"Papan hasil lelang karet di Sembawa, Sumatera Selatan, menunjukkan harga penawaran tertinggi mencapai Rp21.289 per kilogram pada awal Juni 2026. Kenaikan harga yang terjadi sejalan dengan meningkatnya ketidakpastian global akibat eskalasi konflik Timur Tengah mengingatkan pada pola siklus komoditas yang pernah dijelaskan dalam Benner Cycle. Bagi petani karet Indonesia, momentum ini dapat menjadi peluang emas untuk meningkatkan pendapatan dan memperkuat daya saing sektor perkebunan rakyat."
Read more: Benner Cycle, Konflik Timur Tengah, dan Peluang Emas Petani Karet
Coba ingat kembali: kapan terakhir kali Anda menyaksikan sebuah unggahan membelah linimasa menjadi dua kubu yang saling serang? Mungkin kemarin. Mungkin beberapa jam lalu. Polanya selalu terasa familiar, sebuah video beredar, judul yang provokatif, dan dalam dua jam kolom komentar sudah penuh sesak. Sebagian besar bukan berisi pertanyaan, melainkan vonis. Belum ada klarifikasi, belum ada investigasi, tetapi ribuan orang sudah menentukan siapa penjahatnya. Yang menarik bukan hanya betapa cepatnya ini terjadi, tapi juga betapa wajarnya semua ini terasa. Tidak ada yang merasa sedang melakukan sesuatu yang salah. Semua orang merasa sedang berada di sisi yang benar.
Setelah lama tidak, majalah Tempo pada Juni lalu kembali menerbitkan edisi biografi tokoh bangsa. Kali ini mengangkat dan menyoroti Sumitro Djojohadikusumo (1917-2001), ayah Presiden Prabowo Subianto, dengan judul sampul “Ekonom Pemberontak.” Tidak hanya membahas pemikiran dan kontribusi Sumitro di bidang ekonomi, tetapi juga menyoroti berbagai peran dan sepak terjang sang tokoh dalam sejarah politik Indonesia.
Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence atau AI) dalam beberapa tahun terakhir telah membawa perubahan besar dalam berbagai bidang, termasuk dunia pendidikan dan penelitian. Kehadiran aplikasi berbasis AI generatif seperti ChatGPT, Gemini, Claude, Copilot, dan berbagai platform serupa memberikan kemudahan bagi peneliti dalam mencari informasi, merangkum literatur, membantu analisis data, hingga menyusun draft tulisan ilmiah. AI telah menjadi asisten digital yang mampu meningkatkan produktivitas dan efisiensi kerja akademik.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita berkomunikasi begitu sering hingga kadang melupakan satu hal sederhana yang sangat menentukan, yaitu waktu. Kita sibuk memikirkan apa yang akan disampaikan, bagaimana menyusun kalimat yang tepat, dan media apa yang akan digunakan. Namun, sering kali kita lupa mempertimbangkan kapan pesan itu dikirim. Padahal, dalam banyak situasi, waktu pengiriman pesan sama pentingnya dengan isi pesan itu sendiri.