Setiap tetes hujan yang menyirami ladang dan sawah kini membawa lebih dari sekadar air. Partikel plastik tak kasatmata ikut turun, meresap ke tanah, diserap akar, dan perlahan meracuni rantai pangan kita dari pangkalnya.
Read more: Racun dari Langit: Hujan Mikroplastik Mengancam Tanaman Pangan dan Ekosistem Indonesia
Ketika menikmati secangkir kopi pada pagi hari, sepotong semangka di siang hari, atau sepiring sayuran segar saat makan malam, jarang sekali kita memikirkan makhluk kecil yang berperan besar menghadirkan produk pertanian tersebut. Kita lebih sering mengaitkan keberhasilan produksi pangan dengan penggunaan pupuk, benih unggul, atau teknologi pertanian modern. Padahal, ada pekerja alam yang bekerja tanpa upah, tanpa sorotan, dan sering kali luput dari perhatian: dialah serangga penyerbuk, yang didominasi oleh lebah.
Dalam beberapa bulan terakhir, perhatian publik terhadap nilai tukar rupiah kembali meningkat. Setelah bertahun-tahun relatif stabil pada kisaran Rp14.000–Rp16.000 per dolar AS, rupiah kini bergerak mendekati Rp18.000 per dolar AS. Perkembangan ini memunculkan pertanyaan, sampai di mana rupiah akan melemah, dan kapan titik baliknya akan terjadi?
Read more: Perkiraan Titik Balik Rupiah: Antara Fundamental, Sentimen Pasar, dan Overshooting
Film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita karya Dandhy Laksono dan Cypri Paju Dale merupakan salah satu teks budaya politik paling penting di Indonesia hari ini. Film ini tidak hanya berbicara tentang konflik agraria dan kerusakan ekologis di Papua, tetapi juga membongkar hubungan antara negara, kapitalisme, militerisme, dan masyarakat adat. Dalam perspektif kajian budaya (cultural studies), film ini dapat dibaca sebagai kritik terhadap cara pemerintah menjalankan pembangunan nasional dengan logika kolonial modern: tanah diambil atas nama negara, masyarakat adat dipinggirkan atas nama kemajuan, dan aparat keamanan dihadirkan untuk menjaga stabilitas investasi.
Sejak ledakan ChatGPT pada akhir 2022, kecerdasan buatan (AI) generatif telah mengubah wajah pendidikan tinggi dengan sangat cepat. AI kini bukan lagi sekadar fiksi masa depan, melainkan rutinitas harian. Mahasiswa era sekarang terbiasa mendelegasikan tugas akademik kepada mesin dalam hitungan detik—mulai dari mencari referensi, meracik kerangka esai, menulis kode program, hingga mengolah data riset. Di luar tembok kampus, dunia industri sedang bertransformasi drastis. Perusahaan tak lagi sekadar mencari sarjana yang jago di bidang akademiknya, tetapi mereka memburu talenta yang mampu bekerja berdampingan dengan teknologi AI. Fenomena ini sangat nyata; kepiawaian menggunakan AI kini menjadi nilai tambah premium dalam proses rekrutmen.
Read more: Ijazah Saja Tak Cukup: Mengapa 'AI Literacy' Kini Jadi Syarat Mutlak Lulusan Kampus