Bayangkan seorang lansia datang ke rumah sakit. Ia ingin berobat seperti biasa. Namun, ketika sampai di loket, petugas memintanya melakukan pendaftaran melalui aplikasi. Ia memegang telepon genggam, mencoba menekan beberapa tombol, tetapi tidak tahu harus mulai dari mana. Di belakangnya antrean semakin panjang. Pada akhirnya, ia meminta bantuan orang yang lebih muda. Bagi sebagian orang, kejadian seperti ini mungkin sederhana. Namun bagi seorang lansia, pengalaman tersebut dapat meninggalkan pesan yang jauh lebih dalam: dunia telah berubah, sementara dirinya merasa semakin sulit untuk mengikutinya.
Persoalan ini menjadi semakin penting ketika kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) mulai memasuki hampir seluruh aspek kehidupan. AI hadir dalam layanan kesehatan, perbankan, pendidikan, transportasi, pelayanan publik, hingga komunikasi sehari-hari. Pertanyaannya kemudian bukan lagi apakah AI akan mengubah kehidupan manusia. Jawabannya sudah jelas: iya.
Pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah semua manusia akan mendapatkan manfaat dari perubahan tersebut, termasuk mereka yang telah memasuki usia lanjut?. Pada 1 Oktober 2026, dunia memperingati Hari Lanjut Usia Internasional dengan tema “The Age of Longevity: Rethinking Systems for Longer Lives.” Tema tersebut mengajak dunia memikirkan kembali bagaimana sistem sosial, ekonomi, kesehatan, pekerjaan, dan pembelajaran harus disiapkan untuk kehidupan manusia yang semakin panjang. PBB mencatat bahwa jumlah penduduk dunia berusia 60 tahun ke atas diproyeksikan meningkat dari 1.20 miliar menjadi 2.10 miliar pada 2050.
Indonesia pun menghadapi perubahan demografis yang sama. Data SUPAS 2025 dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa penduduk berusia lanjut telah mencapai 11.97 persen dari total penduduk Indonesia. Angka tersebut menegaskan bahwa Indonesia telah memasuki fase ageing population. Ini sebenarnya adalah kabar baik. Manusia hidup lebih lama karena kesehatan, ilmu pengetahuan, teknologi, dan kualitas hidup yang semakin baik. Namun, hidup lebih lama tidak otomatis berarti hidup lebih baik. Di sinilah tantangan AI dimulai.
Ketika Dunia Berubah Lebih Cepat daripada Kemampuan Beradaptasi
Bagi generasi muda, memesan makanan melalui aplikasi, melakukan pembayaran digital, berkonsultasi dengan dokter secara daring, menggunakan chatbot, atau bertanya kepada ChatGPT mungkin merupakan aktivitas sehari-hari. Tetapi bagi sebagian lansia, teknologi yang sama dapat menjadi sumber kecemasan. Ketika pelayanan publik semakin terdigitalisasi, seseorang yang tidak mampu menggunakan teknologi berisiko kehilangan akses terhadap layanan yang seharusnya menjadi haknya. Jika pendaftaran rumah sakit dilakukan secara daring, perbankan semakin bergantung pada aplikasi, informasi pemerintah tersedia terutama melalui platform digital, dan berbagai transaksi dilakukan tanpa uang tunai, maka ketidakmampuan menggunakan teknologi bukan lagi sekadar persoalan keterampilan. Ia dapat berubah menjadi persoalan sosial.
AI Seharusnya Menjadi Alat Bantu, Bukan Penghalang
Kita tidak boleh melihat lansia semata-mata sebagai kelompok yang harus "diajari teknologi". Cara pandang tersebut terlalu sederhana. Lansia bukan sekadar pengguna teknologi. Mereka adalah manusia yang memiliki pengalaman, pengetahuan, nilai, dan kontribusi sosial yang panjang. AI justru dapat membantu memperkuat kemandirian mereka. Perangkat pintar, misalnya, dapat membantu mengingatkan jadwal minum obat, memantau kondisi kesehatan, membantu aktivitas sehari-hari, atau memberikan informasi yang lebih mudah diakses. Dalam bidang kesehatan, WHO menyebut AI memiliki potensi membantu memprediksi risiko kesehatan, mendukung pengelolaan perawatan, dan meningkatkan kualitas layanan bagi orang lanjut usia.
