Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk menantang komitmen Indonesia terhadap perdamaian dunia yang tercantum jelas dan nyata di dalam UU Dasar dan Pancasila, melainkan mengajak berpikir ulang tentang bentuk ketahanan dan kewibawaan nasional yang sangat relevan dengan tantangan zaman, khususnya melalui peran sains dan bioteknologi.

Artikel ini juga menjadi refleksi untuk Diaspora Pelajar Indonesia ataupun para alumni, termasuk yang berada di Indonesia atau di luar Indonesia. Tulisan ini diharapkan memiliki relevansi sebagai bahan refleksi mengenai ilmu apa yang kita kuasai dan untuk kontribusi seperti apa ilmu itu kelak digunakan?. Jepang sendiri memberikan contoh nyata bagaimana sains, teknologi, dan etos riset dapat menjadi fondasi ketahanan nasional tanpa harus mengandalkan ekspresi kekuatan militer semata.

Pencarian Identitas di Tengah Geopolitik yang Bergeser

Selama puluhan tahun, Indonesia terjebak dalam romantisme "bangsa agraris" yang ramah, dengan Bali sebagai wajah utama di mata dunia. Namun, di panggung geopolitik yang kian anarki, keramahan seringkali disalah artikan sebagai kelemahan. Jika Rusia diingat karena hulu ledak nuklirnya, dan Tiongkok karena dominasi industri serta lompatan teknologinya, lantas apa yang membuat dunia segan terhadap Indonesia?. Pelabelan sebuah negara di kancah internasional bukan sekadar urusan branding pariwisata atau diplomasi budaya. Ini adalah urusan martabat, wibawa, dan keamanan. Tanpa sebuah "label" yang mampu menimbulkan efek gentar, sebuah bangsa akan senantiasa rentan terhadap intervensi asing, baik secara ekonomi maupun politik. Pertanyaan selanjutnya ialah: haruskah Indonesia ikut berburu senjata nuklir dan mengadopsinya untuk mendapatkan rasa segan itu?, jawabannya tentu saja tidak mesti.

Di tengah komitmen konstitusional kita terhadap perdamaian dunia sebagaimana termaktub dalam UU No. 37 tahun 1999 dan Pembukaan UUD 1945, jalur militeristik nuklir bukan hanya terjal secara diplomatik, tapi mungkin sudah usang secara strategis. Kita membutuhkan bentuk "perisai" baru yang lebih cerdas, lebih senyap, namun mematikan dan jauh lebih strategis serta berdampak luas bagi kedaulatan.

Keterbatasan Identitas dalam Militer Konvensional

Senjata nuklir dan kapal selam militer memiliki satu kelemahan besar dalam perang modern, yaitu identitas. Baling-baling kapal selam memiliki tanda akustik yang spesifik yang memudahkan identifikasi pemiliknya. Rudal balistik memiliki trayektori yang bisa dilacak oleh radar satelit dalam hitungan detik. Dalam dunia intelijen dan hukum internasional, segala sesuatu yang memiliki "nomor seri" sangat mudah diawasi, dibatasi, dan dijatuhi sanksi sesuai dengan peraturan PBB.

Disini letak ironinya. Negara-negara besar saat ini saling mengunci dalam keseimbangan intimidasi ataupun ancaman yang transparan. Namun, dunia sedang bergeser ke arah perang asimetris. Kekuatan tidak lagi diukur dari dentuman ledakan atau parade alutsista di jalanan protokol, melainkan dari kemampuan untuk melumpuhkan sendi-sendi kehidupan lawan tanpa perlu mengirim satu pun serdadu ke perbatasan. Di sinilah sains mengambil alih peran hulu ledak.

“Virologi” Sains sebagai Instrumen Wibawa

Mari kita bicara tentang entitas terkecil yang mampu menjatuhkan peradaban, “virus”. Jika selama ini kita memandang virus hanya dalam konteks medis atau wabah manusia seperti pandemi Covid-19, sudah saatnya kita melihatnya melalui lensa kedaulatan nasional. Sebagai negara dengan tingkat biodiversitas nomor dua di dunia, Indonesia adalah "tambang emas" agen hayati yang belum terpetakan sepenuhnya.

Dalam konteks ketahanan nasional, penguasaan atas sains virologi tingkat tinggi, terutama pada virus tanaman adalah sebuah "instrumen deterensi" yang sangat efektif. Mengapa tanaman? karena pangan adalah urusan perut, dan urusan perut adalah pilar pertama stabilitas nasional. Sebuah bangsa bisa bertahan tanpa pasokan gadget terbaru, namun tak akan bertahan lebih dari satu minggu tanpa pasokan karbohidrat.

Bayangkan sebuah skenario di mana ketahanan pangan sebuah kawasan bergantung pada satu atau dua komoditas utama. Jika muncul sebuah patogen ganas hasil rekayasa laboratorium yang mampu memicu gagal panen massal secara spesifik, maka krisis ekonomi akan segera berubah menjadi kekacauan sosial dan politik. Inilah titik lemah yang sering diabaikan dalam strategi pertahanan konvensional kita.

Gambaran Kerentanan dan "Bom" Ekonomi yang Senyap

Sebagai negara agraris, Indonesia berdiri di atas fondasi yang sangat rentan terhadap serangan hayati. Mari kita bedah melalui sebuah contoh nyata, sektor perkebunan kelapa sawit kita misalnya, menyumbang lebih dari Rp 440 triliun pada tahun 2024 terhadap devisa negara (Antara News; Maret 2025). Bayangkan jika sebuah patogen rekayasa, katakanlah varian baru dari Ganoderma (sejenis jamur patogen yang menyerang tanaman sawit) atau virus yang dimodifikasi untuk menyerang sistem vaskular tanaman palma secara cepat menyebar di perkebunan Sumatera dan Kalimantan.

