Tidak semua mahasiswa yang terlambat menyelesaikan tugas akhir mengalami kesulitan karena tidak mampu meneliti. Ada yang telah berusaha, tetapi belum menemukan cara berkomunikasi yang tepat dengan dosen pembimbing. Ada yang menunggu jawaban atas pesan yang tak kunjung berbalas. Ada pula orang tua yang ingin membantu anaknya menemukan jalan keluar, tetapi khawatir kehadirannya justru dianggap mencampuri urusan akademik.
Saya melihat bahwa penyelesaian tugas akhir bukan hanya persoalan kemampuan akademik dan ketekunan mahasiswa. Ada aspek lain yang tidak kalah penting, yaitu komunikasi antara mahasiswa, dosen pembimbing, dan orang tua.
Ketiganya memiliki kepentingan yang berbeda, tetapi sesungguhnya menginginkan hal yang sama: mahasiswa dapat menyelesaikan pendidikannya dengan baik. Namun, perbedaan cara pandang dan harapan terkadang membuat maksud baik belum sepenuhnya dipahami oleh satu sama lain. Karena itu, komunikasi yang terbuka, jelas, dan saling menghargai menjadi penting agar setiap pihak dapat memahami kebutuhan serta perannya masing-masing.
Ketika cara menghubungi dosen menjadi persoalan
Dalam proses bimbingan, komunikasi sering kali dimulai dari hal sederhana: sebuah pesan melalui WhatsApp, permintaan jadwal konsultasi, atau pengiriman naskah tugas akhir. Namun, cara pesan disampaikan dapat memengaruhi bagaimana pesan tersebut diterima.
Mahasiswa mungkin merasa cukup dengan mengirimkan naskah atau menanyakan kapan dapat bertemu. Akan tetapi, dosen juga perlu memahami konteks pesan, maksud konsultasi, dan perkembangan pekerjaan mahasiswa. Pesan yang tidak memperkenalkan diri, tidak menjelaskan tujuan secara memadai, dikirim berulang kali dalam waktu singkat, atau menuntut jawaban segera dapat menimbulkan ketidaknyamanan.
Bagi mahasiswa, tindakan itu mungkin menunjukkan kesungguhan dan kebutuhan untuk segera mendapat arahan. Bagi dosen, cara tersebut mungkin dipersepsikan sebagai kurangnya perhatian terhadap waktu dan tanggung jawabnya.
Di sinilah etika komunikasi akademik perlu mendapat perhatian. Mahasiswa perlu memahami bahwa menghubungi dosen bukan hanya soal menyampaikan kebutuhan, melainkan juga tentang bagaimana menyampaikan pesan secara santun, jelas, dan menghargai waktu. Dosen pun dapat membantu dengan menjelaskan mekanisme komunikasi bimbingan sejak awal agar mahasiswa tidak harus menebak-nebak cara yang dianggap tepat.
Ketika mahasiswa menunggu tanpa kepastian
Persoalan tidak berhenti pada cara mahasiswa menghubungi dosen. Dari sisi mahasiswa, pesan yang tidak mendapat respons dalam waktu lama dapat menimbulkan kebingungan dan frustrasi. Mereka tidak mengetahui apakah naskah sudah diterima, apakah perlu menunggu, apakah harus menghubungi kembali, atau apakah ada bagian yang dapat dikerjakan sambil menunggu arahan.
Ketidakpastian tersebut dapat menghambat pekerjaan, terutama ketika mahasiswa belum memiliki cukup pemahaman untuk menentukan langkah berikutnya secara mandiri.
Kita tentu memahami bahwa dosen memiliki berbagai tanggung jawab, mulai dari mengajar, meneliti, melaksanakan pengabdian, hingga menjalankan tugas institusional. Tidak setiap pesan dapat dijawab seketika. Namun, kebutuhan mahasiswa akan kejelasan juga penting untuk diperhatikan.
Dosen tidak harus selalu memberikan jawaban lengkap pada saat pesan diterima. Akan tetapi, mekanisme komunikasi yang baik dapat membantu mahasiswa mengetahui bahwa pesannya telah diterima, memahami kapan tindak lanjut mungkin dilakukan, atau mengetahui langkah yang dapat dikerjakan sementara waktu.
Kesibukan dosen perlu dipahami, tetapi kebutuhan mahasiswa akan kejelasan juga tidak boleh diabaikan. Kepastian komunikasi membantu mahasiswa mengatur pekerjaan, mengurangi prasangka, dan menjaga proses bimbingan tetap berjalan.