AI juga dapat menjadi jembatan komunikasi. Seorang lansia yang kesulitan mengetik dapat menggunakan perintah suara. Mereka dapat bertanya menggunakan bahasa sehari-hari dan memperoleh jawaban tanpa harus memahami istilah teknis. Teknologi penerjemah suara, pengenalan ucapan, dan asisten digital juga dapat membantu lansia tetap terhubung dengan keluarga dan lingkungan sosialnya. Namun, ada satu prinsip yang harus dijaga: AI harus dirancang untuk membantu lansia, bukan memaksa lansia mengikuti cara kerja mesin. Teknologi yang baik seharusnya menyesuaikan diri dengan manusia dan bukan sebaliknya.
Jangan Sampai AI Memperkuat Ageisme
Ada persoalan lain yang sering luput dibicarakan: ageism atau diskriminasi berdasarkan usia. WHO telah mengingatkan bahwa AI dapat memperkuat bias terhadap kelompok lanjut usia apabila data, desain, dan proses pengembangannya tidak mempertimbangkan kebutuhan mereka. Bahkan, AI yang dibangun tanpa melibatkan lansia dapat menghasilkan sistem yang tidak sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik mereka. Karena itu, lansia jangan hanya dijadikan objek penelitian. Mereka harus dilibatkan sebagai pengguna, pemberi masukan, bahkan sebagai bagian dari proses perancangan teknologi. Ketika sebuah aplikasi kesehatan untuk lansia dirancang tanpa pernah bertanya kepada lansia bagaimana mereka membaca teks di layar, bagaimana mereka memahami menu, bagaimana mereka mendengar suara notifikasi, atau bagaimana mereka merasa aman ketika menggunakan aplikasi, maka teknologi tersebut sejak awal telah memiliki masalah desain. Kita membutuhkan prinsip sederhana: nothing about older persons without older persons. Tidak boleh ada teknologi untuk lansia yang sepenuhnya dirancang tanpa mendengarkan suara lansia.
Ancaman Baru: Ketika AI Dipakai untuk Menipu Lansia
Di sisi lain, AI juga menghadirkan risiko baru. Teknologi deepfake dan voice cloning memungkinkan suara dan wajah seseorang direkayasa dengan tingkat kemiripan yang semakin tinggi. Penipuan dapat dilakukan dengan mengaku sebagai anak atau cucu yang sedang mengalami keadaan darurat dan membutuhkan uang.
Bagi lansia yang belum memiliki literasi digital memadai, situasi seperti ini sangat berbahaya. Naskah awal juga menempatkan deepfake dan voice cloning sebagai salah satu ancaman yang perlu diantisipasi melalui peningkatan literasi digital. Karena itu, mengajarkan AI kepada lansia tidak cukup hanya dengan mengajari cara menggunakan ChatGPT atau aplikasi tertentu. Jauh lebih penting adalah mengajarkan cara berpikir kritis di era AI.
Keluarga Tidak Boleh Hanya Mengambil Alih
Ada satu kebiasaan yang perlu kita ubah. Ketika orang tua kesulitan menggunakan telepon pintar, anak sering kali langsung mengambil telepon tersebut dan menyelesaikan semuanya. Cepat memang.Tetapi tidak selalu mendidik. Jika setiap kali orang tua mengalami kesulitan kita mengambil alih, maka ketergantungan justru semakin besar. Yang dibutuhkan lansia bukan sekadar seseorang yang mengerjakan semuanya untuk mereka, tetapi seseorang yang bersedia mendampingi sampai mereka mampu melakukannya sendiri. Sabar adalah teknologi yang sering kali paling dibutuhkan. Anak-anak perlu mengajarkan orang tuanya bagaimana menggunakan aplikasi kesehatan, melakukan pembayaran digital, mengenali penipuan, menggunakan mesin pencari, melakukan panggilan video, dan memanfaatkan AI secara aman. Bukan sekali tetapi berulang kali. Sebab belajar teknologi pada usia lanjut bukan perlombaan.
