Padang (UNAND) –Hadirkan Wakil Menteri Lingkungan Hidup, Diaz Hendropriyono isi kuliah umum yang digelar di Convention Hall Universitas Andalas (UNAND), Kamis (20/8). Acara tersebut sekaligus menandai pembukaan Rapat Koordinasi Teknis Tata Lingkungan 2026 Wilayah Barat yang mengusung tema “Tata Lingkungan Berbasis Daya Dukung dan Daya Tampung Lingkungan Hidup Pascabencana Hidrometeorologis”
Dalam kuliah umum tersebut, Diaz menyoroti pentingnya pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan, khususnya dalam menghadapi persoalan sampah, perubahan iklim, dan meningkatnya ancaman bencana hidrometeorologis.
Ia mengawali pemaparannya dengan mengingatkan bahwa sejak peradaban tertua, manusia cenderung membangun kehidupan di sekitar aliran sungai. Hal tersebut menunjukkan betapa pentingnya air bagi keberlangsungan kehidupan manusia. Namun, seiring perkembangan zaman, sumber air menghadapi berbagai ancaman pencemaran, salah satunya akibat sampah.
“Sejak peradaban tertua, manusia hidup di hilir sungai. Ini membuktikan bahwa kebutuhan manusia terhadap air sangat tinggi. Namun, saat ini air banyak dicemari oleh sampah dan pada akhirnya dapat tercemar mikroplastik,” ujarnya.
Menurut Diaz, persoalan lingkungan tidak dapat dilepaskan dari perubahan iklim. Indonesia sebagai bagian dari komunitas global memiliki komitmen dalam upaya mitigasi perubahan iklim melalui kerangka United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) dan Paris Agreement.
Komitmen tersebut salah satunya diwujudkan melalui upaya menurunkan emisi karbon. Diaz mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, untuk mengambil peran dalam mengurangi emisi karbon melalui perubahan perilaku sehari-hari, termasuk mendorong penggunaan transportasi umum secara lebih aktif.
“Pengurangan emisi karbon bukan hanya tanggung jawab pemerintah. Kita semua dapat berkontribusi melalui kebiasaan sehari-hari, salah satunya dengan lebih aktif menggunakan kendaraan umum,” jelasnya.
Salah satu persoalan yang mendapat perhatian dalam kuliah umum tersebut adalah pengelolaan sampah. Diaz menegaskan bahwa pemilahan sampah dari sumber atau hulu merupakan langkah mendasar dalam mewujudkan target Indonesia Bebas Sampah 2029.
“Pemilahan sampah dari hulu untuk mewujudkan Indonesia bebas sampah tahun 2029. Karena jika tidak dipilah, secanggih apa pun sistem kita saat ini tidak akan berfungsi maksimal,” tegasnya.
Ia menjelaskan bahwa teknologi pengelolaan sampah tidak akan berjalan optimal apabila sampah yang masuk ke dalam sistem tidak terlebih dahulu dipilah. Oleh karena itu, kesadaran masyarakat untuk memilah sampah sejak dari sumber menjadi bagian penting dari upaya membangun tata kelola lingkungan yang berkelanjutan.
Selain persoalan sampah dan perubahan iklim, Diaz juga menyoroti perkembangan teknologi kecerdasan artifisial atau Artificial Intelligence (AI). Menurutnya, pemanfaatan AI juga memiliki konsekuensi terhadap lingkungan karena membutuhkan konsumsi energi listrik dan air yang besar dalam pengoperasiannya.
Ia mengingatkan agar perkembangan teknologi tetap diiringi dengan kesadaran terhadap dampak lingkungan. Penggunaan teknologi, termasuk AI, perlu dilakukan secara bijak dengan mempertimbangkan kebutuhan energi dan sumber daya yang digunakan.
Sementara itu, Rektor UNAND, Efa Yonnedi, Ph.D., menegaskan bahwa tata kelola lingkungan tidak boleh ditempatkan sebagai sesuatu yang bertentangan dengan pembangunan ekonomi. Menurutnya, pembangunan ekonomi dan kelestarian lingkungan harus berjalan secara beriringan.
“Tata kelola lingkungan tidak boleh kontradiktif dengan pembangunan ekonomi, tetapi harus berjalan bersama. Menurut kami, pendekatan yang paling cocok adalah pendekatan ekonomi lingkungan untuk memastikan pembangunan dan ekonomi berjalan secara seimbang,” jelasnya.
Rektor menyampaikan bahwa UNAND terus berupaya menerapkan prinsip keberlanjutan dalam pengelolaan lingkungan di kawasan kampus. Salah satunya melalui target zero waste yang hingga saat ini masih terus diupayakan untuk dapat diwujudkan.
UNAND juga mengembangkan berbagai kerja sama untuk mendukung pengelolaan lingkungan, termasuk melalui kolaborasi dengan PT Semen Padang dalam berbagai program yang berkaitan dengan lingkungan dan keberlanjutan.
Selain pengelolaan sampah, UNAND turut berkontribusi dalam pemulihan lingkungan di kawasan terdampak bencana. Salah satu upaya terbaru dilakukan melalui kegiatan penanaman kembali ribuan bibit pohon di sejumlah wilayah terdampak bencana.
“UNAND juga aktif menghijaukan kembali daerah-daerah pascabencana. Baru-baru ini kita melakukan penanaman 3.800 bibit pohon di daerah terdampak bencana,” ungkapnya.
Melalui kegiatan tersebut, UNAND menegaskan komitmennya untuk terus berkontribusi dalam penguatan tata kelola lingkungan, mitigasi perubahan iklim, serta pemulihan ekosistem pascabencana. Kuliah umum ini sekaligus menjadi ruang bagi mahasiswa untuk memahami bahwa persoalan lingkungan membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, masyarakat, dunia usaha, dan generasi muda.
Dengan mengusung perspektif daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup, kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat pemahaman bahwa pembangunan harus dilakukan dengan tetap memperhatikan keberlanjutan lingkungan serta ketahanan masyarakat dalam menghadapi risiko bencana hidrometeorologis. (N)
Humas, Protokol, dan Layanan Informasi Publik.
