Malaysia (UNAND) – Di sela rangkaian Asian Lifelong Learning Conference (ASAIHL) 2026 di Universiti Malaysia Sabah (UMS) pada 3–5 Juli 2026, Wakil Rektor II Universitas Andalas (UNAND) Dr. Hefrizal Handra, membawa satu pesan utama mengenai masa depan pendidikan tinggi: universitas harus melampaui fungsi tradisionalnya sebagai penyelenggara pendidikan dan menjadi penggerak pembangunan daerah melalui inovasi, kolaborasi, dan pembelajaran sepanjang hayat.
Menurutnya, tantangan pembangunan saat ini menuntut perguruan tinggi untuk menghasilkan dampak yang lebih nyata bagi masyarakat. Keberhasilan universitas tidak lagi cukup diukur dari jumlah lulusan, publikasi ilmiah, ataupun peringkat internasional, tetapi juga dari kemampuannya menghadirkan solusi atas berbagai persoalan yang dihadapi daerah.
"Lifelong learning harus menjadi bagian dari cara universitas merancang pendidikan, riset, pengabdian, dan kemitraan. Nilai universitas ke depan akan semakin ditentukan oleh kemampuannya membantu lulusan beradaptasi dengan perubahan dunia kerja, membantu masyarakat menyelesaikan masalah lokal, dan membantu daerah menghubungkan pengetahuan dengan kebutuhan pembangunan," ujarnya pada Kamis (9/7).
Dalam pandangannya, perguruan tinggi memiliki posisi strategis sebagai simpul yang menghubungkan pemerintah, dunia usaha, masyarakat, dan komunitas ilmiah. Karena itu, riset dan inovasi tidak boleh berhenti pada publikasi atau paten, melainkan harus mampu diterjemahkan menjadi solusi yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat serta mendukung kebijakan pembangunan daerah.
Konsep tersebut menjadi salah satu gagasan yang dibawa UNAND dalam forum ASAIHL 2026 melalui paper yang mengangkat Universities as Catalysts for Regional Innovation and Lifelong Learning in Indonesia: The Case of Universitas Andalas. Paper tersebut menegaskan pentingnya integrasi antara jalur pembelajaran yang fleksibel, riset terapan, dan kemitraan lintas sektor sebagai fondasi pembangunan yang berkelanjutan.
Hefrizal menjelaskan universitas di daerah memiliki posisi strategis karena memahami konteks lokal, memiliki kepercayaan publik, dan dapat membangun hubungan jangka panjang dengan pemerintah daerah, industri, komunitas, dan masyarakat. Inilah dasar bagi universitas untuk menjadi katalis pembangunan.
Bagi UNAND, pendekatan tersebut telah menjadi bagian dari pengembangan tridarma melalui berbagai inovasi yang berorientasi pada kebutuhan masyarakat, penguatan kemitraan dengan pemerintah dan industri, serta pengembangan ekosistem riset yang mendukung pembangunan daerah. Dengan pendekatan itu, inovasi tidak hanya dipahami sebagai pencapaian akademik, tetapi sebagai instrumen untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat dan memperkuat daya saing wilayah.
Melalui gagasan yang disampaikan dalam forum ASAIHL 2026, UNAND menegaskan bahwa masa depan perguruan tinggi tidak hanya ditentukan oleh reputasi akademik, tetapi juga oleh kemampuannya menjadi mitra strategis pembangunan. Di tengah berbagai tantangan global dan regional, universitas diharapkan mampu menjadi pusat lahirnya pengetahuan, inovasi, dan kolaborasi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.(*)
Humas, Protokol, dan Layanan Informasi Publik
