Kita kerap mendongakkan kepala ke langit setiap kali banjir datang, seolah di sanalah sumber segala persoalan bermula. Hujan yang terlalu deras dan iklim yang kian tak menentu menjadi kambing hitam yang mudah kita tunjuk. Padahal, akar persoalannya sering justru berdiam sunyi di bawah telapak kaki kita sendiri: tanah yang perlahan kehilangan daya menahan air.
Tanah sebagai Sistem Hidrologi Alami
Tanah bukan sekadar alas berpijak atau media tumbuh tanaman. Ia merupakan sistem penyangga hidrologi yang bekerja secara laten dengan jaringan pori makro, meso dan mikronya untuk mengendalikan infiltrasi, retensi, dan pelepasan air.
Pada kondisi sehat, tanah berfungsi sebagai penyangga fluktuasi hidrologi bentanglahan, meredam puncak limpasan, dan menjaga aliran air ke sungai.
Ketika tanah terdegradasi, porositas menurun dan konduktivitas hidraulik terganggu maka air hujan tidak lagi terinfiltrasi secara efektif, melainkan berubah menjadi limpasan permukaan atau perkolasi tak terkendali, yang pada akhirnya meningkatkan risiko banjir, gerakan massa tanah, serta degradasi lingkungan.
Batas Daya Serap Tanah
Secara hidrologis, tanah memiliki kapasitas terbatas dalam menyerap air hujan yang dikontrol oleh laju infiltrasi dan konduktivitas hidraulik.
Pada tanah bertekstur seimbang seperti lempung, laju infiltrasi dapat mencapai sekitar 10–20 milimeter per jam, yang dalam kondisi ideal setara dengan kapasitas serap harian sekitar 240–480 milimeter. Tanah berliat menunjukkan laju infiltrasi yang lebih rendah, berkisar 5–10 milimeter per jam.
Sementara itu, tanah yang strukturnya sudah rusak—akibat pemadatan dan kehilangan bahan organik—sering kali hanya memiliki kapasitas infiltrasi efektif kurang dari 30 milimeter per hari. Pada kondisi itu, tanah tidak lagi mampu menampung kelebihan air hujan. Air pun langsung mengalir di permukaan tanah menuju sungai, sehingga risiko banjir meningkat.
Intensitas Hujan dan Memori Basah Tanah
Banjir tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak hujan turun dalam sehari. Yang lebih penting adalah seberapa deras hujan itu turun dan apakah tanah masih mampu menyerapnya atau tidak.
Ketika hujan turun sangat deras dalam waktu singkat, sementara tanah sudah jenuh akibat hujan pada hari-hari sebelumnya, kemampuan tanah untuk menyerap air menurun tajam. Kondisi ini menyebabkan sebagian besar air hujan langsung mengalir di permukaan menuju sungai, sehingga potensi banjir meningkat, meskipun total hujan harian tidak terlalu besar.
Secara klimatologis, hujan harian di atas 150 milimeter sudah dikategorikan sebagai hujan ekstrem di Indonesia, dan banyak kejadian banjir besar tercatat pada kisaran 200–300 milimeter per hari. Namun di wilayah perkotaan atau kawasan dengan drainase buruk serta permukaan yang tertutup beton dan aspal, banjir dapat terjadi pada curah hujan yang lebih rendah, bahkan di bawah 100 milimeter per hari, karena air sulit meresap ke dalam tanah.
Pelajaran dari DAS Batang Anai
Kenyataan ini tergambar jelas di DAS Batang Anai, Sumatera Barat. Sungai ini berhulu di Gunung Marapi dan Gunung Singgalang, mengalir sejajar dengan jalan nasional penghubung kota Padang dan Bukittinggi melintasi kawasan konservasi alam Lembah Anai.
Pada 11 Mei 2024, hujan dengan intensitas sekitar 80 milimeter per hari mengguyur kawasan hulu. Yang sering luput disadari, hujan itu bukan peristiwa tunggal: dalam rentang 1–11 Mei 2024, akumulasi curah hujan di sekitar Batang Anai tercatat mencapai sekitar 535 milimeter.
Tanah telah jenuh jauh sebelum puncak hujan tiba.
Maka ketika hujan lebat turun pada 11 Mei, kapasitas serap tanah runtuh. Aliran lahar dingin Marapi pun meluncur deras—material vulkanis bercampur air menghantam sungai, merusak infrastruktur, dan membuat jalan nasional Padang–Bukittinggi itu putus total.
Belum genap dua tahun, kawasan itu kembali rusak. Pada 26 November 2025, hujan dengan intensitas sekitar 130 milimeter mengguyur Lembah Anai, disusul 100 milimeter pada 27 November 2025. Lebih penting lagi, dalam periode kejadian tersebut, akumulasi curah hujan dari tanggal 19-27 November tercatat mencapai sekitar 700 milimeter.
Air melimpas setinggi beberapa meter, sementara lumpur menumpuk di gerbang masuk Kota Padang Panjang hingga setebal satu sampai dua meter. Akses jalan nasional kembali terputus.
Dua peristiwa ini menjadi cermin betapa rapuhnya sistem kita ketika tanah di hulu kehilangan kemampuan alaminya untuk menahan air.
Tanah di hulu telah lama berada pada kondisi jenuh air, kehilangan ruang untuk menampung tetes hujan berikutnya. Maka ketika hujan ekstrem akibat Siklon Tropis Senyar kembali tercurah, luapan besar Batang Anai pun menjadi tak terelakkan.
Ketika Tanah Kehilangan Nafas
Banjir bukan semata persoalan hujan yang turun terlalu deras, melainkan cermin dari tanah yang perlahan kehilangan daya serapnya.
Pembukaan hutan, pemadatan oleh aktivitas manusia, serta menyusutnya bahan organik membuat pori-pori tanah berkurang dan menyempit. Air yang seharusnya berdiam sejenak di dalam tanah, memberi waktu bagi alam untuk bernapas, justru bergegas mengalir ke sungai, mempercepat datangnya banjir.
Merawat Tanah, Merawat Air
Memulihkan fungsi tanah sesungguhnya bukan perkara mustahil. Kita hanya perlu kembali memberi ruang bagi alam untuk bekerja. Tutupan vegetasi mesti dijaga, sebab akar-akar tanaman membuka lorong alami bagi air untuk meresap, sementara serasah daun melindungi permukaan tanah dari hantaman hujan. Bahan organik bertindak menjadi penopang daya simpan air dan kesuburan tanah.
Di lahan pertanian, olah tanah minimum dan penanaman tanaman penutup akan membantu merawat struktur tanah. Di kota, gagasan “kota spons” kian menemukan relevansinya—melalui taman resapan, sumur infiltrasi, dan perkerasan berpori yang memberi kesempatan air kembali ke bumi.
Perubahan iklim bukan lagi wacana, melainkan kenyataan yang kita rasakan bersama. Hujan kian ekstrem, kemarau terasa makin panjang dan melelahkan. Namun ikhtiar beradaptasi tidak selalu harus mahal dan rumit. Kadang jawabannya justru sangat sederhana: kembali merawat tanah sebagai penjaga air kehidupan.

Interaksi Tanah Sehat atau Rusak dengan Air
Penulis: Prof. Dr. Ir. Dian Fiantis, M. Sc (Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian, Universitas Andalas)

