Jika saja bumi ini datar, mungkin hidup kita jauh lebih sederhana. Kita bisa menetapkan satu waktu global yang seragam, tanpa perlu pusing memikirkan perbedaan zona waktu atau rotasi planet. Namun, realitasnya, Allāh menciptakan bumi dalam bentuk sferis—bulat. Konsekuensi dari bentuk geometris ini sangat mutlak: waktu matahari terbit dan terbenam akan selalu berbeda di setiap garis bujur. Ini bukan sekadar teori, melainkan hukum alam yang presisi dan tak terelakkan.

Dalam dunia teknik, khususnya dalam pemodelan sistem dinamika fluida yang saya tekuni, kondisi ini kita sebut sebagai unsteady state. Sistem ini adalah sistem yang dinamis; nilai-nilai variabel di dalamnya terus berubah seiring berjalannya waktu dan posisi. Kita menerima kenyataan bahwa waktu shalat, waktu berbuka, dan waktu imsak di Nanggalo tidak mungkin sama dengan di Mekkah. Kita menganggap perbedaan ini sebagai bagian dari keindahan kebesaran ciptaan Allāh yang memungkinkan manusia di seluruh penjuru bumi dapat beribadah sesuai dengan siklus lokalnya masing-masing.

Namun, di tengah kemajuan ilmu pengetahuan, muncul sebuah fenomena pemikiran yang cukup menggelitik, bahkan bisa saya sebut sebagai anomali intelektual. Ketika membicarakan hari Arafah, sebagian kelompok seolah menemukan sebuah novelty atau penemuan baru yang melanggar hukum alam tersebut. Mereka memaksakan narasi bahwa hari Arafah—dan wukuf di dalamnya—harus dimaknai sama secara jam, menit, dan detik, dengan apa yang terjadi di Arafah, Arab Saudi, meskipun lokasi kita terpaut jarak ribuan kilometer.

Jebakan Logika "Steady State"

Dalam logika matematika, kelompok ini seolah sedang mencoba memaksa sistem yang seharusnya unsteady state menjadi steady state—sebuah sistem yang dipaksakan statis, kaku, dan tidak berubah. Mereka ingin menyamakan detik waktu di Nanggalo dengan detik waktu di Arafah.

Bayangkan betapa absurdnya praktik ini jika kita bawa ke ranah logis: saat jemaah haji sedang wukuf di Arafah di bawah terik matahari siang, sebagian orang di Indonesia—yang saat itu sudah memasuki waktu petang atau malam—ikut-ikutan melakukan "wukuf" atau berpuasa dengan mengacu pada jam yang sama di Arab Saudi. Bukankah ini sama saja dengan memaksakan jarum jam untuk berhenti, padahal bumi terus berputar pada porosnya?

Memaksakan waktu serentak di atas permukaan bumi yang bundar bukanlah bentuk ketaatan yang lebih tinggi. Sebaliknya, ini adalah sebuah tindakan yang mengabaikan hukum fisika. Tuhan tidak pernah meminta manusia untuk mengabaikan nalar untuk mencapai ketaatan. Justru, akal budi adalah instrumen utama untuk memahami Sunnatullāh—hukum-hukum Allah yang terbentang di alam semesta.

Agama dan Nalar yang Sejalan

Kekeliruan ini sering kali berakar dari ketidakmampuan membedakan antara "Hari Arafah" sebagai penanggalan kalender dan "Waktu Arafah" sebagai fenomena geografis. Hari Arafah adalah tanggal 9 Dzulhijjah dalam sistem penanggalan Hijriah. Penentuan tanggal ini memang mengacu pada rukyatul hilal yang bisa jadi berbeda di setiap wilayah (mathali'). Sementara wukuf adalah ibadah fisik yang terikat secara ketat pada lokasi geografis di Padang Arafah. Menggabungkan keduanya dengan cara menyamakan jam adalah sebuah kekeliruan fundamental dalam memahami hubungan antara ruang dan waktu.

Lebih jauh lagi, kegigihan kelompok ini untuk memaksakan "wukuf serentak" sering kali didasari oleh perasaan—sebuah keinginan emosional untuk merasa "bersatu" dengan jemaah haji. Namun, dalam beragama, perasaan sering kali harus tunduk pada syariat dan data. Mengikuti waktu setempat bagi umat Islam di luar Saudi adalah bentuk ketaatan terhadap sistem penanggalan yang berlaku di wilayahnya. Ini justru menunjukkan kedewasaan kita dalam memahami bahwa Islam adalah agama yang universal namun implementasinya membumi.

Kembali ke "Sunnatullāh"

Sebagai masyarakat akademis, kita memiliki tanggung jawab moral untuk meluruskan pemahaman ini. Kita harus berani menyuarakan bahwa beragama itu harus didasari oleh ilmu, bukan sekadar ikut-ikutan atau menuruti rasa emosional yang melanggar logika. Memaksakan waktu yang sama di lokasi yang berbeda bujur, pada dasarnya adalah tindakan menolak realitas bahwa kita hidup di bumi yang bundar.

Sains tidak pernah memusuhi agama. Justru, pemahaman akan geometri bumi dan sistem waktu yang dinamis seharusnya membuat kita semakin tunduk pada kebesaran-Nya. Allāh menciptakan perbedaan waktu sebagai tanda kebesaran agar kita bisa mengukur presisi ibadah. Perbedaan zona waktu adalah bukti bahwa Allāh menciptakan alam ini dengan hukum yang sangat konsisten, tidak tumpang tindih, dan dapat dihitung dengan akurasi yang luar biasa.

Mari kita sudahi praktik "wukuf serentak" yang didasarkan pada kekeliruan pemahaman waktu ini. Mari kita kembali pada nalar yang sehat. Beribadahlah sesuai dengan waktu yang berlaku di tempat kita berpijak, sembari tetap mendoakan saudara-saudara kita yang sedang menunaikan ibadah haji. Tidak perlu memaksakan keseragaman jam yang justru mencederai logika sains. Sebab pada akhirnya, ketaatan yang paling murni adalah ketaatan yang lahir dari pemahaman yang jernih, bukan dari ego yang memaksakan kehendak melawan hukum alam ciptaan-Nya.

Penulis: Prof. Mas Mera (Dosen FT UNAND)