Ada masa ketika kita relatif tahu mengapa seseorang didengar. Dokter didengar ketika bicara soal kesehatan, guru ketika bicara soal pendidikan, tokoh agama ketika menjelaskan perkara keagamaan, dan orang yang dituakan karena pengalaman serta rekam jejaknya. Dunia itu tentu tidak sempurna, gelar bisa menipu dan orang yang dihormati pun bisa keliru. Tetapi setidaknya ada jarak antara dikenal dan dipercaya. Media sosial membuat jarak itu makin tipis. Hari ini seseorang bisa hadir di layar kita berkali-kali, bicara dengan sangat yakin tentang banyak hal, lalu perlahan terasa seperti orang yang memang pantas didengar. Bukan karena kita sudah memeriksa siapa dia, melainkan karena kita terlalu sering melihatnya. Keterlihatan menciptakan keakraban, dan keakraban kadang diam-diam kita baca sebagai kredibilitas.
Kasus deepfake yang mencatut Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa pada April 2026 memperlihatkan persoalan itu dalam bentuk yang ekstrem. Sebuah akun TikTok palsu mencatut Sekretariat Jenderal Kementerian Keuangan dan menyebarkan video yang seolah-olah menampilkan Menteri Keuangan mengumumkan bantuan keuangan. Komdigi menyatakan audio dalam video tersebut terindikasi kuat sebagai hasil rekayasa AI, sementara Kementerian Keuangan menegaskan bahwa video yang beredar merupakan hoaks deepfake. Yang dipakai pelaku bukan hanya teknologi, tetapi juga kebiasaan kita menilai sebuah pesan. Wajah pejabat, jabatan resmi, dan simbol lembaga membuat pesan terasa lebih sah. Pelaku tidak perlu membangun kepercayaan dari nol; ia cukup menempelkan informasi palsu pada tanda-tanda yang sudah kita kenali sebagai sumber yang patut dipercaya. Yang dipalsukan, dengan demikian, bukan cuma suara atau gambar, tetapi juga alasan kita untuk percaya.
Tanpa deepfake pun mekanisme serupa bekerja setiap hari dalam bentuk yang lebih halus. Kita melihat sebuah akun memiliki satu juta pengikut, video ditonton tiga juta kali, atau potongan pendapat beredar di mana-mana. Angka-angka itu mudah berubah menjadi kesan bahwa orang tersebut penting. Padahal platform sangat baik mengukur perhatian, bukan kepercayaan. Video bisa ditonton jutaan kali karena orang kagum, tetapi bisa juga karena marah, geli, tidak percaya, atau ingin melihat keributan di kolom komentar. Kita membagikan unggahan sambil menulis, “Lihat, ngawur sekali,” tetapi bagi sistem tindakan itu tetap memperpanjang umur konten. Pada akhir Juli 2026, Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria mengingatkan bahwa algoritma media sosial ikut membentuk persepsi publik dan isu sensasional lebih cepat menjadi viral daripada substansi. Ia juga menekankan bahwa algoritma platform bekerja untuk merebut perhatian. Jadi, persoalannya juga tentang siapa yang berhasil merebut perhatian.
Ironinya, pada saat orang yang kurang kompeten bisa terdorong ke depan karena pandai merebut perhatian, orang yang benar-benar menguasai persoalan justru kadang ditolak karena mengatakan sesuatu yang tidak ingin kita dengar. Ada ungkapan lama, shoot the messenger: ketika pesannya tidak menyenangkan, pembawa pesannya yang diserang. Di media sosial, gejala ini mudah ditemukan. Pakar menjelaskan berdasarkan data, lalu justru disebut bodoh karena kesimpulannya tidak cocok dengan keyakinan kelompok tertentu. Latar belakang pribadinya dibongkar, cara bicaranya diejek, atau potongan kalimatnya dijadikan bahan olok-olok. Sementara orang lain yang tidak memiliki keahlian serupa disambut karena mengatakan persis apa yang ingin didengar audiens. Tentu pakar bukan manusia yang selalu benar. Keahlian tidak membuat seseorang kebal dari kritik, dan pendapat ahli tetap harus diuji. Tetapi menguji argumen berbeda dengan menolak pembawanya hanya karena kesimpulannya mengganggu keyakinan kita. Di titik itu, yang sedang dipilih bukan lagi siapa yang paling tahu, melainkan siapa yang paling nyaman untuk dipercaya.