Dampaknya tidak hanya akan melumpuhkan ekonomi domestik, tetapi juga akan mengguncang rantai pasok minyak nabati dunia. Tanpa perlu melepaskan satu peluru pun, pihak lawan dapat membangkrutkan kas negara hanya dalam satu atau dua siklus tanam.

Begitu pula pada komoditas padi. Sebagai pengonsumsi beras terbesar, ketergantungan kita pada stabilitas produksi gabah adalah "tumit Achilles" kita. Virus seperti Rice Rugged Stunt Virus (RRSV) atau Rice Grassy Stunt Virus (RGSV) jika didesain di laboratorium untuk memiliki daya tular lebih cepat melalui vektor wereng yang telah dibuat resisten terhadap pestisida, akan menjadi mimpi buruk nasional. Urusan perut akan segera berubah menjadi instabilitas keamanan yang jauh lebih mengerikan daripada ancaman invasi militer fisik.

Senjata Tanpa Nomor Seri: Keunggulan di Balik Laboratorium

Berbeda dengan nuklir, virus hasil rekayasa laboratorium tidak memiliki nomor seri. Ia tidak terdaftar dalam protokol internasional sesederhana senjata api atau rudal. Akan tetapi virus merupakan agen hayati yang dapat menyebar melalui angin, serangga, atau perdagangan komoditas secara natural.

Dalam dunia virologi molekuler, membedakan antara mutasi alamiah dan manipulasi laboratorium yang sangat halus (seamless engineering) adalah tantangan teknis yang luar biasa besar bagi pakar mana pun di dunia. Inilah yang disebut sebagai Wibawa Sains. Sebuah bangsa tidak perlu memamerkan kekuatan untuk ditakuti, cukup tunjukkan bahwa mereka memiliki penguasaan teknologi molekuler yang mampu mengendalikan ketahanan dan kerentanan hayati pada sektor agraris. Jika kita menguasai virus, kita menguasai rantai makanan. Jika kita menguasai rantai makanan, kita memiliki posisi tawar yang tak tergoyahkan di meja diplomasi global.

Dilema Moral dan Tanggung Jawab Anak Bangsa

Tentu saja, paparan ini bukan sebuah ajakan untuk menciptakan alat pertahanan diri yang melanggar hukum internasional atau prinsip kemanusiaan. Konstitusi kita dengan tegas memerintahkan kita untuk ikut menjaga ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan dan perdamaian abadi. Namun, sejarah mengajarkan satu hal: "Siap untuk perang adalah cara paling efektif untuk menjaga perdamaian."

Penguasaan sains virologi tingkat tinggi haruslah menjadi Prioritas Strategis Nasional (PSN). Kita harus membangun infrastruktur riset biosafety level (BSL) yang mumpuni, bukan hanya untuk membuat vaksin bagi manusia, tetapi sebagai bentuk "Deterensi Biologis". Dunia harus tahu bahwa Indonesia memiliki kapasitas untuk mendeteksi, menangkal, dan jika dalam kondisi terdesak mampu memahami mekanisme serangan hayati secara mendalam.

Bagaikan dua mata pisau, sains di tangan yang tidak bertanggung jawab, ia akan menjadi sebuah momok yang menakut nakuti. Namun, di tangan ilmuwan yang cinta tanah air, ia menjadi perisai kedaulatan. Sebagai anak bangsa kita harus bertanggung jawab memastikan sains digunakan untuk melindungi, bukan sekadar menjadi penonton saat bangsa lain mempermainkan sumber daya hayati kita.

Menuju Branding Indonesia Abad ke-21

Indonesia tidak lagi boleh hanya dikenal sebagai bangsa yang "pandai menari" atau sekadar "ramah tamah". Kita harus mulai dikenal sebagai bangsa yang "tangguh secara bioteknologi". Branding ini jauh lebih relevan untuk abad ke-21 daripada sekadar pameran kekuatan militer gaya lama.

Kemandirian dalam rekayasa genetika, pemahaman mendalam tentang virologi tanaman, dan kedaulatan atas sumber daya hayati akan memberikan nilai plus, yaitu keseganan internasional. Bangsa lain tidak akan lagi memandang remeh sektor pertanian kita yang luas. Mereka akan berpikir dua kali untuk melakukan intervensi ekonomi jika mereka tahu bahwa "benteng pertahanan" kita bukan hanya terdiri dari prajurit di hutan, melainkan juga para saintis di laboratorium molekuler.

Penutup: Sains sebagai Jantung Kedaulatan

Sains tidak boleh lagi dianggap sebagai pelengkap administratif dalam sistem pendidikan kita. Ia adalah jantung dari kedaulatan. Tulisan ini adalah sebuah alarm bagi kita semua, bahwa di tengah gonjang-ganjing geopolitik dunia, kekuatan sejati seringkali tidak terlihat oleh mata telanjang.

Kita harus segera berbenah, mengonsolidasikan para pakar virologi, mikrobiologi, dan bioteknologi untuk menjadi pilar baru pertahanan negara. Kita harus bertransformasi dari bangsa yang sekadar "menanam" menjadi bangsa yang "menguasai mekanisme kehidupan". Dengan demikian, label Indonesia di mata dunia akan bergeser menjadi raksasa bioteknologi yang memiliki perisai hayati yang tak tertembus.

Wibawa ini lahir bukan dari niat untuk merusak, melainkan dari kecerdasan untuk menjaga. Karena pada akhirnya, siapa yang menguasai ilmu pengetahuan, dialah yang memegang kunci masa depan.

Penulis: Muhammad Fadli, S.P., M.Biotek., Ph.D.  (Dosen Fakultas Pertanian Universitas Andalas dengan kepakaran di bidang Bioteknologi)