Padang (UNAND) – Suasana penuh makna menyelimuti Convention Hall Universitas Andalas pada Selasa (2/6) saat ratusan peserta menghadiri kegiatan UNAND Berpuisi, sebuah perhelatan budaya yang digelar dalam rangka memeriahkan Dies Natalis ke-70 Universitas Andalas, Lustrum ke-14, sekaligus memperingati ulang tahun ke-70 penyair ASEAN, Syarifuddin Arifin.

Kegiatan ini menjadi ruang pertemuan antara sastra, budaya, dan refleksi kemanusiaan. Melalui puisi, Universitas Andalas mengajak sivitas akademika dan masyarakat untuk kembali merawat kepekaan di tengah derasnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Mewakili pimpinan universitas, Sekretaris Universitas Andalas, Dr. Aidinil Zetra, menyampaikan bahwa puisi memiliki peran penting dalam menjaga nurani dan kemanusiaan.

“Puisi adalah jembatan antara apa yang terlihat dengan apa yang kita rasakan. Ketika sebuah bangsa kehilangan kemampuan berpuisi, yang hilang sesungguhnya bukan hanya sastra, tetapi juga kemampuan merasakan penderitaan sesama, kemampuan menghargai keindahan, dan kemampuan menjaga kemanusiaan,” ujarnya.

Menurutnya, puisi bukan sekadar rangkaian kata, melainkan media untuk menyampaikan rasa dan mengungkap makna kehidupan yang sering kali tidak dapat dijelaskan melalui angka maupun data. Karena itu, ia menilai kegiatan UNAND Berpuisi hadir pada momentum yang tepat di tengah peradaban modern yang semakin mengedepankan kecerdasan dan efisiensi.

“Universitas yang besar tidak hanya menghasilkan orang-orang cerdas, tetapi juga orang-orang yang peka. Sebab kecerdasan tanpa kepekaan dapat melahirkan kekuasaan yang dingin,” katanya.

Ia pun mengajak seluruh peserta untuk bersama-sama menjaga nurani bangsa agar tetap tegak di tengah kemajuan dan kecerdasan generasi masa kini.

Selain pembacaan puisi, kegiatan ini juga menghadirkan orasi budaya yang disampaikan oleh Riri Satria, Komisaris Utama PT ILCS Pelindo Solusi Digital. Dalam paparannya yang bertajuk “Deepfake AI dan Disrupsi Dunia Kepenulisan, Kepenyairan, dan Kebudayaan”, ia mengulas tantangan serta peluang yang dihadirkan kecerdasan buatan terhadap dunia kreatif dan kebudayaan.

UNAND Berpuisi turut menghadirkan berbagai seniman, budayawan, dan penyair yang membacakan karya-karya mereka di hadapan para peserta. Penampilan tersebut tidak hanya menjadi bentuk penghormatan kepada Syarifuddin Arifin, tetapi juga menjadi pengingat bahwa sastra tetap memiliki ruang penting dalam membangun masyarakat yang berbudaya dan berempati.

Humas, Protokol, dan Layanan Informasi Publik