Bali (UNAND) – Guru Besar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Andalas (UNAND) Prof. Henny Herwina, mempresentasikan hasil riset mengenai pentingnya keanekaragaman serangga tropis dalam menjaga keseimbangan ekosistem pada The 7th International Conference on Environmental Engineering (ICOEE) 2026 yang berlangsung di Bali, 30–31 Juli 2026.
Konferensi internasional bertema Engineering Solutions for Environmental Resilience in a Changing World tersebut diselenggarakan oleh Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dengan Universitas Andalas sebagai salah satu co-host bersama sejumlah perguruan tinggi lainnya. Kegiatan ini diikuti 243 peserta dari 49 universitas yang mewakili 19 negara.
Dalam paparannya, Prof. Henny menjelaskan bahwa serangga merupakan kelompok organisme paling beragam di bumi yang memiliki peran penting dalam menjaga keberlanjutan ekosistem. Selain berfungsi sebagai penyerbuk tanaman, serangga juga berperan sebagai pengurai bahan organik, pengendali alami hama, serta sumber pakan bagi berbagai organisme dalam rantai makanan.
Melalui kolaborasi penelitian dengan ahli entomologi dari India dan Nepal, tim peneliti UNAND melakukan pemantauan serangga bermanfaat di Sumatera Barat menggunakan metode Rapid Assessment. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ordo Coleoptera (kumbang), bersama Hymenoptera (semut, lebah, dan tawon) serta Lepidoptera (kupu-kupu dan ngengat), merupakan kelompok dengan kekayaan spesies tertinggi pada empat tipe habitat yang diamati di Kota Padang dan Kabupaten Sijunjung.
Pada forum ICOEE 2026, Prof. Henny memaparkan hasil penelitian mengenai keanekaragaman dan struktur komunitas Coleoptera pada kawasan hutan dan perkebunan di dua lanskap Sumatera Barat, yaitu Limau Manis dan Kawasan Ekowisata Geopark Silokek. Penelitian menggunakan metode quadrat protocol dan pan trap tersebut berhasil mengidentifikasi 78 spesies Coleoptera dari 25 famili.
Sekitar 13 persen dari spesies yang ditemukan berperan sebagai pengurai (decomposer). Keanekaragaman kumbang pengurai tertinggi tercatat di perkebunan karet Geopark Silokek dengan lima spesies, sedangkan kumbang Xyleborus (Curculionidae) menjadi spesies yang paling melimpah di kawasan Hutan Limau Manis.
Penelitian juga menunjukkan bahwa Biological Educational and Research Forest UNAND di Limau Manis memiliki kelimpahan individu dan kekayaan spesies Coleoptera tertinggi dibandingkan seluruh lokasi penelitian. Temuan ini menegaskan bahwa kompleksitas habitat dan ketersediaan sumber pakan sangat menentukan keberagaman serangga serta fungsi ekologisnya.
Prof. Henny menegaskan bahwa pelestarian keanekaragaman serangga merupakan bagian penting dari upaya menjaga ketahanan ekosistem dan mendukung pencapaian Sustainable Development Goal (SDG) 15: Life on Land, yang berfokus pada perlindungan keanekaragaman hayati dan pengelolaan ekosistem daratan secara berkelanjutan.
Keikutsertaan Guru Besar FMIPA tersebut dalam ICOEE 2026 sekaligus memperkuat kontribusi UNAND di tingkat internasional melalui publikasi hasil riset yang mendukung konservasi biodiversitas dan pengembangan solusi berbasis sains untuk keberlanjutan lingkungan.
This activity was funded by the Indonesian Endowment Fund for Education (LPDP) on behalf of the Indonesian Ministry of Higher Education, Science, and Technology, and managed under the EQUITY Program (Contract No. 4304/B3/DT.03.08/2025).(*)
Humas, Protokol, dan Layanan Informasi Publik
