Penyakit jantung bukan hanya urusan pria. Di Indonesia, hampir satu dari seratus wanita menderita penyakit jantung dan angkanya terus meningkat. Mengapa banyak yang tidak menyadarinya hingga terlambat?
Bayangkan seorang ibu berusia 45 tahun yang merasa nyeri ringan di punggung dan mudah lelah. Ia mengira itu hanya kelelahan biasa akibat pekerjaan rumah tangga. Beberapa minggu kemudian, ia dibawa ke UGD dengan serangan jantung. Kisah seperti ini bukan cerita fiksi, ini kenyataan yang dialami ribuan wanita Indonesia setiap tahunnya.
Data terbaru dari Survei Kesehatan Indonesia 2023 menunjukkan fakta yang mengejutkan: prevalensi penyakit jantung pada wanita (0,91%) justru lebih tinggi dibanding pria (0,80%). Secara global, kematian akibat penyakit jantung iskemik pada wanita Indonesia mencapai 90,9 per 100.000 penduduk. Angka ini menempatkan penyakit jantung sebagai salah satu penyebab kematian utama wanita di negeri ini, namun ironisnya, masih sangat sedikit yang menyadarinya.
Gejala yang Berbeda, Risiko yang Sama Besarnya
Selama ini, serangan jantung identik dengan nyeri dada kiri yang menusuk seperti yang sering kita lihat di film. Namun pada wanita, gejalanya sering jauh lebih samar: rasa mual, sesak napas ringan, nyeri rahang, punggung terasa pegal, atau sekadar kelelahan yang tidak biasa. Gejala-gejala "atipikal" inilah yang membuat banyak wanita, bahkan dokter sekalipun kerap melewatkan tanda-tanda bahaya dini.
Lebih dari itu, wanita memiliki faktor risiko yang jauh lebih kompleks dibanding pria. Selain faktor umum seperti hipertensi, diabetes, dan obesitas, wanita juga menghadapi risiko yang berhubungan langsung dengan perjalanan hidupnya sebagai perempuan: pernah mengalami pre-eklamsia saat hamil, hipertensi kehamilan, diabetes gestasional, terapi hormonal & kontrasepsi, memiliki sindrom ovarium polikistik (PCOS), mengalami menopause dini, bahkan riwayat lupus atau rheumatoid artritis, semua ini meningkatkan risiko penyakit jantung secara signifikan.
"Dari sekitar 41 juta perempuan yang menjadi target skrining penyakit jantung gratis dari pemerintah, baru sekitar 10,8% yang memanfaatkannya. Ini bukan sekadar angka, ini cerminan betapa rendahnya kesadaran wanita akan bahaya penyakit jantung."

Mengapa Wanita Lebih Rentan Terlambat Terdiagnosis?
Ada fenomena yang disebut para ahli sebagai "beban ganda" wanita: di satu sisi ia harus menjalankan peran domestik sebagai ibu dan pengurus rumah tangga, di sisi lain juga bekerja di luar rumah. Dalam situasi seperti ini, kesehatan diri sendiri sering kali menjadi prioritas terakhir. Sakit sedikit, ditahan. Lelah, dianggap wajar. Gejala yang sebenarnya perlu diwaspadai, dinormalisasi begitu saja.
Ditambah lagi, norma sosial yang selama ini menempatkan kesehatan wanita sebagai urusan nomor dua membuat banyak wanita merasa tidak perlu memeriksakan diri selama masih bisa beraktivitas. Padahal, penyakit jantung adalah penyakit yang diam-diam berkembang selama bertahun-tahun sebelum akhirnya menunjukkan gejala serius.
Kesenjangan akses layanan kesehatan turut memperparah kondisi ini, terutama bagi wanita di daerah terpencil. Disparitas antara kota dan desa, antara kelompok ekonomi mampu dan tidak mampu, menciptakan jurang lebar dalam hal siapa yang berhasil terdeteksi lebih awal dan siapa yang tidak.
Apa yang Sudah dan Perlu Dilakukan?
Pemerintah Indonesia sejatinya sudah memiliki fondasi kebijakan yang cukup kuat. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 2 Tahun 2025 tentang Kesehatan Reproduksi membuka peluang emas: skrining risiko jantung kini bisa diintegrasikan langsung ke dalam pelayanan kesehatan ibu, seperti kunjungan ante-natal care (ANC), layanan KB, hingga pemeriksaan menopause. Ini adalah momen tepat untuk menyentuh wanita di titik di mana mereka sudah berinteraksi dengan sistem kesehatan.
Namun kebijakan saja tidak cukup. Yang dibutuhkan adalah gerak bersama: tenaga kesehatan yang terlatih mengenali gejala atipikal jantung pada wanita, komunitas yang aktif mengedukasi sesama, keluarga yang mendukung wanita untuk memeriksakan diri, dan media yang terus-menerus menyuarakan kesadaran ini.
Di banyak negara, kampanye "Go Red For Women" terbukti efektif meningkatkan kesadaran masyarakat tentang risiko jantung pada wanita. Indonesia perlu meluncurkan gerakan serupa dengan sentuhan lokal yang kuat: kolaborasi dengan PKK, Dharma Wanita, organisasi profesi wanita, hingga tokoh agama dan komunitas berbasis kepercayaan. Menetapkan Februari sebagai "Bulan Kesadaran Jantung Wanita Indonesia" bisa menjadi langkah awal yang konkret.
Yang Bisa Anda Lakukan Mulai Hari Ini
Tidak perlu menunggu kampanye nasional untuk mulai peduli pada jantung Anda. Berikut langkah praktis yang bisa segera dilakukan:
- Periksa tekanan darah, gula darah, kolesterol, dan lingkar perut secara rutin, layanan ini tersedia gratis di Puskesmas.
- Kenali gejala atipikal serangan jantung pada wanita: mual, sesak napas ringan, nyeri punggung atau rahang, kelelahan ekstrem.
- Jika pernah mengalami pre-eklamsia, diabetes gestasional, atau keguguran berulang, beritahu dokter dan minta pemantauan risiko jantung lebih lanjut.
- Terapkan gaya hidup aktif: 30 menit jalan kaki setiap hari sudah cukup sebagai langkah awal.
- Kurangi makanan ultra-proses, garam berlebih, dan minuman manis, pilihan makan sehari-hari sangat menentukan kesehatan jantung jangka panjang.
- Jangan normalisasi kelelahan kronis atau gejala yang terasa "aneh" segera konsultasikan ke tenaga kesehatan.
Penyakit jantung bukan takdir yang harus diterima. Dengan kesadaran yang tepat dan langkah pencegahan yang konsisten, risiko itu bisa dikelola, bahkan dihindari. Wanita Indonesia layak mendapatkan jantung yang sehat. Dan untuk itu, ia perlu mulai mendengarkan isyarat tubuhnya sendiri, jauh sebelum terlambat.
Tentang Penulis: Ns. Mulyanti Roberto Muliantino, M.Kep adalah akademisi dan peneliti kesehatan kardiovaskular. Tulisan ini disarikan dari Policy Brief tentang Strategi Penguatan Kesehatan Jantung Wanita di Indonesia. Korespondensi:

