Dalam interaksi sosial sehari-hari, kita sering menyaksikan fenomena menarik: seseorang yang tiba-tiba bersikap defensif, marah, atau merasa diserang padahal tidak ada satu orang pun yang sedang menunjuk hidungnya. Di dalam kajian psikologi, fenomena ini kerap dikaitkan dengan guilt complex—suatu kondisi di mana rasa bersalah yang terpendam di alam bawah sadar memicu timbulnya rasa curiga dan prasangka berlebihan terhadap lingkungan sekitar.
Kopi Pagi dan Satu Keluhan
Selasa pagi, dua hari sebelum Sumatera Barat berulang tahun ke-81 pada 1 Oktober, saya mampir ke lapau Mak Etek. Di dinding sudah tertempel spanduk kecil bertuliskan tema tahun ini: "Sumbar Tumbuh, Sumbar Tangguh".
Suatu Jumat, saya berjanji bertemu dengan seorang pemuda penyedia jasa kebutuhan pribadi di kampus. Namun, ia baru tiba delapan menit sebelum azan Jumat berkumandang. Saya katakan padanya untuk menunda pertemuan hingga usai salat Jumat, lalu saya bergegas menuju salah satu masjid di lingkungan kampus.
Bayang-bayang tidak bisa dikejar. Ia melekat pada badan. Justru badanlah yang membuat bayang-bayang itu ada. Selama cahaya masih menerpa, bayang-bayang akan selalu mengikuti. Namun ketika gelap datang, bayang-bayang pun sirna.
Dalam historiografi pendidikan tinggi di Sumatera Barat, ada satu anekdot sejarah yang menggelitik logika: Universitas Andalas (UNAND) kini disebut berusia 70 tahun, sementara Universitas Negeri Padang (UNP) justru mengeklaim telah berusia 72 tahun.