Hari ini, 1 Oktober adalah Hari Lansia Internasional (International Day of Older Persons). Sekilas, peringatan ini mungkin terasa seperti sebuah seremoni tahunan, ada ucapan selamat, seminar kesehatan, pemeriksaan gratis, atau kegiatan sosial bersama para lanjut usia. Padahal, jika direnungkan lebih dalam, Hari Lansia sesungguhnya bukan hanya tentang mereka yang sudah tua. Hari Lansia menajdi pengingat bagi kita semua tentang masa depan diri sendiri.

Menjadi tua bukanlah sesuatu yang hanya dialami oleh orang lain. Setiap hari yang kita jalani sesungguhnya adalah satu langkah menuju usia lanjut. Kita yang muda yang hari ini merasa tubuhnya kuat dan berada di usia produktif, semuanya sedang menuju fase kehidupan yang sama. Pertanyaannya bukan apakah kita akan menua, tetapi dalam kondisi seperti apa kita kelak akan menjalani usia tua.

Momentum Hari Lansia

Hari Lansia Internasional ditetapkan oleh Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui Resolusi 45/106 pada 14 Desember 1990, dengan ditetapkannya tanggal peringatan setiap 1 Oktober. Pada 1991, PBB kemudian mengadopsi United Nations Principles for Older Persons, yang menempatkan kehidupan lansia dalam lima prinsip penting, yaitu kemandirian, partisipasi, perawatan, pemenuhan diri, dan martabat.

Dengan demikian, sejak awal, Hari Lansia bukan sekadar ajakan untuk berbelas kasihan kepada orang tua. Hari Lansia menjadi pengakuan bahwa lansia adalah manusia yang memiliki hak, pilihan, martabat, serta kontribusi bagi keluarga dan masyarakat.

Peringatan tahun 2026 saat ini membawa pesan yang semakin relevan “The Age of Longevity: Rethinking Systems for Longer Lives.” Pesan ini mengingatkan kita bahwa kita hidup dalam zaman ketika manusia semakin panjang umur. Jumlah penduduk dunia berusia 60 tahun ke atas telah mencapai sekitar 1,2 miliar dan diproyeksikan mencapai 2,1 miliar pada 2050. Artinya, dunia bukan hanya menghadapi persoalan bagaimana membuat manusia hidup lebih lama, tetapi juga bagaimana memastikan tambahan usia itu tetap menjadi kehidupan yang bermakna.

WHO menggunakan usia 60 tahun ke atas sebagai kelompok usia lanjut dalam kerangka Decade of Healthy Ageing. Secara praktisnya, lansia dibagi menjadi lansia awal (60–74 tahun), lansia lanjut (75–90 tahun), dan usia sangat lanjut di atas 90 tahun. Pembagian semacam ini membantu kita memahami bahwa usia lanjut bukan sebuah kelompok yang homogen. Seorang berusia 61 tahun tentu memiliki pengalaman dan kemampuan yang berbeda dengan seseorang berusia 91 tahun. Namun, usia kronologis tidak selalu menggambarkan kondisi seseorang secara tepat. Ada orang berusia 70 tahun yang masih aktif, mandiri, bekerja, bepergian, belajar, dan berkontribusi kepada masyarakat. Sebaliknya, ada pula orang yang jauh lebih muda tetapi telah mengalami berbagai keterbatasan fungsi tubuh.

Meskipun demikian ada satu kesamaan yang tidak dapat dihindari, yakni proses menua berlangsung terus-menerus.  Penuaan adalah proses biologis yang kompleks. Seiring waktu, terjadi akumulasi perubahan dan kerusakan pada tingkat sel dan molekul yang secara perlahan menurunkan cadangan fisiologis tubuh. Kemampuan tubuh untuk beradaptasi terhadap tekanan juga berkurang. Otot dapat menyusut, kepadatan tulang menurun, elastisitas pembuluh darah berubah, fungsi penglihatan dan pendengaran dapat berkurang, kemampuan metabolisme berubah, dan sistem tubuh menjadi lebih rentan terhadap berbagai gangguan.

Gambaran tentang perjalanan menuju usia tua ini sebenarnya telah lama dikenal manusia, termasuk dalam perspektif keagamaan. Al-Qur'an menggambarkan perjalanan manusia menuju usia lanjut dalam Surat Yasin [36]: 68 “Dan barang siapa Kami panjangkan umurnya, niscaya Kami kembalikan dia kepada kejadian(nya). Maka apakah mereka tidak memikirkan?”

Ayat tersebut mengandung sebuah renungan yang dalam. Bertambahnya umur tidak selalu berarti bertambahnya kekuatan fisik. Ada fase kehidupan ketika seseorang yang dahulu kuat mulai membutuhkan bantuan. Tangan yang dahulu mampu mengangkat beban berat menjadi lebih mudah lelah. Langkah yang dahulu cepat menjadi lebih lambat. Penglihatan yang dahulu tajam mulai membutuhkan bantuan kacamata. Ingatan dan kemampuan tubuh pun dapat mengalami perubahan.

