Opini Dosen
- Details
Berbicara pembangunan tidaklah sekedar urusan proyek fisik atau infrastruktur seperti gedung dan jalan, melainkan ia adalah suatu proses yang kompleks. Di dalamnya ada dimensi sosial, ekonomi, dan politik. Salah satunya yang terpenting dalam proses ini ialah partisipatif, di mana manusia bukan hanya menjadi objek, melainkan juga sebagai subjek aktif yang terlibat dalam arah pembangunan atau kebijakan. Di Indonesia, demonstrasi selalu terjadi setiap tahunnya, yang kemudian menjadi salah satu bentuk paling nyata dari partisipasi publik dan membawa dampak terhadap arah kebijakan.
- Details
Di zaman ketika suara publik mengalir deras lewat media sosial, setiap pernyataan tokoh publik tak lagi sekadar ucapan. Ia menjadi cermin integritas, menjadi penanda kepemimpinan, dan sering kali juga menjadi sumber kepercayaan atau sebaliknya, kekecewaan. Tidak terkecuali bagi para pemimpin dan wakil rakyat yang setiap katanya ditunggu, dianalisis, bahkan diuji secara terbuka oleh masyarakat.
- Details
Di media sosial, kita sering melihat curhatan anak muda yang merasa masa depan di Indonesia suram. Belakangan, ungkapan #kaburajadulu ramai dipakai, mulai dari meme hingga video TikTok. Bagi sebagian orang, ini hanya guyonan. Namun jika dibaca lebih serius, tagar ini adalah cermin keresahan generasi muda sekaligus tanda meningkatnya fenomena brain drain arus keluarnya anak muda berpendidikan ke luar negeri.
- Details
Di era digital, panggung dakwah dan moralitas publik tidak lagi semata berada di masjid, forum pengajian, atau ruang-ruang institusional. Kini, media sosial telah menjelma menjadi arena utama untuk menyampaikan pesan-pesan religius, membangun afiliasi ideologis, dan menggerakkan komunitas berbasis emosi. Di Sumatera Barat—wilayah dengan akar budaya Islam yang kuat dan nilai lokal seperti Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah (ABS-SBK)—fenomena ini berlangsung secara khas dan terstruktur.
- Details
Beberapa tahun terakhir, kita sedang menyaksikan satu transformasi penting dalam cara anak muda Indonesia mengambil peran dalam kehidupan publik. Mereka tidak menunggu masuk organisasi, tidak menunggu usia cukup untuk mencalonkan diri di partai, atau berharap dilibatkan dalam forum-forum kebijakan. Mereka memilih jalur yang mereka kuasai ruang digital. Dari balik layar ponsel, mereka berbicara, menulis, membuat video, dan menyebarkan cerita. Tapi yang mereka lakukan bukan sekadar berbagi; mereka sedang menyusun perlawanan. Dan perlawanan itu datang dari tempat yang sangat manusiawi, pengalaman sehari-hari, rasa frustrasi, dan dorongan untuk didengar.

