Padang (UNAND) — Konsumsi tahu dan tempe sebagai sumber protein utama masyarakat Indonesia menyimpan ironi besar. Di tengah tingginya konsumsi, bahan baku utama keduanya, yakni kedelai, masih didominasi produk impor.

Pakar Ilmu Tanah Universitas Andalas, Prof. Dr. Ir. Dian Fiantis, mengungkapkan bahwa persoalan kedelai nasional tidak sekadar terkait produksi, tetapi berakar pada kondisi tanah, iklim tropis, serta sistem budidaya yang belum optimal.

“Sekitar 80 hingga 90 persen kebutuhan kedelai nasional masih dipenuhi dari impor, bahkan untuk industri tahu dan tempe angkanya bisa lebih dari 90 persen,” ujar Prof. Dian, pada Jumat (10/4)

Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia mengimpor lebih dari 2,5 juta ton kedelai per tahun, sementara produksi dalam negeri hanya berkisar ratusan ribu ton. Kedelai impor, yang mayoritas berasal dari Amerika Serikat, Brasil, Argentina, dan Kanada, dinilai lebih unggul dari sisi ukuran dan keseragaman biji.

Produktivitas kedelai nasional pun masih tertinggal. Saat ini, produksi kedelai Indonesia hanya berkisar 1,5–1,7 ton per hektare, jauh di bawah negara produsen utama dunia yang mampu mencapai lebih dari 3,3 ton per hektare.

Menurutnya, perbedaan tersebut dipengaruhi oleh karakter lingkungan tumbuh. Indonesia sebagai negara tropis basah memiliki curah hujan tinggi, kelembapan udara besar, serta radiasi matahari yang sering terhalang awan. Kondisi ini kurang ideal bagi fase kritis kedelai, terutama saat pembungaan dan pengisian biji.

“Di negara seperti Brasil dan Amerika Serikat, tanaman mendapatkan cukup air di awal pertumbuhan dan kondisi kering saat pengisian biji. Ini membuat biji lebih besar dan seragam,” jelasnya.

Sebaliknya, di Indonesia, fase pengisian biji sering berlangsung dalam kondisi lembap atau hujan. Hal ini menghambat proses fotosintesis dan metabolisme tanaman, sehingga biji tidak terisi penuh.

Selain faktor iklim, kondisi tanah menjadi tantangan utama. Tanah tropis Indonesia umumnya bersifat masam, miskin bahan organik, serta memiliki kandungan besi dan aluminium tinggi yang dapat mengikat unsur hara penting seperti fosfor.

Padahal, fosfor berperan penting dalam pembentukan energi tanaman untuk proses pengisian biji. Kekurangan unsur ini menyebabkan hasil kedelai tidak optimal meskipun tanaman terlihat tumbuh normal.

“Kondisi tanah yang masam juga menghambat aktivitas bakteri penambat nitrogen pada akar kedelai. Akibatnya, tanaman kekurangan nitrogen yang penting untuk pembentukan protein,” tambahnya.

Di sisi lain, struktur pertanian yang didominasi petani kecil turut memperbesar tantangan. Keterbatasan modal dan akses teknologi membuat praktik budidaya belum berbasis analisis tanah atau pertanian presisi. Pemupukan dilakukan secara umum, sementara penggunaan inokulan bakteri dan pengelolaan air belum optimal.

Berbeda dengan negara produsen utama, yang menerapkan pertanian skala besar dengan teknologi presisi, mulai dari analisis tanah, pemilihan varietas unggul, hingga pengaturan waktu tanam yang sesuai dengan kondisi lingkungan.

Meski demikian, peluang peningkatan produksi kedelai dalam negeri tetap terbuka. Dian menekankan bahwa perbaikan harus dimulai dari pengelolaan tanah sebagai sistem hidup.

Langkah strategis yang dapat dilakukan antara lain meningkatkan kandungan bahan organik tanah, melakukan pengapuran untuk menurunkan tingkat keasaman, serta mendorong penggunaan inokulan bakteri penambat nitrogen.

Selain itu, pengembangan varietas kedelai yang adaptif terhadap kondisi tropis menjadi kunci. Varietas tersebut harus toleran terhadap tanah masam, mampu berproduksi pada radiasi rendah, serta efisien dalam penggunaan hara.

“Kedelai tidak hanya soal produksi pangan, tetapi juga bagian dari sistem pertanian berkelanjutan. Jika dikelola dengan baik, tanaman ini justru dapat memperbaiki kesuburan tanah,” ujarnya.

Ia menegaskan, persoalan kedelai pada akhirnya mencerminkan cara pandang terhadap tanah. Selama tanah hanya diperlakukan sebagai media tanam, bukan sebagai sistem hidup, maka potensi produksi akan sulit berkembang optimal.

“Di negeri tahu dan tempe, tantangan kita bukan hanya menanam kedelai, tetapi memahami tanah tempat ia tumbuh. Di situlah masa depan kemandirian pangan ditentukan,” tutup Prof. Dian.

Selengkapnya baca Di negeri tahu-tempe, kedelai tak mandiri

Humas, Protokol, dan Layanan Informasi Publik