Barisan tanaman teh membentang di lereng hijau Duyun. Dari kebun itu, perjalanan pembelajaran berlanjut ke ruang pengolahan, studio promosi, dan perdagangan digital. Di bagian lain kampus, mahasiswa teknik mengenakan perangkat realitas virtual sebelum berhadapan dengan pekerjaan pengelasan yang sebenarnya. Di Guizhou, kami melihat pendidikan tidak berhenti pada penjelasan di ruang kelas; dunia kerja dibawa masuk ke kampus dan menjadi bagian dari pengalaman sehari-hari mahasiswa.

Ketika kami memasuki kawasan kebun dan fasilitas pengolahan teh milik Guizhou Vocational College of Economics and Business, yang terlihat bukan sekadar hamparan tanaman atau deretan peralatan produksi. Setiap bagian tampak terhubung sebagai satu rangkaian pembelajaran. Kebun menjadi tempat memahami bahan baku, ruang pengolahan menjadi tempat mengenal proses dan mutu, sedangkan kemasan serta perdagangan digital membawa mahasiswa sampai kepada konsumen.

Pemandangan kemudian berganti ketika kami berada di fasilitas teknik. Di sini, mahasiswa berlatih dengan peralatan yang menyerupai fasilitas dunia industri. Untuk pekerjaan berisiko tinggi seperti pengelasan, latihan dimulai melalui realitas virtual. Setelah memahami tahapan dan risikonya, barulah mahasiswa beralih ke peralatan fisik, termasuk teknologi pengelasan berbasis robot.

Rangkaian pengalaman itu menyampaikan satu pesan yang sulit diabaikan: mutu pendidikan tidak hanya ditentukan oleh materi yang diajarkan, tetapi juga oleh apa yang benar-benar dilakukan, dialami, dan dikuasai mahasiswa selama berada di kampus.

Pengalaman tersebut kami peroleh ketika delegasi Universitas Andalas menghadiri China-ASEAN Education Cooperation Week 2026 di Guiyang, Provinsi Guizhou, Tiongkok, pada 28 Juli hingga 1 Agustus 2026. Delegasi dipimpin oleh Rektor Universitas Andalas, Dr. Efa Yonnedi, S.E., MPPM, Akt., CA, CRGP., didampingi Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Andalas, Prof. Dr. techn. Marzuki.

Pendidikan Tidak Lagi Berjalan Sendiri

Di forum China-ASEAN Education Cooperation Week, kami bertemu dengan perwakilan perguruan tinggi, pemerintah, dunia usaha, organisasi perdagangan, institusi pendidikan vokasi, dan organisasi kepemudaan dari Tiongkok serta negara-negara ASEAN. Keragaman peserta membuat pembicaraan tentang pendidikan terasa lebih luas daripada urusan kampus semata.

Yang paling kuat terasa adalah perubahan arah kerja sama. Pertemuan internasional tidak lagi hanya dipandang sebagai ruang bertukar kunjungan atau menandatangani dokumen. Percakapan bergerak menuju program bersama, pemanfaatan sumber daya secara kolektif, serta penyatuan pendidikan dengan industri dan teknologi digital.

Sekitar 60 eksekutif perusahaan dari negara-negara ASEAN mengikuti sesi penjajakan kerja sama industri. Pada saat yang sama, sekitar 60 proyek kolaboratif dirancang untuk dilaksanakan sepanjang tahun. Enam proyek diinisiasi, diselenggarakan, dan dilaksanakan secara mandiri oleh perguruan tinggi serta organisasi pendidikan dari negara-negara ASEAN. Lebih dari sepertiga proyek tersebut berkaitan dengan transformasi digital, termasuk kecerdasan artifisial dalam pendidikan, kampus pintar, dan pelatihan berbasis teknologi virtual.

Dari rangkaian forum itu terlihat bahwa pendidikan, riset, teknologi, dan kebutuhan dunia kerja tidak lagi dapat disusun dalam jalur yang terpisah. Semuanya harus bertemu dalam satu ekosistem yang memungkinkan gagasan berkembang menjadi keterampilan, produk, teknologi, dan kesempatan kerja.

