Sekarang ini, politik ada di mana-mana. Bukan lagi cuma di berita atau debat formal di televisi, tapi juga di Instagram, TikTok, bahkan di antara video hiburan yang kita tonton setiap hari. Tanpa kita sadari, kita sering banget melihat isu-isu politik lewat layar ponsel. Masalahnya, melihat belum tentu berarti ikut terlibat.
Banyak anak muda hari ini sebenarnya cukup “dekat” dengan politik-setidaknya secara visual. Mereka tahu isu apa yang sedang ramai, siapa tokoh yang lagi viral, atau kebijakan apa yang sedang diperdebatkan. Tapi ketika ditanya apakah mereka aktif ikut berdiskusi, berkomentar, atau membagikan konten politik, jawabannya tidak selalu “iya”. Kita jadi punya situasi yang agak aneh: politik makin dekat, tapi partisipasi terasa tetap jauh.
Selama ini ada anggapan bahwa media sosial otomatis membuat orang lebih aktif secara politik. Alasannya sederhana-fiturnya memudahkan. Tinggal klik, komentar, atau share, semua bisa dilakukan dalam hitungan detik. Tidak perlu datang ke forum, tidak perlu jadi anggota organisasi, bahkan tidak perlu keluar rumah. Tapi kenyataannya tidak sesederhana itu.
Fitur memang tersedia, tapi tidak semua orang merasa perlu menggunakannya untuk urusan politik. Banyak yang memilih diam. Ada yang merasa tidak cukup tahu, ada yang malas berdebat, ada juga yang takut disalahpahami atau diserang di ruang publik digital. Akhirnya, banyak yang berhenti di satu titik: melihat saja.
Padahal, di dunia media sosial, perbedaan antara “melihat” dan “ikut terlibat” itu besar sekali. Sekadar melihat konten politik mungkin membuat kita tahu, tapi tidak benar-benar memberi dampak. Dampak baru terasa ketika kita mulai berinteraksi-entah itu memberi komentar, membagikan, atau bahkan sekadar menunjukkan reaksi. Dengan kata lain, partisipasi itu baru terjadi ketika kita berhenti jadi penonton.
Hal yang menarik adalah meskipun banyak anak muda sering terpapar konten politik, tingkat keterlibatan aktifnya justru relatif rendah. Ini menunjukkan ada jarak antara paparan dan tindakan. Kita sering melihat sesuatu, tapi tidak selalu merasa terdorong untuk melakukan apa-apa. Kenapa bisa begitu? Salah satu jawabannya ada pada cara kerja media sosial itu sendiri.
Platform seperti Instagram dan TikTok dirancang supaya kita terus scroll. Kontennya cepat, pendek, dan menarik secara visual. Dalam satu menit, kita bisa melihat puluhan video dengan topik yang berbeda-beda-dari hiburan, gaya hidup, sampai politik. Akibatnya, perhatian kita jadi terbagi. Politik hanya jadi salah satu dari sekian banyak hal yang lewat di layar. Kita mungkin berhenti sebentar, tapi lalu lanjut lagi ke konten berikutnya. Interaksinya jadi dangkal.
Belum lagi soal algoritma. Apa yang kita lihat di media sosial bukan kebetulan, tapi hasil seleksi sistem. Konten yang banyak di-like, dikomentari, atau dibagikan akan lebih sering muncul. Sebaliknya, konten yang sepi interaksi akan cepat tenggelam. Artinya, kalau kita tidak berinteraksi, konten politik itu bisa saja hilang begitu saja dari peredaran.
Di sini peran kita sebenarnya cukup penting. Setiap like, share, atau komentar itu bukan cuma ekspresi pribadi, tapi juga “sinyal” yang menentukan apakah sebuah isu akan terus terlihat atau tidak. Tapi lagi-lagi, kalau kita memilih pasif, ya sinyal itu tidak pernah terkirim.
Di sisi lain, cara anak muda berpartisipasi dalam politik memang sedang berubah. Dulu, partisipasi sering diartikan sebagai sesuatu yang serius dan formal-ikut organisasi, hadir di diskusi, atau terlibat dalam kegiatan politik tertentu. Sekarang bentuknya jauh lebih santai dan fleksibel.
Ikut tren, membagikan video, atau bahkan sekadar mengekspresikan pendapat lewat caption bisa jadi bentuk partisipasi. Tidak selalu besar, tidak selalu konsisten, tapi tetap punya peran dalam membentuk percakapan publik. Masalahnya, bentuk partisipasi seperti ini seringkali tidak berlanjut ke tahap yang lebih dalam. Ia berhenti di level ringan-sekadar reaksi, bukan refleksi.
Selain itu, politik di media sosial juga semakin dipengaruhi oleh emosi. Konten yang bikin marah, sedih, atau merasa “terwakili” biasanya lebih cepat viral. Orang lebih mudah bereaksi terhadap sesuatu yang menyentuh perasaan dibanding sesuatu yang butuh dipikirkan panjang. Akibatnya, diskusi politik sering kali jadi cepat panas, tapi kurang mendalam.
Ini bukan berarti partisipasi anak muda buruk atau tidak penting. Justru sebaliknya-ruang partisipasi sekarang lebih terbuka daripada sebelumnya. Siapa saja bisa bersuara, kapan saja, tanpa harus menunggu akses atau izin. Tapi keterbukaan ini juga datang dengan tantangan.
Kalau partisipasi hanya berhenti di level permukaan, dampaknya juga terbatas. Kita mungkin ramai di timeline, tapi belum tentu berpengaruh di dunia nyata. Jadi, apa yang bisa dilakukan?
Pertama, mungkin kita perlu mulai melihat partisipasi bukan sebagai sesuatu yang besar dan berat, tapi sebagai kebiasaan kecil yang bisa dilakukan secara konsisten. Tidak harus selalu berdebat panjang-kadang cukup dengan memilih untuk tidak diam. Kedua, penting untuk lebih sadar bagaimana kita menggunakan media sosial. Apakah kita hanya konsumsi, atau juga ikut berkontribusi? Apakah kita sekadar lewat, atau benar-benar memperhatikan?
Ketiga, kita perlu lebih berani terlibat, meskipun dalam skala kecil. Karena di dunia digital, hal-hal kecil itu bisa punya efek yang besar ketika dilakukan bersama-sama. Pada akhirnya, media sosial sudah membuka pintu selebar-lebarnya untuk partisipasi politik. Tapi pintu itu tidak akan berarti apa-apa kalau tidak ada yang masuk. Dan pertanyaannya sederhana: kita mau tetap scroll saja, atau mulai ikut bersuara?
Penulis: Diego, M. I. Kom merupakan Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Andalas

