Padang (UNAND) – Universitas Andalas (UNAND) bersama Lembaga Akreditasi Mandiri Teknik Persatuan Insinyur Indonesia (LAM Teknik PII) menggelar kegiatan “Sosialisasi Akreditasi dan Penguatan Mutu Program Studi Keteknikan Menuju Unggul 2026” di Gedung Serba Guna Fakultas Hukum Kampus Limau Manis, Kamis (7/5).
Kegiatan ini diikuti peserta dari berbagai perguruan tinggi di Sumatera Barat, Jambi, Riau, dan Kepulauan Riau sebagai upaya memperkuat mutu pendidikan tinggi keteknikan di wilayah Sumatera.
Wakil Rektor I Prof. Syukri Arief menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada LAM Teknik PII atas kepercayaan menjadikan UNAND sebagai mitra sekaligus tuan rumah kegiatan tersebut.
Menurutnya, kehadiran peserta dari berbagai daerah menjadi bukti bahwa semangat membangun mutu pendidikan tinggi keteknikan terus tumbuh dan menguat. “Hari ini kita berada pada era pendidikan tinggi yang berubah sangat cepat. Perguruan tinggi tidak hanya dituntut menghasilkan lulusan, tetapi juga menghasilkan dampak nyata bagi masyarakat, dunia industri, pembangunan daerah, hingga kemajuan bangsa,” ujarnya.
Ia menegaskan, akreditasi tidak boleh lagi dipandang sekadar proses administratif atau pemenuhan dokumen semata. Lebih dari itu, akreditasi merupakan cerminan kualitas, budaya mutu, dan komitmen institusi dalam memberikan pendidikan terbaik kepada mahasiswa.
“Akreditasi bukan sekadar etalase kelengkapan dokumen atau rutinitas menyusun Laporan Evaluasi Diri (LED) dan Laporan Kinerja Program Studi (LKPS) menjelang penilaian. Akreditasi adalah napas institusi serta mencerminkan sejauh mana perguruan tinggi berevolusi, relevansi kurikulum dengan kebutuhan masa depan, serta dampak tridharma perguruan tinggi terhadap peradaban,” katanya.
Prof. Syukri juga menyoroti pentingnya transformasi tata kelola mutu dari sekadar quality assurance menuju quality culture yang mengakar dalam seluruh proses pendidikan tinggi.
Menurutnya, predikat unggul bukanlah garis akhir, melainkan titik awal menuju standar baru yang menuntut perguruan tinggi terus beradaptasi dan melakukan perubahan. Khusus pada bidang keteknikan, ia menilai tantangan global saat ini semakin kompleks seiring hadirnya disrupsi teknologi cerdas, transisi energi global, dan tuntutan revolusi industri yang membutuhkan insinyur tangguh dan adaptif.
“Oleh karena itu, kami sangat mengapresiasi agenda komprehensif yang dirancang LAM Teknik hari ini. Kita tidak hanya membahas kebijakan makro, tetapi juga mendalami diferensiasi misi, akuntabilitas, serta relevansi riset dan pengabdian kepada masyarakat,” ujarnya.
Ia menambahkan, seluruh perguruan tinggi perlu membangun kolaborasi dalam meningkatkan mutu pendidikan keteknikan Indonesia di tingkat global. “Kita tidak sedang berkompetisi dalam ruang hampa, melainkan bersinergi untuk mengangkat harkat dan martabat pendidikan keteknikan Indonesia di mata dunia,” pungkasnya.

Sementara itu, Ketua Komite Eksekutif LAM Teknik PII Prof. Misri Gizan menegaskan komitmen LAM Teknik untuk menjadi stimulator adaptif dalam peningkatan mutu pendidikan tinggi secara berkelanjutan.
Ia mengatakan, sistem akreditasi harus dijalankan secara profesional, imparsial, dan memberikan dampak nyata terhadap kualitas pendidikan tinggi. “Akreditasi bukan akhir, tetapi alat transformasi mutu. Target utama yang sesungguhnya adalah terciptanya budaya mutu berkelanjutan,” ujarnya.
Prof. Misri menjelaskan, LAM Teknik saat ini didukung oleh 385 asesor dan 85 pengurus yang berasal dari kalangan praktisi profesional dengan kualifikasi Insinyur Profesional Madya (IPM) serta akademisi dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia.(*)
Humas, Protokol, dan Layanan Informasi Publik

