Bagaimana jika suatu hari Elsevier kolaps dan layanan Scopus berhenti beroperasi? Dengan ukuran apa kita menentukan apakah seorang mahasiswa layak mengikuti ujian terbuka atau tertutup untuk memperoleh gelar magister atau doktor? Apakah tesis yang telah diuji kehilangan nilainya? Apakah disertasi yang dikerjakan bertahun-tahun mendadak tidak cukup untuk membuktikan kemampuan penulisnya?
Pertanyaan itu terasa mengganggu karena menyentuh ketergantungan yang terlanjur dianggap sebagai hal yang wajar. Di kampus yang mensyaratkan publikasi terindeks Scopus, mahasiswa dapat menyelesaikan penelitian, mempertahankan argumentasi di hadapan penguji, dan memenuhi kewajiban akademik, tetapi kelulusannya masih menunggu penerimaan dari jurnal. Keputusan akhir juga bergantung pada pihak di luar institusi yang mendidik dan mengujinya. Lalu, apa sebenarnya yang dinilai oleh kampus? Kemampuan mahasiswa untuk menghasilkan pengetahuan atau keberhasilannya dalam memasuki jalur publikasi tertentu?
Scopus merupakan basis data abstrak dan sitasi yang disediakan Elsevier. Ia membantu dalam pencarian literatur, pengindeksan, dan analisis penelitian. Web of Science, yang berada di bawah Clarivate, menyediakan layanan serupa. Keduanya memiliki kegunaan ilmiah sekaligus kepentingan bisnis. Kedudukan mereka dalam menentukan kelulusan mahasiswa lahir dari kebijakan yang kita buat sendiri.
Perusahaan menyediakan layanan. Negara dan perguruan tinggi memengaruhi kehidupan akademik. Ketika status pengindeksan menjadi syarat kelulusan, promosi, atau penghargaan, produk komersial memperoleh kekuatan administratif. Mahasiswa dan dosen mengikuti karena konsekuensinya menyangkut masa studi dan masa depan karier.
Karena itu, kritik terhadap ketergantungan pada Scopus perlu diarahkan kepada para pengambil kebijakan. Mereka harus menjelaskan mengapa penilaian akademik yang dilakukan institusinya sendiri masih membutuhkan pengesahan melalui label pada basis data. Jika penguji telah menyatakan disertasi layak, apa yang belum selesai dari pemeriksaan tersebut?
Secara dasar hukum, Pasal 19 dan Pasal 20 Permendiktisaintek Nomor 39 Tahun 2025 mengatur tugas akhir magister dan doktor dalam beberapa bentuk, tanpa menetapkan publikasi Scopus sebagai syarat universal. Kedua pasal tersebut tidak diubah melalui perubahan regulasi pada tahun 2026. Kampus yang menetapkan persyaratan tambahan harus mempertanggungjawabkan alasan, dukungan, dan dampaknya bagi mahasiswa.
Ketergantungan ini menjadi lebih serius ketika dikaitkan dengan kapitalisme. Penelitian membutuhkan anggaran, fasilitas, waktu, dan tenaga. Sebagian ditanggung negara dan universitas. Akademisi mengumpulkan data, menulis, memperbaiki naskah, serta menelaah karya sesama rekan atau dalam konsep yang dikembangkan di Indonesia dikenal dengan istilah menelaah karya sejawat. Penelaahan tersebut lazim dilakukan tanpa honorarium langsung dari penerbit. Kerja komunitas akademik menopang produk yang kemudian dipasarkan kepada komunitas tersebut.
Penerbit tentu menyediakan layanan dan menanggung biaya operasional. Namun, besarnya keuntungan tetap layak dipertanyakan. Pada 2025, segmen Scientific, Technical & Medical RELX yang berkaitan dengan bisnis Elsevier mencatat pendapatan £2,714 miliar dan laba operasi disesuaikan £1,035 miliar, dengan margin sekitar 38,1%. Angka tersebut mencakup seluruh segmen, bukan hanya laba Scopus.
