi. Hampir semua menyampaikan rasa kecewa dan prihatin. Kenapa tidak, proposal sudah disiapkan begitu lama, serius, hingga larut malam. Hasilnya nol. Mungkin banyak lagi bentuk-bentuk ekspresi kekecewaan yang dilakukan oleh para dosen dari berbagai penjuru negeri atas hasil seleksi yang amat mengecewakan ini yang luput dari perhatian penulis.

Seleksi tahun ini diakui sangat ketat, ditengah kondisi keuangan negara yang begitu sulit saat ini. Efisiensi anggaran bukan hanya terjadi di lembaga-lembaga negara dalam bentuk pembangunan fisik, tetapi juga merambah ke dana penelitian dan pengabdian seperti di jalur Bima.

APBN 2026 mengalami tekor atau defisit sebesar Rp240,1 triliun hingga akhir Maret 2026, setara dengan 0,93% dari produk domestik bruto (PDB). Mungkin juga dampaknya sampai ke Bima. BIMA merupakan portal utama untuk pengajuan usulan, seleksi, hingga pendanaan riset yang dikelola Kemendiktisaintek. Di portal ini biasanya dibuka pengajuan proposal setiap tahun.

Kegagalan peneliti mendapatkan hibah di melalui aplikasi dan sistem BIMA sering disebabkan oleh status "tidak eligible" akibat masalah teknis sinkronisasi data Sister/PD Dikti, skor SINTA kurang, ketidaksesuaian jabatan fungsional, atau kelalaian administratif. Selain itu, proposal gugur karena substansi yang kurang kuat, tidak sesuai template, dan keterbatasan kuota. 

Akankah tahun depan pengajuan seperti ini akan terulang lagi, para pengambil keputusanlah yang tahu. Tetapi, rasa kecewa, kesal dan kapok yang dirasakan saat ini akankah berdampak pada semangat pengajuan tahun depan, kita lihat saja. Tentu kita tidak menginginkan penurunan minat terjadi. Oleh sebab itu perlu dilakukan antisipasi. Semoga ,,,*

 Penulis: Dr. Basril Basyar (Dosen Ilmu Penyuluhan, Komunikasi Pembangunan, Sosial Ekonomi di Fakultas Peternakan Universitas Andalas, dan Jurnalis Senior di Sumatera Barat)