Padang (UNAND) – Kacang lima (Phaseolus lunatus L.), yang di Sumatra Barat lebih dikenal sebagai kacang paga atau kacang roti, memiliki potensi besar sebagai sumber protein nabati alternatif. Namun, sebelum dimanfaatkan secara luas sebagai bahan pangan, aspek keamanannya perlu dibuktikan melalui kajian ilmiah.

Berangkat dari kebutuhan tersebut, tim peneliti (UNAND) yang dipimpin Rita Maliza, S.Si., M.Si., Ph.D., dosen Departemen Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), melakukan penelitian untuk mengevaluasi keamanan konsumsi berulang tepung kacang lima. Penelitian ini juga melibatkan Prof. Fazal Jalil, Ph.D. dari Abdul Wali Khan University Mardan, Pakistan, serta dua mahasiswa Departemen Biologi FMIPA, Reziq Marchellino Irwan dan Rafi Ramadhan Anwar.

Penelitian dilakukan menggunakan tikus Wistar jantan dan betina yang diberikan tepung kacang lima setiap hari selama 28 hari. Sebelum diberikan, biji kacang lima terlebih dahulu diolah melalui proses perendaman, perebusan, dan pengeringan untuk mengurangi kandungan senyawa antinutrisi.

Pemberian dilakukan dalam empat tingkatan dosis, yaitu 500, 1.000, 1.500, dan 2.000 mg per kilogram berat badan. Selama penelitian, tim mengamati berbagai parameter, mulai dari pertambahan berat badan, kondisi organ hati, ginjal, dan pankreas, hingga profil hematologi serta struktur jaringan organ melalui pemeriksaan mikroskopis.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsumsi tepung kacang lima hingga dosis tertinggi tidak menyebabkan perubahan bentuk organ, tidak menghambat pertambahan berat badan, serta tidak menimbulkan kerusakan jaringan yang signifikan pada hati maupun ginjal. Selain itu, kadar kreatinin yang menjadi indikator fungsi ginjal tetap berada pada kisaran normal, menunjukkan fungsi organ tetap terjaga selama masa perlakuan.

Ketua tim peneliti, Dr. Rita Maliza, menjelaskan bahwa hasil penelitian ini memberikan gambaran awal mengenai keamanan tepung kacang lima yang telah melalui proses pengolahan yang tepat.

"Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tepung kacang lima yang telah diolah melalui proses perendaman dan perebusan memiliki profil keamanan yang baik pada uji konsumsi berulang selama 28 hari. Temuan ini menjadi langkah awal yang penting dalam upaya pengembangan kacang lima sebagai sumber protein nabati alternatif yang aman dan bernilai tambah bagi masyarakat," ujarnya pada Minggu (19/7).

Meski demikian, Dr. Rita menegaskan bahwa hasil tersebut belum dapat langsung dijadikan dasar rekomendasi konsumsi pada manusia.

"Masih diperlukan penelitian lanjutan, khususnya uji toksisitas subkronis dengan durasi yang lebih panjang, seperti 90 hari, serta kajian lainnya sebelum dapat disimpulkan aman untuk konsumsi jangka panjang pada manusia. Penelitian yang berkelanjutan akan memberikan dasar ilmiah yang lebih kuat bagi pemanfaatan kacang lima sebagai pangan fungsional di masa mendatang," tambahnya.

Secara keseluruhan, penelitian ini memperlihatkan bahwa tepung kacang lima yang telah diolah dengan baik memiliki profil keamanan yang menjanjikan sebagai bahan pangan alternatif. Temuan tersebut diharapkan dapat menjadi pijakan bagi penelitian lanjutan sekaligus mendukung diversifikasi pangan berbasis sumber daya lokal Indonesia.

This research is funded by the Indonesian Endowment Fund for Education (LPDP) on behalf of the Indonesian Ministry of Higher Education, Science and Technology and managed under the EQUITY Program (Contract No. 4304/B3/DT.03.08/2025).(*)

Humas, Protokol, dan Layanan Informasi Publik