Keunggulan Kampus yang Benar-Benar Dihidupkan

Menjelang pembukaan resmi CAECW, Presiden Guizhou Vocational College of Economics and Business, Zhang Jiajun, mengundang delegasi UNAND mengunjungi kampusnya di Guiyang dan Duyun. Kunjungan inilah yang memberi kami kesempatan melihat dari dekat bagaimana sebuah keunggulan institusi dibangun dan dihidupkan.

Perguruan tinggi tersebut memiliki sejarah panjang yang berawal dari Cooperative Training Class of the Southwest People’s Revolutionary University pada 1950. Institusi ini kemudian berkembang melalui penggabungan sejumlah sekolah bidang ekonomi, perdagangan, serta teknologi dan budaya teh. Pada 2017, perguruan tinggi tersebut memperoleh persetujuan Pemerintah Provinsi Guizhou dan terdaftar pada Kementerian Pendidikan Tiongkok sebagai perguruan tinggi negeri penuh waktu.

Kini, kampus tersebut memiliki 25 program studi, antara lain Big Data and Accounting, E-commerce, serta Tea Production and Processing Technology. Namun, perhatian kami tidak terutama tertuju pada jumlah program studinya. Hal yang paling menonjol justru keberanian kampus menetapkan teh sebagai salah satu identitas utama dan kemudian menghadirkannya secara nyata di seluruh proses akademik.

Ke mana pun kami bergerak, identitas itu mudah dikenali. Ada kebun teh, museum teh, ruang pengolahan, peralatan produksi, pusat integrasi pendidikan dan industri, studio tenaga ahli, serta jaringan perusahaan yang terlibat dalam pembelajaran dan pengembangan produk. Teh tidak berhenti sebagai gambar dalam brosur atau kata dalam nama program studi. Ia hadir sebagai bahan belajar, objek riset, produk, kegiatan bisnis, dan ruang kolaborasi.

Mahasiswa mengikuti perjalanan teh dari hulu hingga hilir. Mereka mempelajari budidaya tanaman, pengolahan bahan baku, pengendalian mutu, perancangan kemasan, penyusunan materi promosi, hingga penjualan produk. Alur tersebut membuat mahasiswa dapat melihat bahwa sebuah produk tidak lahir dari satu keahlian saja.

Di sekitar komoditas yang sama, mahasiswa bisnis dan akuntansi belajar mengelola usaha; mahasiswa teknologi informasi mendukung perdagangan digital; mahasiswa desain dan komunikasi memperkuat kemasan serta promosi; sedangkan mahasiswa teknik dapat mengembangkan peralatan dan otomatisasi proses produksi. Kami melihat bagaimana satu keunggulan dapat menjadi meja besar tempat berbagai disiplin ilmu bekerja bersama.

Kunjungan ke kampus utama di Duyun serta pabrik dan perkebunan teh Duyun Maojian semakin memperjelas konsistensi tersebut. Pada saat yang sama, kampus tetap mengembangkan laboratorium mesin, elektro, otomotif, dan fasilitas teknik lainnya. Teh menjadi identitas yang menyatukan, tetapi tidak menutup ruang pertumbuhan bagi bidang ilmu lain.

Di titik inilah kami memahami bahwa bidang unggulan tidak seharusnya menjadi pagar yang membatasi. Keunggulan justru perlu menjadi pusat gravitasi yang menghubungkan program studi dan memberi setiap disiplin ruang untuk menyumbangkan kekuatannya.

Kampus Menghadirkan Dunia Industri

Kesan lain muncul ketika kami memasuki ruang produksi dan bengkel praktik. Peralatannya ditempatkan dalam skala pembelajaran, tetapi proses yang dilatihkan mengikuti alur dunia kerja. Mahasiswa tidak hanya mendengar penjelasan tentang industri; mereka berhadapan dengan situasi yang dibuat sedekat mungkin dengan kondisi profesional.

Puluhan perusahaan bekerja sama dengan kampus dalam pembelajaran, penelitian, pengembangan produk, pemutakhiran teknologi, dan penyesuaian kompetensi. Karena itu, keterlibatan industri tidak berhenti pada kuliah tamu, seminar, magang singkat, atau penandatanganan nota kesepahaman. Industri masuk ke dalam proses pendidikan.

