Bayangkan seorang lansia datang ke rumah sakit. Ia ingin berobat seperti biasa. Namun, ketika sampai di loket, petugas memintanya melakukan pendaftaran melalui aplikasi. Ia memegang telepon genggam, mencoba menekan beberapa tombol, tetapi tidak tahu harus mulai dari mana. Di belakangnya antrean semakin panjang. Pada akhirnya, ia meminta bantuan orang yang lebih muda. Bagi sebagian orang, kejadian seperti ini mungkin sederhana. Namun bagi seorang lansia, pengalaman tersebut dapat meninggalkan pesan yang jauh lebih dalam: dunia telah berubah, sementara dirinya merasa semakin sulit untuk mengikutinya.
Kritik sering kali dipandang sebagai sesuatu yang negatif. Orang yang banyak mengkritik mudah diberi label sebagai pesimis, sulit puas, suka mencari kesalahan, atau bahkan dianggap sebagai pribadi yang toksik. Padahal, institusi yang ingin berkembang membutuhkan orang-orang yang berani menunjukkan kelemahan. Hubungan yang dewasa pun membutuhkan keberanian untuk mengatakan bahwa sesuatu tidak benar.
Read more: Batas Tipis Peduli dengan Kritik Toksik dalam Kacamata Neuropsikologi
“Kuliah sekarang lucu banget. Bayar puluhan juta buat lihat dosen bikin materi pakai AI, mahasiswa bikin tugas pakai AI, tanya jawab dibantu AI, belajar pun akhirnya ke AI. Jadi, yang dibayar mahal itu apa?”
“Di tengah gempuran perdagangan digital dan kemudahan belanja dari layar gawai, toko ritel fisik sebenarnya masih memegang satu senjata rahasia yang tidak akan pernah bisa ditiru oleh dunia maya: pengalaman sensorik langsung”.
Read more: Harmoni Sensorik: Seni Menyapa Lima Indra di Ruang Ritel
Pernahkah Anda menulis keluhan di media sosial setelah membeli barang yang rusak atau pelayanan yang mengecewakan? Awalnya marah. Lalu setelah semua ditumpahkan; produknya buruk, petugasnya lambat, dan perusahaan seolah-olah tidak peduli; konsumen lainpun ikut menyahut tanda setuju. Ada yang mengalami nasib serupa. Ada pula yang menawarkan jalan keluar.