Siapa yang membiayai bahan utama bisnis ini? Siapa yang menghasilkan pengetahuan yang membuat layanannya bernilai? Dan seberapa adil keuntungan dibagi kepada pihak yang menopang produksinya? Saya merasa nilai lebih yang sebenarnya milik penulis atau peneliti terakumulasi pada penerbit yang akhirnya mengindikasikan ketimpangan.
Dalam kritik Marx, pertanyaan tentang nilai lebih berangkat dari hubungan antara kerja yang menghasilkan nilai dan penguasaan atas hasil tersebut. Namun, laba perusahaan tidak dapat langsung dianggap sebagai nilai tambah yang diambil dari dosen. Banyak akademisi digaji oleh universitas, bukan oleh penerbit. Perhitungan nilai lebih membutuhkan data hubungan produksi yang lebih lengkap. Angka laba tadi memberi bukti tentang skala keuntungan, sementara ketimpangan dalam pembagian manfaat tetap perlu dipersolkan.
Kapankah tumbuh kesadaran bahwa kebijakan publikasi juga turut memperkuat hubungan tersebut. Kampus menuntut luaran, peneliti mengejar penerbitan, dan institusi menyediakan anggaran untuk memenuhi target. Pada jurnal tertentu, biaya akses terbuka dibayarkan oleh penulis, kampus, atau pemberi dana. Pada model berlangganan, pembaca dan institusi membayar untuk akses. Tidak semua jurnal terindeks Scopus berbayar, tetapi ekosistem akademik tetap menjadi sumber bahan, pengguna layanan, sekaligus pembayar.
Tekanan itu akhirnya masuk ke dalam cara berpikir. Dosen harus memperhitungkan topik yang mudah diterima, waktu penerbitan, serta luaran yang paling menguntungkan bagi karier. Penelitian panjang berhadapan dengan tenggat. Gagasan yang membutuhkan pembahasan utuh berisiko dipecah menjadi beberapa artikel.
Buku ikut tersisih ketika penghargaan terhadapnya kalah jauh dari artikel dalam indeks tertentu. Padahal, buku memungkinkan seorang peneliti membangun argumentasi panjang dan menyampaikan hasil pemikirannya kepada pembaca yang lebih luas. Dalam antropologi dan humaniora, kebijakan yang melemahkan dorongan untuk menulis buku dapat menghambat perkembangan pemikiran itu sendiri.
Sampai kapan kita menyerahkan ukuran keberhasilan akademik kepada produk perusahaan? Mengganti Scopus dengan basis data lain belum menyelesaikan persoalan jika kebiasaan menilai tetap sama. Ketergantungan hanya berpindah alamat.
Perguruan tinggi perlu memiliki kemampuan untuk menilai karya berdasarkan kualitas data, ketepatan metode, etika, kekuatan argumentasi, serta kontribusi terhadap pengetahuan. Saya berpendapat bahwa metrik jurnal tidak boleh menjadi pengganti penilaian mutu karya secara individual. Ukuran bibliometrik dapat digunakan sebagai informasi pendukung, dengan keputusan tetap bertumpu pada pembacaan karya.
Jika Elsevier kolaps, disertasi tetap dapat diperiksa. Datanya dapat diuji, metodenya dapat dikritik, dan argumentasinya dapat diperdebatkan. Kampus seharusnya mampu menentukan kelayakan mahasiswa melalui pekerjaan tersebut. Apabila kemampuan itu belum dimiliki, yang perlu diperbaiki adalah sistem penilaiannya, bukan menambah syarat bagi mahasiswa.
Lalu.... dokter dan profesor seperti apa yang kita harapkan akan lahir dari siklus ilusif ini?
Penulis: Jonson Handrian Ginting, M.A (Dosen Departemen Antropologi, FISIP, Universitas Andalas)