Di ruang produksi teh berskala mini, mahasiswa belajar menggunakan peralatan yang menyerupai fasilitas industri. Mereka tidak berhenti setelah produk selesai dibuat. Produk tersebut harus dikemas, dipromosikan, dan dipasarkan melalui platform perdagangan digital. Dengan pendampingan dosen dan praktisi, mahasiswa bahkan telah memproduksi dan menjual ribuan unit produk.

Pada fasilitas teknik, pola yang sama terlihat dalam bentuk berbeda. Laboratorium, bengkel otomotif, ruang praktik teknik mesin, dan teknik elektro dikembangkan agar mahasiswa terbiasa dengan alat, prosedur, dan urutan kerja yang akan mereka temui setelah lulus. Kampus seakan memperpendek jarak antara hari belajar dan hari pertama bekerja.

Kesiapan tersebut tidak hanya dibangun melalui keterampilan teknis. Mahasiswa juga dilatih menjalankan rapat, menerima dan melayani tamu, berkomunikasi dengan mitra, mempresentasikan produk, membangun hubungan bisnis, serta memahami etika profesional. Ijazah akhirnya bukan satu-satunya bekal; mahasiswa membawa pengalaman kerja, kepercayaan diri, kemampuan berkomunikasi, dan kebiasaan mengikuti standar.

Dalam konteks itu, tingkat penyerapan lulusan yang secara konsisten berada di atas 95 persen selama tiga tahun terakhir menjadi lebih mudah dipahami. Sebagian besar mahasiswa bahkan telah memperoleh kesempatan kerja sebelum menyelesaikan pendidikan. Angka tersebut tidak berdiri sendiri; di belakangnya terdapat proses pembelajaran yang sejak awal diarahkan kepada kebutuhan nyata.

Teknologi Bukan Sekadar Pajangan

Di laboratorium pengelasan, kami melihat makna transformasi digital dalam bentuk yang sangat konkret. Realitas virtual, simulasi digital, kecerdasan artifisial, dan robotika tidak ditempatkan hanya untuk menunjukkan bahwa kampus memiliki fasilitas modern. Teknologi dipakai untuk membuat latihan lebih aman, lebih efektif, dan lebih dekat dengan tuntutan industri.

Sebelum memegang peralatan pengelasan yang sebenarnya, mahasiswa dapat memulai latihan melalui realitas virtual. Di ruang simulasi, mereka mempelajari tahapan pekerjaan, mengenali risiko, dan mengoreksi kesalahan tanpa langsung berhadapan dengan bahaya fisik. Setelah keterampilan dasar terbentuk, latihan dilanjutkan dengan peralatan nyata, termasuk sistem pengelasan berbasis robot.

Apa yang kami saksikan mengubah cara memandang transformasi digital. Transformasi bukan sekadar menambah komputer, memasang aplikasi, atau memamerkan perangkat baru. Teknologi disebut berhasil ketika ia mengubah cara mahasiswa memahami proses, mencoba, membuat kesalahan, memperbaikinya, dan akhirnya menyelesaikan persoalan nyata.

Bahasa, Kompetensi, dan Kemandirian Teknologi

Di luar ruang laboratorium, kami menghadapi pengalaman lain yang tidak kalah penting. Dalam berbagai kesempatan, tidak mudah menemukan masyarakat maupun tenaga pendamping yang dapat berkomunikasi dalam bahasa Inggris. Percakapan menjadi lebih terbatas dan membutuhkan kesabaran untuk memastikan maksud kedua pihak dapat dipahami.

Pengalaman itu menunjukkan bahwa penguasaan bahasa Mandarin akan sangat membantu siapa pun yang ingin belajar, bekerja sama, atau membangun hubungan jangka panjang dengan institusi di Tiongkok. Aplikasi penerjemahan dan kecerdasan artifisial dapat menjembatani sebagian kendala, tetapi komunikasi langsung tetap penting untuk menangkap konteks, memahami budaya, dan membangun kepercayaan.

Namun, keterbatasan bahasa tidak membuat kami meragukan kualitas yang terlihat di kampus. Di balik percakapan yang tidak selalu mudah, tampak keterampilan teknis, kreativitas, ketelitian, dan kemampuan mahasiswa menyelesaikan pekerjaan. Pengalaman tersebut mengingatkan bahwa kemampuan bahasa asing penting, tetapi bukan satu-satunya ukuran mutu pendidikan. Substansi keilmuan dan kemampuan menghasilkan solusi tetap menjadi fondasi utama.

