Opini Dosen
- Details
Program Makan Bergizi Gratis (MBG), yang diluncurkan pemerintahan Prabowo Subianto pada awal 2025, hadir dengan janji besar untuk menyediakan makanan bergizi bagi 82 juta anak sekolah. Tujuannya sangat mulia yakni untuk membangun generasi sehat dan cerdas sebagai fondasi visi "Indonesia Emas." Lebih dari sekadar gizi, program ini menjadi simbol komitmen negara kepada anak-anaknya, dari Sabang hingga Merauke. Namun, harapan itu kini memudar di tengah kenyataan pahit. Lebih dari 7.000 anak dilaporkan keracunan setelah menyantap makanan dari program ini. Kasus terbaru di Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, di mana puluhan siswa dilarikan ke rumah sakit karena makanan yang diduga tak layak, menjadi bukti nyata kegagalan ini. Krisis ini bukan hanya soal kesehatan, tetapi juga guncangan terhadap kepercayaan masyarakat kepada pemerintah. Di balik piring sekolah yang dijanjikan bergizi, ada masalah pelaksanaan yang kurang tepat, pengelolaan yang belum optimal, dan kekhawatiran yang kini dirasakan orang tua di Indonesia.
- Details
Di ekosistem media sosial yang serba terhubung, terarsip, dan mudah ditelusuri, mahasiswa khususnya Generasi Z semakin sadar bahwa jejak digital bukan sekadar “postingan hari ini”, melainkan portofolio diri yang terus menempel. Dalam konteks inilah “akun kedua” (second account) hadir bukan sebagai pelarian, melainkan sebagai perangkat manajemen privasi: sebuah cara menata batas privat–publik agar identitas, peran sosial, dan relasi tetap terjaga. Jika akun utama berfungsi sebagai etalase rapi, representatif, dan ditujukan pada audiens luas (keluarga, dosen, rekan kerja, institusi) maka akun kedua adalah ruang terbatas dengan pengikut terkurasi, tempat pemilik akun menetapkan aturan berbagi sesuai kebutuhan dan nilai-nilai personal.
- Details
Gelombang demo besar-besaran terjadi di depan Gedung DPR RI pada 25 Agustus 2025 lalu. Aksi tuntutan ini juga turut meluas ke seluruh wilayah Indonesia. Kejadian ini merupakan buntut dari menyebarnya di media sosial isu terkait kenaikan tunjangan DPR yang menimbulkan kekecewaan bagi masyarakat. Tunjangan yang diberikan kepada DPR dinilai tidak sebanding dengan kinerja perwakilan rakyat yang dinilai tidak mewakili suara masyarakat kecil. Demonstran menuntut adanya pembubaran DPR serta pencabutan tunjangan yang dinilai berlebihan hingga mencapai Rp 100 juta per bulan. Padahal di sisi lain, banyak masyarakat Indonesia yang masih berada dalam garis kehidupan tidak layak dan belum mendapatkan perhatian dari pemerintah.
- Details
- Reputasi Global sebagai Cerminan Dampak Nasional
Pencapaian posisi elite dalam pemeringkatan universitas dunia seperti Quacquarelli Symonds (QS) World University Rankings dan Times Higher Education (THE) World University Rankings bukanlah tujuan yang terisolasi dari mandat utama sebuah institusi pendidikan tinggi. Sebaliknya, peringkat tersebut merupakan validasi eksternal yang paling sahih atas keberhasilan universitas dalam menjalankan misinya dan memberikan dampak nyata. Dokumen ini dikompilasi untuk menyelaraskan visi nasional "Kampus Berdampak" dengan metrik-metrik yang menjadi tolok ukur keunggulan global menurut QS dan THE. Pendekatan ini tidak berfokus pada upaya superfisial untuk menaikkan skor, melainkan pada penguatan fundamental institusi, yaitu mulai dari kualitas riset, relevansi lulusan, hingga reputasi internasional, yang secara organik akan mendorong universitas ke jajaran teratas dunia melalui aktifitas yang terjaga keberlanjutannya.
- Details
Stunting kerap kita jelaskan dengan bahasa teknis “kekurangan gizi kronis pada seribu hari pertama kehidupan” tetapi sesungguhnya ia juga masalah komunikasi dan pengambilan keputusan di dalam keluarga. Di banyak kampung, pembagian peran tradisional masih kuat: ayah dicitrakan sebagai pencari nafkah, ibu sebagai pengasuh. Pola posyandu yang hampir seluruh pesannya ditujukan kepada ibu tanpa sengaja ikut menguatkan sekat itu. Ibu datang, menerima banyak informasi, mengangguk sopan, lalu pulang dengan daftar saran yang harus dieksekusi di dapur. Sementara ayah, yang menentukan belanja mingguan dan sering mendapat porsi “terbaik” di meja makan, tidak mendengar pesan yang sama. Di titik inilah energi posyandu sering bocor: nasihat bergizi berhenti di kepala yang letih, tidak pernah berjumpa dengan dompet yang memutuskan mana yang dibeli.

