Kesyahidan Ali Khamenei Melawan Hegemoni Global
Konsep kesyahidan dalam Islam bukanlah sekadar kematian di medan perang, melainkan sebuah puncak pengabdian yang berkelindan dengan falsafah pergerakan Islam untuk menegakkan kebenaran. Dalam buku Falsafah Pergerakan Islam (1988) karya Murtadha Muthahhari, pergerakan Islam dijelaskan memiliki landasan filosofis yang membedakannya dari gerakan materialis atau liberalis. Muthahhari menekankan bahwa nilai-nilai ketauhidan menjadi penggerak utama perubahan sosial, di mana kesyahidan dipandang sebagai suntikan semangat baru ke dalam tubuh masyarakat yang memberikan energi spiritual ilahiah untuk melawan kezaliman apa pun dan di mana pun.
Falsafah pergerakan Islam senantiasa merujuk pada Revolusi Ashura sebagai model sempurna perlawanan. Dalam buku Mereka Meluruskan Revolusi Ashura yang ditulis Mutahhari, Hussein Fadlullah dan Syari’ati ditegaskan bahwa syahadah Imam Husain di Karbala bukan hanya peristiwa sejarah, melainkan pesan abadi yang harus dibersihkan dari sekadar ratapan emosional dan selayaknya menjadi misi perjuangan hidup.
Imam Husain sebagai sayyidusyuhada mengajarkan bahwa kemenangan sejati adalah keberhasilan menjaga kelestarian nilai-nilai Islam dari penyimpangan penguasa yang zalim melalui pengorbanan nyawa.
Kematian Ayatullah Ali Khamenei dalam serangan udara Israel dan Amerika pada Minggu (1/3/2026) sebagaimana dilaporkan media pemerintah Iran dipandang oleh ideologi Islam sebagai pencapaian puncak dari perjalanan hidup seorang ulama pejuang. Hal ini selaras dengan peran kepemimpinan yang dibahas dalam buku Para Pengawal Agama: Sumbangsih Imam Ahlulbait terhadap Pemerintahan Islam karya Sayid Murtadha Askari dan Sayid Ali Khamenei (2012). Dalam karya tersebut, Khamenei menekankan bahwa tugas utama pemimpin adalah mengawal agama dan mengoreksi kesalahan umat, termasuk menghapus pemisahan antara agama dan politik melalui keberanian jihad.
Relevansi syahadah Husain hingga hari kiamat terletak pada fungsinya sebagai kompas moral. Muthahhari mengingatkan bahwa setiap zaman memiliki Husain dan Yazidnya sendiri.
Kesyahidan pemimpin Islam di era modern dianggap sebagai kelanjutan dari garis perjuangan Karbala untuk menjaga kesucian agama dari kekuatan jahat yang disebut dalam pernyataan resmi Iran sebagai penjahat kemanusiaan. Kematian bukan akhir, melainkan pembuktian atas kebenaran janji Ilahi.
Dalam perspektif Fundamentals of Islamic Thought: God, Man, and the Universe karya Murtadha Muthahhari (1985), dunia dipandang sebagai medan ujian di mana manusia harus memilih antara tauhid atau ketundukan pada thaghut (kekuatan tiran). Kematian Khamenei dikonstruksikan sebagai manifestasi dari manusia sempurna yang telah menyelesaikan tugasnya di dunia untuk menuju kehidupan abadi. Pandangan dunia (worldview) Islam menjadikan kesyahidan sebagai dambaan, bukan ketakutan, karena adanya keyakinan pada kehidupan pasca-mati yang mulia.
Falsafah kesyahidan juga berakar pada dorongan batin manusia yang suci. Dalam buku Fitrah: Menyingkap Hakikat, Potensi dan Jati Diri Manusia karya lain Murtadha Muthahhari (2008), dijelaskan bahwa manusia memiliki potensi bawaan untuk mencari kebenaran mutlak.
Pergerakan Islam yang didasarkan pada kesyahidan menyentuh potensi fitrah ini, di mana pengorbanan diri dipandang sebagai bentuk kembalinya jiwa yang tenang kepada Sang Pencipta. Kematian Khamenei bagi para pengikutnya adalah bukti kemenangan fitrah atas egoisme duniawi.
Selain aspek politik, dimensi spiritual atau irfan juga memainkan peran penting. Murtadha Muthahhari (2002), dijelaskan bahwa seorang arif (sufi) melihat kematian sebagai pertemuan dengan Kekasih. Kesyahidan adalah jalur irfan amaliah di mana seorang pejuang tidak hanya mengenal Tuhan melalui teori, tetapi menyerahkan eksistensinya secara total. Syahadah Khamenei dengan demikian dimaknai sebagai perjalanan spiritual (sair wa suluk) yang mencapai puncaknya di medan jihad.