Pemerintah dan Industri Juga Harus Bertanggung Jawab
Tanggung jawab tidak boleh dibebankan kepada lansia dan keluarga semata. Pemerintah perlu memastikan transformasi digital tetap menyediakan jalur layanan yang ramah bagi masyarakat yang belum mampu menggunakan teknologi. Digitalisasi tidak boleh berarti menghapus seluruh layanan manusia. Di sisi lain, perusahaan teknologi perlu menerapkan prinsip age-friendly design: huruf yang mudah dibaca, menu sederhana, instruksi yang jelas, suara yang dapat disesuaikan, mekanisme verifikasi yang aman, serta bantuan manusia ketika pengguna mengalami kesulitan.
Pelatihan digital lansia juga perlu diperluas melalui komunitas, posyandu lansia, perguruan tinggi, organisasi masyarakat, rumah ibadah, dan lingkungan keluarga. Gagasan ini sejalan dengan naskah awal yang menempatkan pemerintah, perusahaan teknologi, dan keluarga sebagai tiga aktor penting dalam membangun inklusi digital lansia. Perguruan tinggi pun dapat memainkan peran penting. Mahasiswa dapat menjadi pendamping digital bagi lansia melalui program pengabdian masyarakat. Bukan sekadar mengajari cara menggunakan aplikasi, tetapi membangun budaya interaksi antargenerasi.
Jangan Jadikan Lansia Penonton Revolusi AI
Ada kesalahan cara pandang yang harus kita tinggalkan: menganggap lansia sebagai generasi masa lalu. Justru di tengah revolusi AI, pengalaman mereka semakin berharga.
AI memiliki kemampuan menghitung, mengenali pola, menghasilkan teks, menganalisis data, dan memproses informasi dalam jumlah besar. Tetapi AI tidak memiliki pengalaman hidup manusia. Seorang lansia mungkin tidak memahami cara kerja model bahasa besar. Namun ia memiliki pengalaman menghadapi kehidupan selama puluhan tahun. Ia tahu bagaimana keluarga bertahan dalam kesulitan, bagaimana masyarakat membangun kepercayaan, bagaimana keputusan memiliki konsekuensi, dan bagaimana nilai kemanusiaan harus dijaga.
Karena itu, masa depan bukan tentang manusia muda melawan manusia tua. Masa depan adalah tentang manusia lintas generasi yang bekerja bersama dengan teknologi. Kita membutuhkan AI yang membuat lansia lebih mandiri, bukan lebih tergantung. AI yang membuat mereka lebih terhubung, bukan semakin terisolasi. AI yang memperkuat kesehatan dan keselamatan mereka, bukan mengeksploitasi kerentanan mereka. Hari Lanjut Usia Internasional 2026 seharusnya menjadi momentum untuk mengubah pertanyaan kita.
Bukan lagi :
"Apakah lansia mampu mengikuti perkembangan teknologi?"
Tetapi :
"Apakah teknologi sudah cukup manusiawi untuk melibatkan lansia?"
Sebab keberhasilan transformasi digital tidak seharusnya diukur dari berapa banyak aplikasi yang berhasil kita ciptakan, seberapa canggih AI yang kita bangun, atau seberapa cepat masyarakat mengadopsinya. Ukuran yang lebih penting adalah apakah teknologi membuat kehidupan manusia menjadi lebih baik. Termasuk kehidupan mereka yang telah memasuki usia senja. Jangan biarkan lansia menjadi penonton ketika revolusi AI berlangsung.
Biarkan mereka ikut belajar, ikut menggunakan, ikut memberikan pengalaman, ikut menentukan arah, dan ikut menikmati manfaatnya. Sebab umur yang panjang seharusnya bukan hanya tentang lebih banyak tahun dalam kehidupan, tetapi juga tentang lebih banyak kehidupan dalam setiap tahun. Dan teknologi yang benar-benar maju bukanlah teknologi yang hanya membuat mesin semakin pintar. Teknologi yang benar-benar maju adalah teknologi yang membuat semakin banyak manusia dapat hidup sehat, mandiri, aman, produktif, dan bermartabat pada usia berapa pun.
Penulis: Queen Hesti Ramadhamy (Departemen Teknik Elektro – Fakultas Teknik Universitas Andalas)
