Pada Selasa, 7 April 2026, tepatnya pukul 8 PM Waktu Timur, sebuah postingan di platform diskursus digital Truth Social dari Donald Trump hadir menandai pergeseran radikal dalam konflik geopolitik kontemporer yang tidak hanya berlangsung melalui kekuatan militer semata, tetapi juga melalui praktik diskursif yang sarat makna ideologis.
Pada Selasa, 7 April 2026, pernyataan “God Bless the Great People of Iran” dalam postingan yang disampaikan oleh Donald Trump beberapa saat setelah melakukan serangan terhadap infrastruktur dan fasilitas sipil Iran memunculkan banyak perdebatan. Ujaran ini tampak sederhana, namun dalam perspektif kajian ilmu linguistik, ia merepresentasikan strategi komunikasi politik yang kompleks, terutama ketika diproduksi di tengah eskalasi serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.
Konteks Sosial dan Diskursif
Dalam kajian sosio-pragmatik, makna ujaran tidak dapat dilepaskan dari konteks sosial (Leech, 1983). Ujaran Trump dalam konteks ini yang mana hadir bersamaan dengan ancaman militer dan intensifikasi serangan, menciptakan sebuah kontradiksi antara bentuk linguistik yakni ekspresi empati yang dihadirkannya dengan realitas sosial yakni melalui kekerasan yang terjadi. Sementara itu, dari sisi partisipan, Trump hadir sebagai aktor politik global versus rakyat Iran sebagai audiens tidak langsung dengan membawa pesan kunci menggunakan nada simpatik yang mana justru bertolak belakang dengan konteks agresif invasi yang dilakukan oleh AS Israel di Iran.
Dalam kajian pragmatik, efektivitas sebuah tuturan sangat bergantung pada konteks sosial dan relasi kuasa. Dengan memilih audiens publik dibandingkan pemegang otoritas, Trump secara tidak langsung memberikan implikatur konvensional dalam tuturannya sebagaimana dirumuskan oleh Grice. Trump secara sengaja mencoba untuk melanggar 'maksim relevansi' dalam hubungan antar-negara untuk mengekspresikan bahwa pemerintah Iran bukan lagi mitra tutur kooperatif dan bahkan melabelinya sebagai sebuah rezim. Ujaran Trump juga hadir sebagai pelanggaran terhadap maksim kualitas yakni truthfulness dari sebuah tuturan karena tidak selaras dengan tindakan nyata yakni invasi yang dilakukannya. Tidak hanya itu, pelanggaran terhadap maksim relevansi juga turut serta hadir dalam konteks ketika empati yang disampaikan lahir dalam konteks agresi. Dalam ilmu bahasa pelanggaran-pelanggaran ini lebih jauh akan menghasilkan sebuah implikatur yakni berupa “simpati yang dituturkan Trump tidak sepenuhnya tulus dan terdapat tujuan politis di balik ujaran yang dihasilkannya”. Implikatur seperti inilah yang kemudian ditangkap oleh publik global sebagai bentuk ironi atau bahkan sinisme.
Sementara itu dari sisi sosiopolitik, postingan Presiden AS ini yang mana dipublikasikan pada momentum presisi ketika gerakan invasi militer AS Israel terjadi di sejumlah titik infrastruktur dan fasilitas sipil di kota-kota Iran, difungsikan tidak hanya sebagai sebuah ucapan kalimat deklaratif bernuansa doa semata, melainkan juga mengungkapkan sikap psikologis atau perasaannya terhadap sebuah keadaan yakni lebih tepatnya rasa bahagia dengan kehancuran pemerintahan Iran saat ini melalui diksi-diksi yang ditampilkannya dan ucapan selamatnya kepada rakyat Iran atas klaim runtuhnya rezim pemerintahan Iran per saat ini. Namun, yang menariknya lagi adalah terdapatnya ilokusi ganda (dual illocutionary force) dalam tuturan yang dihasilkan Trump yakni selain sebagai ekspresi simpati, ujaran ini juga berfungsi sebagai alat legitimasi kebijakan militer, strategi persuasi global, upaya membangun citra moral. Hal ini senada jika kita melihatnya dalam kerangka perspektif "teori kesantunan" (politeness theory) dari Brown dan Levinson. Tuturan Trump dalam hal ini merupakan sebuah upaya membangun positive face (citra positif) di mata dunia dan rakyat Iran setelah serangan yang dilakukan AS Israel pada infrastruktur dan fasilitas sipil Iran di sejumlah titik. Ini didukung dan dimunculkan dalam diksi dan kalimat seperti “I don’t want that to happen, but it probably will”, serta penggunaan perbandingan dalam kalimat “we have complete and total regime change, where different smarter, and less radicalized minds prevail, maybe something revolutionaryly wonderful can happen..”. Ungkapan Trump ini dianalisa sebagai sebuah strategi positive politeness dengan turut memuji “great people” kepada rakyat Iran yang mana tujuannya adalah untuk menunjukkan solidaritas dan keberpihakkannya pada rakyat Iran. Namun, strategi ini bersifat paradoks karena secara linguistik ia mencoba menjaga “face” namun secara material justru mengancam keberlangsungan hidup rakyat Iran. Tuturan ini menciptakan apa yang kemudian disebut sebagai pseudo-politeness, yakni kesantunan yang bersifat permukaan dan strategis.