Pernyataan resmi Garda Revolusi Iran yang mengutip Surat Ali ‘Imran ayat 169 mempertegas bahwa para syuhada tetap hidup di sisi Tuhan. Keyakinan ini, yang dibahas secara filosofis dalam buku Falsafah Pergerakan Islam (1988), menjadi fondasi psikologis agar umat tidak merasa gentar dan mengejar keabadian dan keagungan dalam misi kesyahidan. Kematian fisik pemimpin justru menjadi katalisator bagi konsolidasi kekuatan, karena secara metafisika, darah syuhada dianggap memiliki daya pengaruh yang lebih kuat daripada kata-kata dalam membangkitkan kesadaran massa.
Secara akademis, penggunaan simbol-simbol kesyahidan berfungsi sebagai alat legitimasi ideologis yang tangguh. Ia mengubah tragedi serangan menjadi kemenangan moral. Dengan merujuk pada sejarah para imam ahlul bait dari Imam Ali hingga Imam Mahdi, kematian pemimpin dikontekstualisasikan sebagai bagian dari skenario besar penantian (intizar) terhadap Imam Mahdi. Setiap tetes darah syuhada dianggap mempercepat datangnya keadilan universal yang dijanjikan dalam teologi pergerakan Islam.
Alhasil, kesyahidan dalam falsafah pergerakan Islam adalah sebuah lingkaran yang tak terputus. Melalui lensa pemikiran Muthahhari dalam Falsafah Pergerakan Islam dan Mereka Meluruskan Revolusi Ashura, kematian Ayatullah Ali Khamenei diposisikan sebagai puncak kesaksian (syahadah) atas kebenaran visi pemerintahan Islam.
Selama prinsip keadilan dan perlawanan terhadap kezaliman tetap hidup, maka ruh dari syahadah Husain dan Imam Ali Khamenei akan terus menjadi energi yang menggerakkan sejarah umat manusia hingga hari kiamat.
Rudal Iran dan Kehancuran Amerika
Analisis mengenai konfrontasi di Timur Tengah sering kali terjebak pada kalkulasi materialistik, namun pemikiran Murtadha Muthahhari (1988) dalam Falsafah Pergerakan Islam seperti dijelaskan di atas memberikan sudut pandang teologis-filosofis yang esensial. Muthahhari menegaskan bahwa pergerakan Islam adalah proses dialektis yang melibatkan kesadaran nilai ketuhanan. Dalam konteks ini, kesyahidan Ali Khamenei membuat Iran harus menunjukkan kekuatan teknologi rudalnya untuk menggetarkan musuh. Namu, determinasi rudal Iran bukan sekadar pencapaian teknis artifisial dari sains teknologi, melainkan manifestasi fisik dari ideologi tauhid yang menolak watak imperialistik Amerika Serikat.
Sebagaimana argumen Radhika Desai (2023), AS menggunakan politik imperialisme-militerisme untuk menyerang Iran dan menutupi kepentingan ekonomi serta pembusukan struktural kapitalisme neoliberal demi mempertahankan dominasi dolar.
Kekuatan serangan Iran yang mampu menerobos basis militer Amerika di negara-negara Arab secara bersamaan tidak lepas dari peran strategis Ali Larijani, Ketua Dewan Keamanan Iran saat ini sebelum dan paska meninggalnya Ayatullah Ali Khamenei. Sebagai tokoh yang menguasai filsafat sekaligus matematika, Larijani pasti menerapkan prinsip Realisme dalam politik internasional yang dipadukan dengan Game Theory (Teori Permainan).
Dengan kalkulasi matematis yang presisi, Larijani merancang strategi serangan yang memaksa AS berada dalam posisi lose-lose scenario.
Tesis Robert Higgs dalam karyanya yang berjudul Depression, War, and Cold War: Studies in Political Economy (2006) menjelaskan bahwa AS terjebak dalam ekonomi perang permanen yang ambisius dan secara membabi buta menyerang Iran tanpa kalkulasi kuat. Hal ini juga disayangkan oleh banyak senator dalam negeri Paman Sam.
Larijani memanfaatkan ambisi naif Trump yang kali ini kurang kalkulasi dengan serangan asimetris yang serentak, membuat sistem pertahanan Barat di pangkalan militer dan Israel tidak mampu merespons variabel serangan yang muncul secara eksponensial. Muthahhari berpendapat bahwa Islam memiliki konsep perubahan yang berdiri di antara takdir dan kebebasan. Prinsip ini menjadi landasan bagi kedaulatan militer Iran.