Kami juga merasakan bahwa sejumlah platform dan produk teknologi yang lazim digunakan di luar Tiongkok sulit atau tidak dapat diakses. Akan tetapi, kehidupan digital tetap berjalan karena Tiongkok membangun platform, aplikasi, dan ekosistem teknologinya sendiri. Di tengah keterbatasan akses, tersedia alternatif yang dikembangkan dan dikuasai di dalam negeri.

Dari situ, kemandirian teknologi terlihat bukan sebagai sikap menutup diri, melainkan sebagai kemampuan untuk tetap bergerak ketika teknologi dari luar tidak tersedia. Kemandirian membutuhkan sumber daya manusia, pengetahuan, infrastruktur, dan keberanian mengembangkan alternatif. Perguruan tinggi karena itu tidak cukup mendidik mahasiswa menjadi pengguna; mahasiswa perlu dibimbing untuk memahami, memperbaiki, mengembangkan, dan pada akhirnya menciptakan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan bangsa.

Pelajaran bagi Universitas Andalas

Sepanjang kunjungan, satu pertanyaan terus mengikuti kami: bagaimana pengalaman ini dapat diterjemahkan untuk Universitas Andalas? UNAND memiliki kekuatan dalam pertanian, pangan, peternakan, kesehatan, kebencanaan, biodiversitas, ekonomi kreatif, dan pengolahan komoditas lokal. Modalnya telah tersedia; tantangannya adalah membuat keunggulan itu terlihat dan dialami mahasiswa dalam kegiatan sehari-hari.

Langkah pertama adalah memilih dan mempertegas beberapa bidang unggulan, kemudian menghadirkannya dalam kurikulum, penelitian, laboratorium, produk inovasi, kegiatan mahasiswa, kemitraan industri, pengabdian kepada masyarakat, dan identitas kampus. Keunggulan tidak cukup tertulis dalam rencana strategis. Mahasiswa harus dapat melihatnya ketika memasuki laboratorium, memilih proyek, bekerja dengan mitra, dan menghasilkan produk.

Bayangkan gambir, kakao, kopi, teh, rempah, hasil peternakan, pangan lokal, rendang, serta berbagai produk ekonomi kreatif Sumatera Barat menjadi ruang pembelajaran lintas disiplin. Dalam satu proyek, mahasiswa pertanian menangani produksi; mahasiswa teknik merancang peralatan dan otomatisasi; mahasiswa ekonomi menyusun model bisnis; mahasiswa teknologi informasi membangun sistem digital; mahasiswa kesehatan memastikan keamanan produk; sedangkan mahasiswa ilmu sosial dan budaya memperkuat keterlibatan masyarakat serta nilai-nilai lokal.

Langkah berikutnya adalah mengembangkan teaching factory, laboratorium simulasi, atau ruang praktik bersama mitra industri. Fasilitas tersebut tidak selalu harus besar dan mahal. Yang terpenting adalah mahasiswa bekerja dengan proses, tata kelola, keselamatan, teknologi, dan standar mutu yang sesuai dengan praktik profesional. Industri perlu hadir sejak penyusunan kompetensi, pemutakhiran peralatan, pendampingan praktik, hingga evaluasi hasil belajar.

Kecerdasan artifisial, realitas virtual, dan simulasi digital juga perlu masuk ke dalam modul pembelajaran yang jelas. Teknologi dapat diprioritaskan untuk proses yang kompleks, mahal, atau berisiko tinggi, lalu dihubungkan dengan latihan fisik, proyek nyata, serta persoalan yang dihadapi masyarakat dan industri. Dengan cara itu, teknologi bukan tambahan di pinggir kurikulum, melainkan alat untuk memperdalam pengalaman belajar.

Keberhasilan setiap langkah harus terlihat dalam hasil yang konkret: produk mahasiswa, inovasi yang digunakan mitra, sertifikasi kompetensi, usaha rintisan, peningkatan mutu pengabdian kepada masyarakat, serta penyerapan lulusan. Integrasi pendidikan, penelitian, inovasi, kewirausahaan, dan pengabdian baru benar-benar hidup ketika dapat dilihat, digunakan, dan dirasakan manfaatnya.