Ketika orang tua ingin membantu
Persoalan lain muncul ketika orang tua ingin mengambil bagian dalam mendukung penyelesaian tugas akhir anaknya. Setelah melihat anak berbulan-bulan berjuang, orang tua mungkin ingin bersilaturahmi dengan dosen pembimbing, memahami kendala yang dihadapi, atau mencari jalan agar proses akademik dapat berjalan lebih baik.
Namun, keinginan tersebut terkadang disertai kekhawatiran dari berbagai pihak. Mahasiswa mungkin merasa bahwa keterlibatan orang tua menunjukkan dirinya belum mandiri. Dosen mungkin khawatir pertemuan tersebut akan berkembang menjadi tekanan, tuntutan, atau penilaian terhadap keputusan akademiknya.
Padahal, tidak setiap orang tua datang untuk menyalahkan dosen atau meminta perlakuan khusus. Ada orang tua yang ingin membangun komunikasi, memahami keadaan, dan mencari cara mendukung anaknya dengan lebih tepat.
Tentu, tugas akhir tetap menjadi tanggung jawab mahasiswa. Orang tua tidak dapat mengambil alih kewajiban akademik anak, dan dosen tetap memiliki kewenangan dalam memberikan bimbingan serta menilai karya ilmiah. Namun, keinginan orang tua untuk bersilaturahmi tidak seharusnya langsung dimaknai sebagai bentuk intervensi.
Kuncinya adalah memperjelas tujuan dan batas keterlibatan. Jika memang diperlukan dan disepakati, pertemuan dapat menjadi ruang untuk memahami situasi dan membicarakan dukungan yang sesuai, dengan tetap menjaga privasi serta kemandirian mahasiswa. Komunikasi yang terbuka dapat membantu orang tua memahami perannya, mahasiswa tetap bertanggung jawab, dan dosen merasa dihormati dalam menjalankan tugas profesionalnya.
MR TEJES: Lima kebiasaan untuk memperbaiki komunikasi
Sebagai dosen Ilmu Komunikasi, saya memandang bahwa persoalan tersebut dapat dihadapi dengan membangun kebiasaan komunikasi yang sehat. Salah satu pendekatan yang saya tawarkan adalah MR TEJES, yaitu Menghargai, Rasa (empati), Terdengar, Jelas, dan Santun.
Pertama, Menghargai. Menghargai dalam berkomunikasi berarti mengakui martabat, waktu, dan tanggung jawab pihak lain. Mahasiswa perlu menghargai waktu serta arahan dosen, sedangkan dosen perlu menghargai usaha dan kebutuhan mahasiswa untuk memperoleh bimbingan. Orang tua pun perlu dihargai sebagai bagian dari lingkungan pendukung mahasiswa, tanpa mengurangi tanggung jawab akademik anak. Sikap saling menghargai membantu membangun kepercayaan dan menjaga hubungan tetap profesional.
Kedua, Rasa atau empati. Empati berarti berusaha memahami keadaan, harapan, dan tanggung jawab orang lain, bukan hanya melihat persoalan dari sudut pandang sendiri. Mahasiswa perlu menyadari bahwa dosen tidak hanya membimbing dirinya, sehingga naskah yang dipersiapkan dengan sungguh-sungguh, mengikuti arahan, dan menunjukkan perkembangan akan membantu proses bimbingan berjalan lebih baik. Dosen juga perlu memahami bahwa di balik upaya mahasiswa menyelesaikan tugas akhir, ada harapan untuk segera lulus dan ada orang tua yang menantikan keberhasilan anaknya. Sementara itu, orang tua perlu memahami bahwa penyelesaian tugas akhir membutuhkan proses akademik, ketekunan, dan kemandirian mahasiswa. Empati dari ketiga pihak akan tumbuh ketika mahasiswa berusaha sebaik mungkin, dosen memberikan bimbingan yang terarah, dan orang tua mendukung tanpa menambah tekanan. Dengan saling memahami, setiap pihak dapat menjalankan tanggung jawabnya dengan lebih baik dan proses penyelesaian tugas akhir menjadi lebih manusiawi.
Ketiga, Terdengar. Terdengar berarti setiap pihak merasa bahwa pertanyaan, kesulitan, dan pendapatnya diperhatikan serta ditanggapi secara layak. Mahasiswa perlu memiliki ruang untuk menyampaikan kendala, dosen perlu memperoleh informasi yang cukup mengenai perkembangan bimbingan, dan orang tua perlu memiliki kesempatan menyampaikan maksudnya secara proporsional ketika keterlibatan mereka diperlukan. Ketika setiap pihak merasa didengar, persoalan lebih mudah dikenali sebelum berkembang menjadi konflik.