Kegagalan strategi Amerika berakar pada ketidaktahuan mereka bahwa teknologi militer bagi Iran adalah instrumen visi eskatologis yang kini dikelola dengan rasionalitas Game Theory. Di saat AS mengandalkan pengeluaran pertahanan masif untuk menjaga sirkulasi modal domestik, Iran menggunakan efisiensi biaya drone dan rudal-rudal mutakhirnya untuk menghancurkan aset-aset bernilai miliaran dolar milik Pentagon serta kantor-kantor milik militer dan intelijen Israel di Tel Aviv.
Ideologi syahadah (kesyahidan) seperti dibahas oleh Muthahhari menjadi motor penggerak ketangguhan inovasi ini. Semangat ini menciptakan asimetri peperangan yang unik; personel Iran digerakkan oleh logika kesyahidan, sementara Larijani memastikan setiap langkah taktis memiliki keunggulan strategis dalam peta politik realis.
Analisis militer Agung Sasongkojati (2026) mengonfirmasi runtuhnya mitos Air Superiority Amerika. Pesawat F-35 menjadi tidak relevan (sitting ducks) ketika landasan pacunya dihancurkan oleh rudal presisi yang diluncurkan berdasarkan kalkulasi equilibrium permainan yang telah dimenangkan oleh Iran sebelum peluru pertama ditembakkan.
Muthahhari menjelaskan bahwa jihad dalam Islam adalah pembelaan terhadap hak universal manusia. William Jefferies dalam War and the World Economy (2023) mencatat bahwa konflik saat ini adalah bagian dari persaingan teknologi tinggi di level global. Namun, Larijani membuktikan bahwa kedaulatan bukan hanya soal senjata, tapi soal kecerdasan dalam membaca langkah lawan dan membuatnya shah mat (skakmat dalam bahasa Persia). Lumpuhnya sistem IFF (Identification Friend or Foe) dari senjata pertahanan udara Amerika di Kuwait akibat electronic poisoning adalah bukti nyata bagaimana game theory diaplikasikan untuk menciptakan kekacauan sistemik pada saraf pusat komando Barat yang sangat bergantung pada teknologi Black Box asing.
Konsep keabadian martir menurut Muthahhari memberikan dimensi psikologis yang menghancurkan mentalitas perang Amerika. Kegagalan intelijen Barat terjadi karena mereka tidak bisa memodelkan variabel kesyahidan ke dalam algoritma perang mereka.
Di sisi lain, Larijani menggunakan realisme politik untuk mendelegitimasi simbol hegemoni Amerika. Serangan ke pangkalan Al-Udeid dan Nevatim bukan sekadar pamer kekuatan, melainkan upaya sadar untuk menunjukkan kepada negara-negara Arab bahwa pangkalan AS hanyalah magnet maut yang tidak lagi memberikan proteksi.
Dampak ekonomi dari salah kalkulasi militer AS ini bersifat katastropik. Ancaman penutupan Selat Hormuz menjadi serangan tepat ke jantung kapitalisme global. Strategi imperial AS untuk menguasai energi justru menjadi bumerang, selaras dengan peringatan Matthew C. Klein dan Michael Pettis dalam Trade Wars Are Class Wars (2020) bahwa konflik internasional akan berujung pada krisis domestik. Dengan harga minyak yang melambung, struktur ekonomi perang Amerika yang dijelaskan Higgs (2006) justru runtuh karena kehilangan fondasi stabilitas energinya.
Alhasil, teologi syahadah, teknologi rudal dan drone serta rasionalitas kalkulatif Game Theory Ali Larijani menciptakan paradigma perlawanan yang ilahiyyah dan tentu siap berperang dalam periode yang panjang. Iran tidak hanya mengandalkan perangkat keras, tetapi juga kecerdasan filosofis dan matematis.
Selama Amerika Serikat hanya berfokus pada analisis kekuatan fisik dan akumulasi modal tanpa memahami pencapaian teknologi dan kedalaman ideologi Tauhid bangsa Iran, setiap upaya agresi mereka akan berakhir dengan kegagalan strategis. Senjakala hegemoni Amerika di Timur Tengah kini menjadi realitas yang tak terelakkan dan Ramadhan menjadi saksinya. Allahumma, Amin.
Penulis: M. Thaufan Arifuddin (Dosen Ilmu Komunikasi FISIP UNAND)

