Padang (UNAND) – Ancaman resistensi antibiotik yang terus meningkat menjadi salah satu tantangan terbesar dalam dunia kesehatan. Di sisi lain, penderita diabetes memiliki risiko tinggi mengalami luka kronis yang sulit sembuh akibat infeksi dan gangguan proses regenerasi jaringan. Menjawab tantangan tersebut, tim peneliti Universitas Andalas (UNAND) berhasil mengembangkan inovasi nanomaterial ramah lingkungan berbasis rumput laut Caulerpa lentillifera yang berpotensi menjadi bahan baku antibiotik alternatif sekaligus terapi penyembuhan luka diabetes.
Penelitian ini dipimpin oleh Prof. Dr. Yetria Rilda bersama tim yang terdiri atas Dr. Syukri dan Dr. T. Chellapandi. Inovasi yang dikembangkan berupa nanokomposit Yttria/Zinc Oxide/Silver Oxide (Y₂O₃/ZnO/Ag₂O atau YZA) yang disintesis menggunakan ekstrak rumput laut Caulerpa lentillifera sebagai bahan alami dalam proses pembuatannya.
Hasil pengujian laboratorium menunjukkan bahwa material YZA memiliki aktivitas biologis yang sangat menjanjikan. Nanomaterial ini mampu menghambat pertumbuhan dua bakteri penyebab infeksi yang sering ditemukan pada luka kronis, yakni Staphylococcus aureus dan Pseudomonas aeruginosa. Selain memiliki aktivitas antibakteri, material tersebut juga menunjukkan sifat antioksidan, antiinflamasi, serta antidiabetik yang berpotensi mendukung proses penyembuhan luka secara lebih efektif.
Ketua tim peneliti, Prof. Dr. Yetria Rilda, mengatakan bahwa penelitian ini merupakan upaya untuk menghadirkan solusi kesehatan yang tidak hanya inovatif, tetapi juga memanfaatkan kekayaan sumber daya alam Indonesia.
"Resistensi antibiotik merupakan tantangan global yang membutuhkan pendekatan baru dalam pengembangan terapi. Melalui pemanfaatan rumput laut Caulerpa lentillifera, kami berhasil menghasilkan nanomaterial multifungsi yang tidak hanya memiliki aktivitas antibakteri, tetapi juga menunjukkan potensi sebagai antioksidan, antiinflamasi, dan antidiabetik. Harapannya, inovasi ini dapat menjadi langkah awal dalam pengembangan biomaterial medis yang lebih aman, efektif, dan berkelanjutan berbasis sumber daya hayati Indonesia," ujar Prof. Yetria pada Senin (20/7).
Ia menjelaskan bahwa pemanfaatan rumput laut lokal sebagai bahan utama juga memberikan nilai tambah bagi komoditas kelautan Indonesia. Selain mendukung pengembangan teknologi kesehatan dalam negeri, inovasi ini diharapkan mampu mengurangi ketergantungan terhadap bahan baku impor sekaligus meningkatkan daya saing hasil riset nasional.

Menurut Prof. Yetria, ke depan nanomaterial YZA memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi berbagai produk kesehatan, seperti bahan aktif balutan luka modern, gel penyembuh luka diabetes, pelapis alat kesehatan yang bersifat antimikroba, hingga bahan baku antibiotik generasi baru berbasis nanoteknologi.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa penelitian ini masih berada pada tahap praklinis sehingga masih diperlukan serangkaian pengujian lanjutan, termasuk uji keamanan, efektivitas, serta uji klinis sebelum dapat diterapkan pada manusia.
"Inovasi ini masih berada pada tahap penelitian praklinis. Oleh karena itu, diperlukan penelitian lanjutan agar keamanan dan efektivitasnya benar-benar dapat dipastikan sebelum dikembangkan menjadi produk kesehatan yang siap digunakan masyarakat," tutupnya.
This research is funded by the Indonesian Endowment Fund for Education (LPDP) on behalf of the Indonesian Ministry of Higher Education, Science and Technology and managed under the EQUITY Program (Contract No. 4304/B3/DT.03.08/2025.(*)
Humas, Protokol, dan Layanan Informasi Publik
