Padang (UNAND) – Industri halal global terus menunjukkan perkembangan yang pesat seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap konsumsi produk yang tidak hanya memenuhi prinsip syariat Islam, tetapi juga aman, berkualitas, dan berkelanjutan. Fenomena tersebut mendorong akademisi Universitas Andalas (UNAND), Assoc. Prof. Dessy Kurnia Sari, melakukan penelitian kolaboratif internasional bersama Prof. Baker Ahmad Alserhan dari Sumaya University for Technology, Yordania, untuk mengkaji perilaku konsumen muda terhadap produk halal dan toyyib di Indonesia dan Yordania.

Penelitian ini turut melibatkan tim peneliti UNAND, yakni Laura Amelia Triani, Devi Yulia Rahmi, dan Mayang Larasati sebagai asisten peneliti dari program doktor. Selain itu, mahasiswa juga dilibatkan dalam berbagai tahapan penelitian, mulai dari pengumpulan hingga analisis data. Keterlibatan tersebut menjadi bagian dari proses pembelajaran sekaligus upaya memperkuat kapasitas peneliti muda agar mampu berkolaborasi dalam jejaring riset internasional.

Assoc. Prof. Dessy Kurnia Sari menjelaskan bahwa Indonesia dan Yordania dipilih sebagai lokasi penelitian karena sama-sama memiliki mayoritas penduduk Muslim, tetapi menunjukkan karakteristik sosial, budaya, ekonomi, dan perkembangan industri halal yang berbeda.

"Indonesia merupakan pasar halal terbesar yang berkembang sangat pesat dengan tingkat digitalisasi yang tinggi, sedangkan Yordania merepresentasikan konteks Timur Tengah yang memiliki budaya serta sistem kelembagaan yang berbeda. Perbedaan ini memberikan gambaran yang menarik mengenai bagaimana konsumen muda membangun kepercayaan dan mengambil keputusan dalam membeli produk halal dan toyyib," ujarnya pada Kamis (16/7).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor yang memengaruhi niat membeli produk halal dan toyyib berbeda di kedua negara. Pada konsumen muda Yordania, kesadaran terhadap konsep halal dan toyyib menjadi faktor utama yang mendorong keputusan pembelian. Sebaliknya, pada konsumen muda Indonesia, religiositas menjadi faktor yang paling dominan.

"Semakin tinggi tingkat religiositas seseorang, semakin besar kecenderungannya untuk membeli produk halal dan toyyib. Penelitian kami juga menunjukkan bahwa konsumen muda Indonesia memiliki tingkat kepercayaan yang tinggi terhadap produk halal dalam negeri karena dinilai memiliki kualitas, standar produksi, dan keandalan yang baik," kata Dessy.

Lebih lanjut, penelitian ini menemukan bahwa konsep toyyib di kalangan generasi muda kini dipahami secara lebih luas. Tidak lagi hanya berkaitan dengan aspek kehalalan, tetapi juga mencakup keamanan pangan, kebersihan, kandungan gizi, keaslian produk, praktik bisnis yang etis, hingga pengalaman konsumsi secara keseluruhan.

Riset tersebut juga mengungkap bahwa kepercayaan terhadap produk halal dibangun melalui berbagai mekanisme, seperti sertifikasi halal, regulasi pemerintah, rekomendasi keluarga dan teman, tampilan visual produk, serta informasi yang diperoleh melalui media digital. Konsumen Indonesia cenderung lebih mengandalkan sertifikasi halal resmi dan jaminan kelembagaan, sementara konsumen Yordania lebih menitikberatkan pada pengetahuan lokal, reputasi penjual, kualitas layanan, dan keaslian budaya.

"Temuan ini menunjukkan bahwa konsep halal dan toyyib tidak dapat dipisahkan dalam membangun ekosistem industri halal modern. Produk halal tidak cukup hanya memenuhi ketentuan syariat, tetapi juga harus mampu memberikan jaminan kualitas, keamanan, keberlanjutan, dan etika produksi. Hal ini diharapkan menjadi masukan bagi pemerintah, lembaga sertifikasi halal, maupun pelaku industri dalam merancang kebijakan dan strategi pemasaran yang sesuai dengan karakteristik konsumen di berbagai negara," jelasnya.

Penelitian ini turut berkontribusi terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 12 (Responsible Consumption and Production) melalui penguatan konsumsi dan produksi yang aman serta bertanggung jawab, dan SDG 17 (Partnerships for the Goals) melalui penguatan kemitraan riset internasional antara Indonesia dan Yordania.

“This research is funded by the Indonesian Endowment Fund for Education (LPDP) on behalf of the Indonesian Ministry of Higher Education, Science and Technology and managed under the EQUITY Program (Contract No. 4304/B3/DT.03.08/2025).”(*)

Humas, Protokol, dan Layanan Informasi Publik