Dimensi Psikolinguistik: Manipulasi Kognitif dan Dekonstruksi Identitas
Dari perspektif psikolinguistik, tuturan Trump ini dapat diidentifikasi dirancang untuk memanipulasi proses kognitif pembaca, yakni dalam hal ini rakyat Iran, dengan memanfaatkan retakan identitas sosial melalui dekonstruksi dan framing. Mengacu pada teori George Lakoff, Trump dalam konteks ini mencoba melabeli pemerintahan Iran sebagai sebuah rezim dengan diksi-diksi seperti “less smarter, radicalized, extortion, corruption, and death.” Ia mencoba untuk melabeli, mengkontruksi, dan memframing pikiran dunia dan rakyat Iran mengenai sosok pemerintahan Iran dan para pemimpinnya. Trump membingkai rakyat Iran sebagai “korban yang baik” (great people) sementara konflik sebagai upaya melawan rezim, bukan rakyat. Framing ini secara tidak langsung berfungsi untuk mengurangi resistensi global terhadap tindakan militer yang dilakukannya, menciptakan legitimasi moral, memisahkan target serangan dari korban sipil secara retoris. Dengan berupaya “memanusiakan” pihak yang secara politik dikonstruksi sebagai musuh, Donald Trump secara strategis mencoba meruntuhkan dikotomi kognitif in-group vs out-group yang lazim dalam wacana konflik. Melalui ungkapan tersebut, ia mereposisi rakyat Iran bukan sebagai bagian dari entitas yang harus dimusuhi, melainkan sebagai subjek yang layak mendapatkan empati universal. Namun, konstruksi ini tidak sepenuhnya bersifat altruistik. Secara sosio-pragmatik, strategi tersebut dapat dibaca sebagai upaya membangun ilusi collective empathy yang melampaui batas negara, sekaligus mempertahankan legitimasi moral atas tindakan militer yang sedang berlangsung. Dengan kata lain, empati yang ditampilkan berfungsi sebagai perangkat retoris untuk menciptakan jarak simbolik antara “rakyat” dan “rezim”.
Lebih lanjut, pernyataan "God Bless the Great People of Iran" adalah sebuah instrumen soft power yang tajam mengacu pada konsep "diskursus dan kekuasaan" oleh Michel Foucault. Pernyataan Trump ini adalah sebuah upaya AS untuk memenangkan pertarungan kebenaran di ruang publik serta pembenaran atas aksi penyerangan yang dilakukannya dengan menyamarkan konflik dengan bahasa religius dan membangun citra moral di tengah tindakan koersif. Ujaran “God Bless the Great People of Iran” tidak dapat dipahami secara literal semata, namun ia merupakan sebuah praktik diskursif yang mengandung ilokusi ganda, strategi kesantunan semu, pelanggaran prinsip kerja sama, serta framing ideologis yang kompleks.
Pada akhirnya dalam konteks konflik, bahasa dapat menjadi medan pertempuran tersendiri yakni tempat makna diproduksi, dinegosiasikan, dan dimanipulasi. Memahami ujaran politik tidak cukup hanya pada apa yang dikatakan, tetapi juga pada bagaimana, mengapa, dan dalam konteks apa ia diucapkan.
Penulis: Shilva Lioni (Dosen Program Studi Sastra Inggris, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas)

