Kritik sering kali dipandang sebagai sesuatu yang negatif. Orang yang banyak mengkritik mudah diberi label sebagai pesimis, sulit puas, suka mencari kesalahan, atau bahkan dianggap sebagai pribadi yang toksik. Padahal, institusi yang ingin berkembang membutuhkan orang-orang yang berani menunjukkan kelemahan. Hubungan yang dewasa pun membutuhkan keberanian untuk mengatakan bahwa sesuatu tidak benar.
Bahkan dalam perkembangan pribadi, seseorang tidak mungkin bertumbuh tanpa kemampuan menerima dan memberikan koreksi. Persoalannya bukan apakah seseorang mengkritik, melainkan mengapa ia mengkritik, apa yang ia kritik, bagaimana ia menyampaikannya, dan apa yang dilakukannya setelah kritik itu disampaikan.
Kritik yang objektif menjadi bentuk kepedulian karena di dalamnya terdapat keinginan agar sesuatu menjadi lebih baik. Sebaliknya, kritik yang terus-menerus, personal, sinis, dan tidak pernah disertai gagasan perbaikan dapat menjadi sesuatu yang sangat berbeda. Kita perlu membedakan kapan kita kritis yang objektif memperbaiki dan kapan kita mengkritik hanya untuk memperlihatkan ekistensi diri.
Kritik sebagai Bentuk Kepedulian
Kritik yang sehat memiliki objek yang jelas, yang berbicara tentang keputusan, kebijakan, perilaku, data, proses, atau hasil. Kritik ini masih mungkin diperdebatkan, bahkan mungkin terbukti salah, namun kita yang menyampaikannya tetap membuka ruang untuk koreksi. Kita tidak merasa harga diri runtuh hanya karena pendapat kita ditolak. Kita dapat berkata, “Mungkin analisis saya keliru; mari kita lihat datanya.” Di sana terdapat kerendahan hati, yakni kesediaan mengakui bahwa kita tidak mengetahui seluruh kebenarannya.
Begitu juga halnya dalam hubungan sosial, kritik yang objektif justru merupakan salah satu bentuk perhatian. Ketika kita memberikan kritik yang jujur kepada seseorang, sesungguhnya kita menganggap orang tersebut cukup penting untuk menerima kebenaran dari kita.
Kita dapat memilih diam. Kita dapat membiarkan kesalahan berlangsung. Kita mungkin dapat mengatakan, “itu urusannya.” Akan tetapi ketika kita mengambil waktu untuk memahami masalah, mengumpulkan fakta, kemudian menyampaikan keberatan dengan argumentasi yang rasional, terdapat energi kepedulian di dalam tindakan tersebut.
Dalam kerangka pemikiran Jürgen Habermas, komunikasi yang sehat tidak diarahkan untuk memenangkan pertarungan melainkan mencapai pemahaman bersama. Kritik yang rasional menjadi bagian dari komunikasi semacam itu karena masing-masing pihak diperlakukan sebagai subjek yang mampu berpikir. Kritik bukan senjata untuk mendominasi tetapi sama-sama memeriksa kembali sebuah tindakan.
Seorang dosen yang mengatakan kepada mahasiswa bahwa metodologi penelitiannya lemah tidak sedang merendahkan mahasiswa apabila kritik tersebut disertai alasan dan jalan perbaikan. Seorang yang mengatakan bahwa sebuah kebijakan organisasi memiliki kelemahan tidak otomatis sedang menjadi pengganggu organisasi.
Seorang sahabat yang mengatakan bahwa keputusan kita mungkin keliru tidak berarti ia tidak mendukung kita. Kepedulian tidak selalu berbentuk pujian, kadang kepedulian berbentuk kalimat yang tidak nyaman didengar.
Kritik Sebagai Pertahanan Ego
Kritik yang objektif sangat berbeda dengan kritik yang menjadi mekanisme ego. Kritik sebagai pertahanan ego tidak lagi bertanya, “Apa yang salah dan bagaimana memperbaikinya?”, tetapi secara tersembunyi bertanya, “Bagaimana saya dapat merasa lebih benar daripada orang lain?”
Orang seperti ini dapat terlihat sangat intelektual, sangat berani, bahkan seolah sangat jujur. Ia mungkin sering mengatakan, “Saya hanya menyampaikan fakta,” “Saya memang orangnya blak-blakan,” atau “Kalau tidak kuat dikritik, jangan bekerja di tempat umum.”
Kejujuran tidak pernah identik dengan kekasaran. Kebenaran dan kejujuran disampaikan tanpa penghinaan. Ketegasan tidak mengharuskan seseorang merendahkan, dan keberanian berbicara tidak otomatis bisa menjadikan perkataannya benar.