Karena itu, persoalan “siapa yang didengar” sebenarnya lebih rumit daripada jumlah pengikut. Seseorang bisa punya suara tanpa benar-benar didengar, bisa sangat terlihat tanpa dipercaya, dan bisa dipercaya tanpa selalu diikuti. Kita sering mencampur ketiganya. Ketika seseorang viral, kita buru-buru menyebutnya berpengaruh. Ketika seseorang dipercaya, kita menganggap orang akan mengikuti sarannya. Padahal kita semua pernah menerima nasihat dari orang yang kita hormati lalu memilih tidak mengikutinya. Sebaliknya, kita bisa menaati aturan di sekolah, kantor, atau lembaga pemerintah tanpa merasa pembuat aturan itu paling bijaksana; kita patuh karena ada struktur dan konsekuensi. Kepercayaan pun punya batas. Dokter yang sangat baik belum tentu layak dijadikan rujukan soal konstitusi. Pendakwah yang kita dengarkan setiap minggu belum tentu orang pertama yang kita tanya tentang investasi. Profesor pun tidak otomatis menjadi ahli untuk setiap persoalan. Dikenal, dipercaya, dan mampu membuat orang bertindak adalah perkara yang saling berkaitan, tetapi bukan hal yang sama. Gagasan ini juga menjadi salah satu garis utama naskah akademik yang mendasari tulisan ini: keterlihatan, pengakuan, kepercayaan, dan tindakan tidak selalu berjalan beriringan.
Media sosial juga punya paradoks lain. Ia dapat memperbesar kepercayaan yang sudah dibangun seseorang. Orang yang punya pengetahuan, pengalaman, dan reputasi dapat menjangkau orang yang sebelumnya tidak mengenalnya. Tetapi layar yang sama juga membuat kepercayaan lebih mudah diuji. Semakin sering seseorang tampil, semakin banyak bagian dirinya yang tersedia untuk diperiksa. Ucapan lama muncul kembali, sikap hari ini dibandingkan dengan nasihat tahun lalu, dan ketidakkonsistenan lebih cepat terlihat. Media sosial bekerja seperti pengeras suara sekaligus lampu sorot: ia memperbesar reputasi, tetapi juga memperbesar kemungkinan reputasi itu retak. Karena itu, orang yang jarang muncul belum tentu tidak berpengaruh. Ada orang yang hampir tak punya jejak digital, tetapi tetap menjadi tempat bertanya di keluarga, sekolah, organisasi, tempat kerja, atau komunitasnya. Sebaliknya, linimasa kita penuh nama yang pernah sangat besar selama dua minggu lalu hilang bersama pergantian isu.
Mungkin karena itu pertanyaan “siapa yang viral?” sebenarnya tidak terlalu penting. Pertanyaan yang lebih berguna adalah: siapa yang tetap didengar setelah viralitas lewat, dan mengapa? Media sosial penting karena membuka mikrofon bagi lebih banyak orang. Warga biasa dapat mengangkat persoalan yang diabaikan, menantang penjelasan resmi, bahkan mendorong institusi merespons. Tetapi membuka mikrofon dan membangun kepercayaan adalah dua pekerjaan berbeda. Yang pertama bisa dilakukan platform dalam hitungan detik; yang kedua biasanya menuntut waktu, pengalaman, konsistensi, serta pengakuan orang lain. Maka ketika sebuah wajah kembali muncul di layar dengan suara paling yakin, kita mungkin perlu menahan satu detik sebelum menganggapnya paling tahu. Apakah kita percaya karena ia memang memahami persoalannya, atau hanya karena algoritma terlalu sering mempertemukan kita dengannya? Terkenal, dipercaya, dan sekadar viral memang bisa berada pada orang yang sama. Tetapi tidak selalu.
Penulis: Yayuk Lestari. S.Sos. M.A (Dosen Komunikasi Politik FISIP Universitas Andalas, dan pakar media).
