Padang (UNAND) – Di balik sayuran hijau yang tampak segar di pasar, para ilmuwan mulai menyoroti ancaman tersembunyi berupa akumulasi logam berat pada produk pertanian. Penggunaan pestisida, fungisida, dan pupuk kimia secara intensif dalam jangka panjang dinilai dapat meningkatkan kandungan logam berat di tanah maupun tanaman pangan.
Guru Besar Fakultas Pertanian UNAND Prof. Dr. Dian Fiantis, MSc, mengungkapkan bahwa logam berat seperti tembaga (Cu), kadmium (Cd), timbal (Pb), dan arsen (As) dapat masuk ke lahan pertanian melalui agrokimia yang digunakan petani.
“Akumulasi logam berat berlangsung perlahan dan sering tidak disadari karena tanaman tetap terlihat sehat dan produktif,” ujarnya pada Minggu (17/5).
Menurut Prof. Dian, fungisida berbasis tembaga banyak digunakan pada tanaman hortikultura seperti cabai, tomat, kentang, dan bawang merah untuk mengendalikan penyakit tanaman. Namun penggunaan berulang dapat menyebabkan penumpukan Cu pada lapisan atas tanah. Selain itu, pupuk fosfat juga diketahui membawa pengotor alami berupa Cd dan Pb.
Hasil riset tim UNAND di kawasan Gunung Talang dan Gunung Marapi menunjukkan adanya akumulasi logam berat pada lahan hortikultura akibat kombinasi material vulkanis dan aktivitas pertanian intensif. Kandungan Cu tercatat relatif tinggi, sementara Pb, As, dan Cd ditemukan dalam konsentrasi lebih rendah namun tetap perlu diwaspadai.
Ia menjelaskan, beberapa logam berat memiliki sifat kimia yang mirip dengan unsur hara sehingga dapat ikut terserap oleh akar tanaman bersama air dan nutrisi. Sebagian logam tertahan di akar, tetapi sebagian lain dapat bergerak menuju daun, buah, dan umbi.
Sayuran daun seperti bayam, kangkung, dan sawi termasuk tanaman yang relatif mudah mengakumulasi logam berat. Pada cabai dan tomat, residu pestisida dapat masuk melalui daun lalu bergerak menuju buah, sedangkan kentang dan bawang merah rentan karena tumbuh dekat dengan tanah.
Menurutnya, ancaman logam berat sering sulit dikenali karena tidak meninggalkan tanda fisik pada tanaman. Padahal konsumsi dalam jumlah kecil secara terus-menerus dapat berdampak terhadap kesehatan manusia. Kadmium dapat menumpuk di ginjal dan tulang, sementara timbal berisiko mengganggu sistem saraf dan perkembangan anak.
Untuk mengurangi risiko residu, Prof. Dian mendorong penggunaan pestisida secara bijaksana dengan mengikuti dosis anjuran serta mematuhi jeda aman antara penyemprotan dan panen. Ia juga mengingatkan pentingnya pengawasan kesehatan tanah dan keamanan pangan secara rutin.
“Pertanian modern tidak cukup hanya mengejar panen tinggi, tetapi juga harus menjaga kualitas lingkungan dan kesehatan masyarakat dalam jangka panjang,” tutupnya.(*)
Selengkapnya juga bisa baca Mewaspadai ancaman logam berat di balik pangan yang tampak sehat
Humas, Protokol, dan Layanan Informasi Publik