Perhatikan seseorang yang setiap hari menemukan kesalahan organisasi. Ketika program berhasil, ia mengatakan keberhasilan itu biasa saja. Ketika program gagal, ia segera muncul dengan kalimat, “Saya sudah bilang dari awal.” Ketika pimpinan mengambil keputusan A, ia mengkritik. Ketika keputusan diubah menjadi B karena kritiknya, ia tetap mengkritik. Ketika orang lain mendapatkan penghargaan, ia mencari kelemahannya. Ketika seseorang berhasil, ia menemukan alasan mengapa keberhasilan itu tidak layak dibanggakan.
Seseorang dapat benar dalam satu kritik dan tetap memiliki pola kritik yang tidak sehat. Fakta bahwa kritiknya kadang benar tidak otomatis membuat motifnya sehat. Orang yang selalu menunjukkan kesalahan orang lain pada akhirnya mungkin bukan sedang memperjuangkan kualitas, tetapi sedang mempertahankan “Posisi sebagai orang yang paling tahu, paling sadar, paling kritis, atau bahkan merasa paling bermoral.”
Inilah kritik toksik pertahanan ego yang dapat tumbuh dari kerapuhan. Dalam psikologi Alfred Adler, perasaan inferior dapat mendorong seseorang melakukan kompensasi berlebihan. Seseorang yang merasa dirinya kurang lalu berusaha menciptakan perasaan superior sebagai cara mengatasi ketidaknyamanan tersebut.
Contohnya, seorang mahasiswaa yang tidak pernah berprestasi dan tidak berkarya bisa saja paling kritis terhadap setiap ada karya dan prestasi-prestasi mahasiswa lain yang diumumkan. Contoh ini menunjukkan fenomena kritik sangat menarik secara neuropsikologi. Seseorang tidak perlu memiliki prestasi besar untuk merasa superior. Ia cukup menemukan kesalahan orang lain: “Jika saya tidak memiliki sesuatu yang membuat saya bangga, setidaknya saya dapat menemukan sesuatu yang membuat orang lain terlihat buruk.”
Inilah salah satu bentuk pertahanan ego yang paling sederhana sekaligus paling sulit dikenali. Orang tersebut mungkin tidak pernah mengatakan, “Saya lebih hebat daripada.” Pesan itu disampaikan melalui perilakunya, yang ia selalu mengoreksi, meremehkan, membandingkan, menyindir, dan membongkar kelemahan orang lain. Superioritas dibangun bukan melalui pencapaian, melainkan melalui penurunan nilai orang lain.
Mengaku Jujur Tidak Selalu Berarti Objektif
Salah satu bentuk yang paling sulit dikenali adalah apa yang dapat disebut sebagai brutal honesty, yakni kejujuran yang digunakan sebagai legitimasi untuk mengatakan apa pun tanpa mempertimbangkan dampaknya.
Kebenaran membutuhkan akurasi dan integritas. Keduanya juga membutuhkan kebijaksanaan ketika digunakan dalam hubungan manusia. Jika seseorang berkata, “Saya hanya jujur,” tetapi selalu memilih kata-kata yang paling menyakitkan, selalu menyerang pribadi, tidak pernah memberikan solusi, dan menikmati ketidaknyamanan orang lain, maka persoalannya mungkin bukan keberanian mengatakan kebenaran. Bisa jadi “Ia sedang menikmati posisi psikolgis berkuasa yang bersembunyi dibalik nasehat yang jujur.”
Perilaku kritik toksik ini juga tidak selalu berasal dari rasa superioritas ini. Sebagian muncul dari tekanan yang tidak terselesaikan. Seseorang yang terus-menerus ditekan, mengalami konflik keluarga, merasa tidak dihargai, atau hidup dalam kecemasan berkepanjangan dapat membawa beban emosional tersebut ke ruang lain. Ia mungkin tidak berani melawan sumber masalah yang sebenarnya karena sumber tersebut memiliki kekuasaan lebih besar. Akibatnya, emosi dialihkan kepada target yang lebih aman. Inilah yang dikenal dalam neuropsikologi sebagai displacement.
Seorang karyawan dimarahi atasannya, tetapi tidak mampu membalas. Ia pulang dan menjadi kasar kepada pasangan. Jika pasangan tidak dapat menjadi sasaran, lalu kemarahan berpindah kepada anak. Bentuk yang lebih halusnya, tekanan yang sama dapat muncul sebagai komentar sinis terhadap organisasi, kolega, masyarakat, atau siapa pun yang tersedia sebagai sasaran.
Perspektif kognitif Aaron Beck juga membantu memahami fenomena ini. Tekanan yang berkepanjangan dapat memperkuat skema negatif dan membuat seseorang lebih mudah memperhatikan informasi yang sesuai dengan keyakinan negatifnya. Ia kemudian mengembangkan mental filter “Kebaikan dan keberhasilan menjadi tidak terlihat, sementara kegagalan menjadi sangat menonjol.”