Akan tetapi memahami penuaan bukan berarti menyerah kepada penuaan, justru sebaliknya. Saat kita memahami bahwa tubuh akan mengalami degenerasi seharusnya membuat kita lebih serius mempersiapkan kesehatan sejak jauh sebelum memasuki usia lanjut.

Ada satu kesalahpahaman di masyarakat yang perlu kita luruskan. Banyak orang menganggap penyakit degeneratif sebagai penyakit yang baru dimulai ketika seseorang menjadi lansia, padahal sesungguhnya tidaklah demikian. Hipertensi, diabetes, penyakit jantung, stroke, osteoporosis, dan berbagai penyakit kronis lainnya memang sering terlihat ketika seseorang telah berusia dewasa atau lanjut usia tetapi proses biologis yang mendasari penyakit tersebut telah berlangsung jauh lebih lama. Perilaku dan berbagai faktor risiko telah terjadi selama 20 tahun atau bahkan lebih.

Penuaan Sebagai Pengingat Kesiapan

Tubuh kita tak ubahnya sebuah pohon yang tumbuh puluhan tahun. Ketika akhirnya batangnya rapuh dan mulai patah, kita tidak mengatakan bahwa kerusakan pohon itu terjadi pada hari ketika ia patah. Prosesnya telah berlangsung lama, sedikit demi sedikit, bahkan mungkin tidak terlihat.

Betapapun kita sering mendengar terjadi serangan jantung mendadadak pada seseorang akibat penyempitan pembuluh darah, sebenarnya proses yang terjadi dalam tubuhnya tidak tidak tiba-tiba. Mungkin saja setelah itu baru diketahui tekananan darahnya tinggi, namun adanya hipertensi atau kekakuan pembuluh darah pada jantungnya sudah terjadi sejak lama.

Oleh karea itu, penyakit degeneratif seharusnya tidak dilihat hanya sebagai persoalan usia tua. Penyakit degenerative merupakan persoalan perjalanan kesehatan sepanjang kehidupan. Kebiasaan makan yang buruk selama bertahun-tahun, kurang bergerak, merokok, tidur yang tidak baik, stres berkepanjangan, obesitas, serta berbagai faktor lingkungan dapat membentuk risiko kesehatan yang baru tampak jelas beberapa dekade kemudian. Inilah alasan mengapa persiapan menjadi lansia sebenarnya harus dimulai jauh sebelum seseorang menjadi lansia bahkan sejak usia sangat muda.

Kita sering memiliki logika yang terbalik terhadap kesehatan, yang ketika masih muda, kita merasa tubuh akan selalu kuat, dan tahan terhadap penyakit. Kita mungkin tidak pernah berfikir justru perilaku yang salah tersebut akan berdampak justru nanti 20 atau 30 tahun kemudian. Lalu, ketika mulai memasuki usia 40-an, kita mulai menyadari beberapa perubahan, tetapi sering menganggapnya sebagai sesuatu yang biasa. Ketika tekanan darah mulai tinggi, kita berkata, “Memang sudah umur.” Ketika berat badan meningkat, kita mengatakan metabolisme sudah melambat. Kemudian, ketika penyakit benar-benar datang, barulah kita mencari cara untuk memperbaikinya.

Mengelola Stres, Aktivits Fisik, dan Pola Makan

Kita sudah juga lama mendengar bahwa pencegahan jauh lebih baikm daripada menunggu tubuh mengalami kerusakan dan penyakit. Namun kita lebih sering  menjadikan kalimat itu sebagai kata-kata bijak dari panduang menuntut gaya hidup dalam realitas sehari-hari. Oleh karenanya, jika kita ingin memiliki masa tua yang sehat maka rsepnya ‘bukan suplemen atau obat-obat mujarab lainnya’ tetapai investasi jangka panjang dalam terhadap pengeloan stress sejak dini, pengaturan pola makan, dan aktivitas fisik fisik.

Pertama yang sangat perlu diperhatikan bagaimana kita mengelola stres psikis atau setiap persolanaan dalam hidup, baik ringan dan kecil atau besar dan berat sekalipun. Stes adalah keniscayaan  dalam hidup karena dengan adanya stres kita terpacu untuk masuk, namun kita perlu menempatkan level posisi stress kita selalau dalam ‘Eustres; atau stres yang normal dan tidak jatuh kepada distress apalagi exasuted dengan kelelahan emosional yang mendalam.

Salah satu prinsip sederhana adalah dengan menjalani kehidupan dengan ‘minfulness’ penuh kedadaran. Kita merespon secara proporsional setiap yang datang dan tidak reaktif terhadap setiap yang muncul sebab “Hidup tak ubahnya kapal yang sedang berlayar. Kita tidak dapat mengubah ombak yang datang, yang dapat kita lakukan adalah terus pandai mengendalikan kapal; tahu kapan menghindar dan tahu kapan dan bagaimana cara menari di atas ombak dan badai.” Ini jugalah salah satu makna surat Ar-Raad [13]:28 “Alaa bidzikrrallahi tathmainnal qulub.” Jiwa yang tenang dan hati yang lapang akan menciptakan respon tubuh terutma jantung, pembuluh darah, dan otak yang sehat pula.

