Pemadaman listrik yang terjadi di berbagai wilayah Sumatera beberapa hari terakhir membuat banyak masyarakat menyadari bahwa listrik saat ini sudah menjadi kebutuhan utama dalam kehidupan sehari-hari. Hampir seluruh aktivitas manusia bergantung pada energi listrik, mulai dari bekerja, belajar, berkomunikasi, menjalankan usaha, hingga aktifitas di rumah tangga. Di perkantoran dan kampus, listrik dibutuhkan untuk komputer, internet, server, dan sistem administrasi. Di rumah, listrik digunakan untuk penerangan, televisi, pompa air, pengisian perangkat elektronik, hingga peralatan dapur. Bahkan saat ini masyarakat sudah sangat terbiasa menggunakan pendingin ruangan (AC), kulkas, kipas angin, dan berbagai perangkat elektronik lainnya yang seluruhnya bergantung pada pasokan listrik yang stabil. Ketika terjadi pemadaman dalam waktu lama, aktivitas masyarakat langsung terganggu, terutama pada malam hari dan saat cuaca panas.
Terjadinya blackout sistem kelistrikan Sumatera pada Jumaat (22 Mei 2026) yang lalu diduga bermula dari gangguan pada jaringan transmisi 275 kV antara Muara Bungo dan Sungai Rumbai di Jambi akibat cuaca buruk. Gangguan ini menyebabkan jalur transmisi utama keluar dari sistem kelistrikan Sumatera sehingga memicu ketidakseimbangan daya pada berbagai wilayah. Di beberapa daerah terjadi kelebihan suplai listrik (oversupply) yang menyebabkan frekuensi dan tegangan sistem naik sehingga pembangkit otomatis lepas dari jaringan, sementara di daerah lain terjadi kekurangan daya yang menyebabkan frekuensi dan tegangan turun sehingga pembangkit juga keluar dari sistem untuk melindungi peralatan. Kondisi tersebut menimbulkan efek domino yang menyebabkan gangguan meluas dari Jambi, Riau, Sumatera Utara hingga Aceh dan mengakibatkan pemadaman listrik dalam skala besar di wilayah Sumatera.
Sistem transmisi Sumatera sendiri menggunakan jaringan backbone 275 kV yang membentang sepanjang Pulau Sumatera sebagai “tol listrik” utama, kemudian diturunkan melalui gardu induk ke jaringan 150 kV dan 20 kV untuk melayani kebutuhan pelanggan. Terganggunya sistem kelistrikan skala besar ternyata tidak mudah dipulihkan dalam waktu singkat. Ketika terjadi gangguan pada jaringan transmisi utama, proses menyalakan kembali sistem tenaga listrik harus dilakukan secara bertahap agar frekuensi dan tegangan tetap stabil. Jika proses sinkronisasi gagal, pembangkit dapat kembali lepas dari sistem dan pemadaman bisa terjadi lagi.
Pemulihan sistem kelistrikan membutuhkan waktu karena setiap pembangkit harus mencapai kondisi operasi stabil sebelum disinkronkan kembali ke jaringan transmisi. Di Sumatera Barat, PLTA Singkarak dan PLTA Maninjau relatif lebih cepat untuk start-up dengan waktu sekitar 1–2 jam, sedangkan PLTU Ombilin dan PLTU Teluk Sirih dapat memerlukan waktu 6–12 jam karena harus melalui proses pemanasan boiler, penstabilan turbin, dan sinkronisasi generator. Proses sinkronisasi ini dilakukan bertahap untuk menjaga kestabilan frekuensi dan tegangan sistem. Jika pembebanan dilakukan terlalu cepat atau suplai daya belum mencukupi kebutuhan beban, maka frekuensi dan tegangan dapat turun sehingga sistem proteksi bekerja otomatis untuk melepaskan pembangkit atau jaringan dari sistem guna mencegah kerusakan peralatan. Kondisi tersebut dapat memicu gangguan berulang dan memperpanjang proses normalisasi sistem kelistrikan di berbagai wilayah.
Situasi tersebut memperlihatkan pentingnya sumber energi cadangan yang praktis, mandiri, dan mudah digunakan saat kondisi darurat. Salah satu solusi yang mulai banyak dikembangkan adalah portable solar genset atau pembangkit listrik tenaga surya portabel. Berbeda dengan genset berbahan bakar minyak, portable solar genset menggunakan panel surya dan baterai sebagai sumber energi utama. Sistem ini dapat digunakan untuk penerangan, pengisian telepon seluler, internet, peralatan komunikasi, perangkat medis ringan, hingga kebutuhan listrik rumah tangga skala kecil saat terjadi pemadaman. Selain lebih ramah lingkungan, portable solar genset juga tidak berisik, tidak bau, mudah dipindahkan, dan tidak tergantung pasokan bahan bakar. Teknologi ini menjadi sangat penting untuk daerah rawan bencana, wilayah terpencil, posko darurat, fasilitas kesehatan, maupun kebutuhan rumah tangga modern yang semakin bergantung pada listrik dan internet.
Saat ini Laboratorium Sistem Tenaga dan Distribusi Elektrik (STDE) Departemen Teknik Elektro Universitas Andalas juga sedang mengembangkan berbagai jenis portable solar genset untuk berbagai level tegangan dan kapasitas daya (VA). Pengembangan dilakukan untuk menghasilkan sistem catu daya portabel yang lebih cerdas, efisien, dan dapat digunakan pada berbagai kebutuhan lapangan. Penelitian yang dilakukan tidak hanya berfokus pada sistem tenaga surya dan inverter, tetapi juga pada pengembangan metode penentuan State of Charge (SoC) baterai agar kondisi energi baterai dapat dipantau lebih akurat. Beberapa metode telah dan sedang dikembangkan mulai dari menggunakan OCV, metode Coulomb Counting (CC), Filter Kalman sampai metode berbasis Machine Learning seperti ANN dan LSTM.
Sistem monitoring dan pengendalian portable solar genset tersebut juga telah diintegrasikan dengan teknologi Internet of Things (IoT) menggunakan platform ESP32, STM32, dan Raspberry Pi sehingga kondisi baterai, daya keluaran, konsumsi energi, hingga performa sistem dapat dipantau secara real-time melalui perangkat digital. Pengembangan sistem catu daya tenaga surya seperti ini menjadi sangat penting karena kebutuhan peralatan energi terbarukan di Indonesia terus meningkat, sementara sebagian besar teknologi dan produk pendukung masih bergantung pada impor. Melalui penelitian yang dilakukan di Laboratorium STDE Teknik Elektro Universitas Andalas, pengembangan portable solar genset tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan sumber energi cadangan yang andal, tetapi juga mendorong kemampuan rekayasa dan teknologi dalam negeri, mulai dari sistem monitoring, inverter, battery management system, hingga metode cerdas penentuan SoC baterai.
Penelitian tersebut diharapkan dapat mendukung peningkatan kandungan lokal dan substitusi impor pada sektor energi terbarukan nasional sehingga ke depan Indonesia tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu mengembangkan dan memproduksi sendiri dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Pengembangan portable solar genset diharapkan dapat menjadi salah satu solusi ketahanan energi masyarakat di masa depan, terutama saat terjadi gangguan sistem kelistrikan, bencana alam, maupun kondisi darurat lainnya. Ke depan, teknologi energi portabel berbasis tenaga surya diperkirakan akan menjadi bagian penting dalam mendukung kemandirian energi yang lebih aman, bersih, dan berkelanjutan.
Penulis: Prof. Ir. Syafii, Ph. D (Dosen Departemen Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Andalas)