Jalan Keluar dari Kritikus Palsu
Kritik objektif merupakan nasihat yang lahir dari cinta, kebenaran, dan keinginan untuk memperbaiki. Sebagaimana dalam Islam, kritik pada dasarnya nasihat merupakan bagian dari agama, sebagaimana sabda Rasulullah s.a.w. “Ad-diinu an-naṣiḥah” (Agama adalah nasihat [HR. Muslim, hadits arbain an-Nawawiyah ke-7]). Namun, kritik hanya akan menjadi nasehat jika berada dalam koridor yang tepat.
Pertama: Nasihat yang benar lahir dari kepedulian terhadap kebaikan (ishlah), bukan dari keinginan untuk menunjukkan bahwa diri kita lebih benar. Kritik yang meruakan nasehat tidak dimaksudkan untuk memenangkan perdebatan, mempermalukan seseorang, atau mempertontonkan kesalehan pemberi nasihat, melainkan untuk membantu seseorang melihat kekeliruan yang mungkin tidak ia sadari dan memberinya kesempatan untuk memperbaikinya.
Kedua: Kritik objektif harus berdiri di atas kebenaran atau fakta. Seorang Muslim tidak boleh membangun kritik dari prasangka, kabar yang belum diperiksa, atau kesimpulan berdasarkan emosi pribadi. Sebagaimana prinsip tabayyun (QS. Al-Hujurat [49]:6) mengajarkan bahwa informasi harus diperiksa sebelum dijadikan dasar untuk menilai atau menyalahkan seseorang. Orang yang benar-benar berniat menasihati akan berhati-hati membedakan antara “Saya mengetahui bahwa ini salah” dan “Saya merasa bahwa ini salah.”
Ketiga: Fakta dan data yang benar saja tidak cukup menjadikan sebuah kritik itu baik dan menjadi sebuh nasehat, namun cara penyampaian lebih menentukan.
Allah s.w.t. bahkan memerintahkan Nabi Musa dan Nabi Harun untuk berbicara kepada Fir'aun dengan qaulan layyinan, perkataan yang lemah lembut (QS. Thaha [20]: 44). Pelajarannya, jika terhadap Fir'aun yang telah melampaui batas saja kelembutan tetap diperintahkan, maka seorang Muslim tentu lebih patut menjaga kelembutan ketika menasihati saudaranya.
Nasihat yang baik memperhitungkan waktu, kondisi psikologis, dan tempat yang tepat. Ia tidak menjadikan kelemahan seseorang sebagai tontonan publik. Sebab, tujuan nasihat adalah membuka pintu perubahan, bukan menutup pintu harga diri. Kita dapat mengaitkannya dengan prinsip Imam Al-Syafi'i, yakni nasihat yang diberikan secara rahasia merupakan bentuk kepedulian, sedangkan teguran di hadapan orang banyak mudah berubah menjadi penghinaan.
Jika saya melihat ketidakbenaran atasaan saya atau ketidakkonsistenan sahabat saya maka nasehat dan kritik objektif adalah menyampaikannya secara baik dan langsung kepadanya, dan berikan alternatif solusi. Namun, jika saya tidak menyampaikan kepadanya, justru menceritakan kepada orang lain atau bahkan mengumbar di berbagai percakapan dan media daring: sungguh yang saya lakukan bukanlah nasehat tetapi merendahkan.
Keempat: Kritik objektif fokus pada persoalan dan mencari solusi, bukan menyerang kehormatan pribadi. Jika ada yang dikoreksi, maka yang dikoreksi adalah keputusan, argumen, atau tindakan yang ada bermasalah, bukan karakter, harga diri, atau masa lalu seseorang.
Kalimat seperti “Keputusan ini memiliki kelemahan karena...” masih berada dalam wilayah kritik konstruktif; tetapi ketika berubah menjadi “Memang kamu dari dulu tidak pernah becus,” memperlihatkan kritik telah bergeser menjadi serangan terhadap pribadi. Dalam perspektif Islam, pergeseran ini bukan sekadar persoalan gaya komunikasi, tetapi persoalan akhlak.
Memang nasihat objektif tidak harus selalu menyenangkan, tetapi harus menyelamatkan. Ia boleh tegas, bahkan boleh menunjukkan kesalahan dengan jelas, tetapi ketegasan itu tidak boleh berubah menjadi penghinaan.
Kita yang memberi nasihat juga harus menyadari bahwa kita bukan hakim atas keseluruhan pribadi orang lain atau sebuah institusi, karena boleh jadi kita juga tidak tahu gambaran utuhnya. Sikap seperti inilah yang membuat kritik tetap berada dalam wilayah nasihah, yakni ada kebenaran yang disampaikan, maslahat yang mendasarinya, dan ada harapan agar menjadi lebih baik. Semoga!
Penulis: Prof. Hardisman (Guru Besar FK UNAND)