Keempat, Jelas. Jelas berarti menyampaikan maksud, arahan, harapan, dan tindak lanjut secara mudah dipahami. Mahasiswa dan dosen perlu menyepakati mekanisme bimbingan, cara mengirim naskah, jadwal konsultasi, serta waktu respons yang wajar. Batas dan tujuan keterlibatan orang tua juga perlu dipahami bersama. Kejelasan mengurangi ketidakpastian, mencegah kesalahpahaman, dan membantu setiap pihak mengetahui apa yang harus dilakukan.
Kelima, Santun. Santun berarti menyampaikan pertanyaan, pengingat, kritik, dan perbedaan pendapat dengan tetap menjaga adab serta martabat orang lain. Kesantunan berlaku bagi mahasiswa yang menghubungi dosen, dosen yang memberikan arahan, maupun orang tua yang ingin berdialog. Bersikap santun bukan berarti menghindari persoalan atau tidak boleh bersikap tegas. Sebaliknya, kesantunan memungkinkan persoalan dibicarakan secara terbuka tanpa memperkeruh hubungan.
Dari konsep menjadi kebiasaan
MR TEJES akan bermakna jika diterapkan dalam praktik sehari-hari. Program studi dapat memfasilitasi panduan komunikasi bimbingan yang dipahami bersama, termasuk etika menghubungi dosen, mekanisme pengiriman naskah, perkiraan waktu respons, dan jalur konsultasi ketika proses bimbingan mengalami kendala.
Mahasiswa perlu membangun kebiasaan mempersiapkan bahan konsultasi, menyampaikan pertanyaan secara jelas, mencatat arahan, dan memberi kabar mengenai perkembangan pekerjaan. Dosen dapat membantu melalui arahan yang terstruktur, prioritas revisi yang jelas, serta mekanisme komunikasi yang memungkinkan mahasiswa memahami langkah berikutnya. Jika terjadi kebuntuan, program studi dapat menjadi ruang konsultasi untuk membantu mencari penyelesaian secara proporsional.
Orang tua juga dapat berkontribusi dengan memberi dukungan emosional, mendorong anak bertanggung jawab, dan membantu mencari jalan keluar tanpa mengambil alih proses akademik. Jika komunikasi langsung dengan dosen diperlukan, tujuan pertemuan sebaiknya disampaikan dengan jelas dan dilakukan dengan menghormati kewenangan akademik serta privasi mahasiswa.
Dengan demikian, penyelesaian tugas akhir tidak hanya dibebankan pada kesabaran mahasiswa atau kelonggaran dosen. Diperlukan kesepahaman mengenai cara berkomunikasi, tanggung jawab masing-masing, dan langkah yang ditempuh ketika masalah muncul.
Bukan mencari siapa yang salah
Penyelesaian tugas akhir tetap merupakan tanggung jawab mahasiswa. Dosen memiliki tanggung jawab membimbing sesuai kapasitas dan ketentuan akademik, sedangkan orang tua dapat memberikan dukungan tanpa mengambil alih kewajiban anak. Ketiganya tidak harus memiliki peran yang sama, tetapi perlu membangun pemahaman yang selaras.
Mahasiswa perlu belajar berkomunikasi secara profesional. Dosen perlu mengupayakan komunikasi bimbingan yang jelas dan terarah. Orang tua perlu memahami batas keterlibatannya sekaligus tetap dapat memberi dukungan yang dibutuhkan anak. Perguruan tinggi pun dapat menciptakan mekanisme yang membantu ketiga pihak menyelesaikan kendala komunikasi sebelum persoalan berkembang lebih jauh.
Tugas akhir memang menguji kemampuan berpikir, meneliti, dan menulis. Namun, proses penyelesaiannya juga menjadi ruang belajar untuk menyampaikan pendapat, menerima masukan, mengelola perbedaan, dan membangun hubungan profesional.
Jangan sampai proses penyelesaian tugas akhir semakin berat karena mahasiswa, dosen, dan orang tua yang sesungguhnya menginginkan kebaikan justru kesulitan saling memahami. Mahasiswa membutuhkan arahan, dosen membutuhkan komunikasi yang tertib, dan orang tua ingin melihat anaknya menyelesaikan pendidikan dengan baik. Melalui komunikasi yang saling menghargai, penuh empati, memberi ruang untuk didengar, jelas, dan santun, perbedaan harapan dapat dikelola menjadi kerja sama. Dengan begitu, komunikasi tidak menjadi hambatan baru, melainkan jembatan menuju penyelesaian tugas akhir.
Penulis: Dr. Ernita Arif, M.Si. (Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Andalas)
