Padang (UNAND) - Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam mewujudkan agenda besar Presiden Republik Indonesia, khususnya di bidang pangan, energi, dan hilirisasi. Hal itu disampaikannya dalam sebuah pertemuan yang dihadiri jajaran direksi BUMN, kepala daerah, pimpinan perguruan tinggi, serta berbagai pemangku kepentingan di Sumatera Barat pada Rabu (14/4) di Hotel Mercure.
Dalam arahannya, Mentan Amran menekankan keberhasilan program nasional tidak dapat dicapai secara parsial, tetapi harus dibangun melalui kesamaan visi, soliditas, dan kerja bersama antarlembaga. Menurutnya, seluruh pihak pada dasarnya tengah menjalankan satu visi besar negara, sehingga kolaborasi menjadi kunci utama untuk mempercepat hasil yang nyata di lapangan.
Ia menilai tantangan besar pembangunan bukan semata keterbatasan anggaran, melainkan juga persoalan regulasi yang berbelit, birokrasi yang lambat, dan tata kelola yang belum sepenuhnya efisien. Karena itu, Amran mendorong agar berbagai hambatan administratif yang menghambat percepatan program dapat dibenahi secara serius.
Mentan juga menyoroti pentingnya profesionalisme dalam pengelolaan BUMN dan sektor-sektor strategis lainnya. Ia menegaskan bahwa penempatan sumber daya manusia harus berbasis meritokrasi, kinerja, dan ukuran yang terukur, sehingga setiap institusi dapat bergerak lebih sehat, produktif, dan berdampak.
Selain itu, Amran menggarisbawahi bahwa kebijakan yang tepat dapat menghasilkan dampak jauh lebih besar dibanding sekadar penambahan anggaran. Menurutnya, perbaikan tata kelola, refocusing program, serta penyederhanaan proses bisnis menjadi langkah penting dalam mempercepat transformasi sektor pertanian nasional.
Dalam paparannya, ia juga menghubungkan agenda pangan dengan hilirisasi dan kemandirian energi nasional. Indonesia, menurutnya, memiliki potensi besar untuk memperkuat biofuel dan etanol berbasis komoditas dalam negeri, termasuk singkong, molase, dan kelapa. Di sisi lain, komoditas strategis seperti kedelai, bawang putih, hingga gambir dinilai perlu didorong dalam kerangka hilirisasi agar memberi nilai tambah lebih besar bagi daerah dan negara.
Rektor Universitas Andalas, Efa Yonnedi, Ph.D, menyambut baik gagasan besar yang disampaikan Menteri Pertanian. Ia menilai perguruan tinggi memiliki posisi penting dalam mendukung agenda ketahanan pangan dan hilirisasi melalui riset, inovasi, serta penyediaan sumber daya manusia unggul.
“Universitas Andalas siap mengambil peran lebih aktif dalam mendukung agenda strategis nasional, terutama di bidang pangan, hilirisasi, dan penguatan ekonomi berbasis potensi daerah. Kampus harus hadir tidak hanya sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga sebagai mitra solusi bagi pemerintah dan dunia industri,” ujar rektor.
Ia menambahkan, sinergi antara pemerintah, BUMN, dunia usaha, dan perguruan tinggi menjadi fondasi penting untuk memastikan setiap kebijakan dapat diterjemahkan menjadi langkah konkret yang berdampak langsung bagi masyarakat.(*)
Humas, Protokol, dan Layanan Informasi Publik