Perhatian kedua adalah aktivitas fisik untuk mempersiapkan kesehatan otot dan tulang di kemudian haru, yang dilakukan sejak dini. 

Banyak orang baru memperhatikan otot ketika sudah mengalami kelemahan. Padahal otot adalah salah satu tabungan kesehatan yang sangat penting untuk masa tua. Otot bukan hanya berkaitan dengan penampilan tubuh. Otot menentukan kemampuan seseorang untuk berdiri, berjalan, dan mempertahankan kemandirian. Maka latihan fisik tidak hanya dipandang sebagai cara menurunkan berat badan tetapi investasi terhadap kemampuan hidup di masa depan. Latihan kekuatan, berjalan, berlari sesuai kemampuan, bersepeda, berenang, latihan keseimbangan, serta aktivitas fisik lainnya dapat menjadi bagian dari gaya hidup sehat. Latihan fisik sekaligus akan memepersiapkan masa tulang yang baik yang dapat memperlabat dan mengurangi risiko osteoporosis dini.

Perhatian yang ketiga adalah pola makan. Pola makan yang cukup, seimbang, beragam, dan kaya makanan utuh serta sumber serat, seperti sayu dan buah merupakan bagian penting dari pola hidup sehat. Sebaliknya, konsumsi berlebihan makanan ultra-proses, gula, garam, dan lemak tidak sehat dapat meningkatkan berbagai risiko kesehatan.

Akan tetapi, pola hidup sehat bukanlah program yang dibuat sekadar terjadwal selama sebulan atau beberapa bulan, dengan beragm nama pola diet. Pola hidup sehat juga bukan perlombaan menuju kesempurnaan dan FOMO di media sosial. Pola hidup sehat adalah bagian dari perjalanan hidup itu sendiri dan dilakukan dengan konsisten.

Menuju Healthspan dengan Hidup Berkualitas Sesuai Usia

Harapan akhir adalah bukan sekadar menuju lifespan atau angka usia dalam tahun tetapi jauh lebih penting adalah healthspan, yakni rentang kehidupan yang dijalani dalam kondisi sehat, aktif, dan memiliki kemampuan fungsional yang baik.

Kita tentu ingin hidup panjang tetapi lebih dari itu yang kita inginkan adalah tetap mampu berjalan ke masjid atau tempat ibadah, pergi ke pasar, bermain bersama cucu, membaca buku, bertemu sahabat, bepergian, bekerja sesuai kemampuan, berkarya, mengambil keputusan sendiri, dan menikmati kehidupan tanpa menjadi beban yang sebenarnya dapat dicegah. Itulah inti dari healthy ageing atau sehat pada masa lansia yang kita inginkan.

Peringatan Hari Lansia bukan hanya ditujukan kepada orang yang sudah tua. Peringatan Hari Lansia sesungguhnya adalah kesehatan bagi semua usia agar mempersiapkan diri untuk tetap sehat dan fungsional di kemudian hari.

Bagi anak muda, Hari Lansia mengingatkan bahwa tubuh yang sehat bukan sesuatu yang otomatis bertahan selamanya. Bagi kita dewasa muda, peringatan ini gaya hidup dna pola makan hari ini adalah investasi bagi kesehatan beberapa dekade mendatang. Kepada keluarga, Hari Lansia mengingatkan bahwa orang tua bukan sekadar seseorang yang harus dirawat ketika sakit, tetapi manusia yang tetap memiliki martabat, pilihan, pengalaman, dan hak untuk berpartisipasi.

Kepada pemerintah dalam perspektif kebijakan, peringatan Hari Lansia mengingatkan bahwa menciptakan lingkungan yang baik juga menentukan bagaimana seseorang menua. Trotoar yang aman, transportasi publik yang mudah diakses, fasilitas kesehatan yang ramah lansia, ruang sosial yang inklusif, serta kesempatan belajar sepanjang hayat merupakan bagian dari kesehatan lansia. Kesadaran akan kesehatan lansia mengingatkan bahwa masyarakat yang menua membutuhkan sistem kesehatan dan perlindungan sosial yang juga dipersiapkan sejak sekarang. Jumlah penduduk lansia akan terus meningkat, tantangannya bukan lagi sekadar bagaimana mengobati penyakit ketika seseorang sudah tua tetapi bagaimana membangun masyarakat yang memungkinkan kakek nenek kita, orang tua kita, dan bahka kita sendiri menua dengan sehat, mandiri, aktif, dan bermartabat. Semoga

Penulis: Prof. Hardisman (Guru Besar FK-UNAND)