Dukungan Pemerintah dan Ekosistem Pendidikan

Di Guiyang, kami juga melihat kawasan yang menampung puluhan perguruan tinggi dalam satu lokasi. Pemandangannya menyerupai sebuah kota universitas: banyak institusi tumbuh berdekatan, masing-masing membawa bidang unggulan, tetapi berada dalam ekosistem yang memungkinkan fasilitas, pengetahuan, dan peluang kolaborasi saling terhubung.

Kedekatan tersebut membuat perguruan tinggi tidak hanya bersaing. Setiap institusi didorong memiliki keunggulan yang jelas agar dapat saling melengkapi. Bagi kami, kawasan itu menunjukkan bahwa ekosistem pendidikan tidak terbentuk hanya karena kampus-kampus berada di tempat yang sama, tetapi karena ada arah pembangunan yang menghubungkan kekuatan masing-masing.

Dukungan pemerintah terlihat kuat pada pembangunan laboratorium, bengkel kerja, fasilitas pembelajaran, dan infrastruktur kampus. Berdasarkan penjelasan yang kami terima, pemerintah terutama menopang penguatan fasilitas, sedangkan industri berkontribusi melalui penyelarasan kompetensi, dukungan praktik, pemanfaatan teknologi, pengembangan produk, dan penyerapan lulusan.

Logikanya sederhana, tetapi dampaknya luas. Pemerintah membangun pendidikan yang bermutu; perguruan tinggi menghasilkan lulusan dan inovasi; industri menggerakkan perekonomian dan menyediakan lapangan kerja; lalu pertumbuhan ekonomi kembali memberi kontribusi kepada negara. Dalam ekosistem seperti ini, kampus dapat lebih fokus pada pendidikan, penelitian, inovasi, dan pengembangan sumber daya manusia, sementara biaya pendidikan tetap dijaga agar terjangkau.

Apa yang kami lihat menegaskan bahwa pendidikan tinggi bermutu tidak dapat dibebankan hanya kepada perguruan tinggi. Ia memerlukan kebijakan pemerintah, dukungan pembiayaan, keterlibatan industri, dan konsistensi pembangunan dalam jangka panjang.

Dari Kunjungan Menjadi Perubahan

Ketika rangkaian kunjungan berakhir, yang paling membekas bukan hanya kebun teh, ruang produksi, laboratorium modern, atau robot pengelasan. Yang tertinggal adalah cara sebuah institusi memilih keunggulan, menyatukan sumber daya, dan menjalankannya secara konsisten sampai terlihat dalam pengalaman belajar mahasiswa.

Karena itu, kerja sama UNAND dengan perguruan tinggi, pemerintah, dan industri di Tiongkok serta negara-negara ASEAN perlu bergerak menuju hasil yang dapat disentuh: program pendidikan bersama, penelitian kolaboratif, pengembangan teknologi, peningkatan kapasitas dosen dan mahasiswa, serta inovasi yang benar-benar digunakan masyarakat.

Penandatanganan kerja sama dan pertukaran kunjungan tetap penting sebagai pintu masuk. Namun, maknanya baru terasa ketika setelah seremoni ada kegiatan yang berjalan, pengetahuan yang dihasilkan, teknologi yang dikembangkan, kapasitas yang meningkat, dan manfaat yang diterima masyarakat.

Guizhou memperlihatkan kepada kami bahwa pendidikan tinggi harus mempersiapkan mahasiswa bukan hanya untuk mencari pekerjaan. Kampus perlu memberi mereka kesempatan menciptakan produk, mengembangkan teknologi, membangun usaha, bekerja lintas disiplin, dan memberikan solusi bagi lingkungannya.

Pada akhirnya, perjalanan internasional yang paling bermakna bukanlah perjalanan yang hanya meninggalkan foto, seremoni, atau dokumen kerja sama. Perjalanan yang bermakna adalah perjalanan yang membawa pulang cara pandang baru, menggerakkan perubahan, dan membuat kampus semakin relevan bagi mahasiswa, masyarakat, serta masa depan.

Penulis: Prof. Dr. techn. Marzuki, Ketua LPPM Universitas Andalas, salah satu delegasi Universitas Andalas dalam China-ASEAN Education Cooperation Week 2026 di Guiyang, Provinsi Guizhou, Tiongkok.