Sejak akhir pekan ini, layar televisi dan media sosial dipenuhi kabar tentang Anak Krakatau. Erupsi yang berlangsung sejak 4 September 2026 melontarkan abu vulkanik yang kemudian terbawa angin jauh dari Selat Sunda. Abu tidak hanya mencapai wilayah Lampung Selatan dan Banten, tetapi terdeteksi menyebar hingga Jakarta, Jawa Barat, bahkan kawasan Bandung. BMKG pada 6 September mengidentifikasi sebaran abu dalam dua klaster yang mencakup Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Lampung hingga Bengkulu. Dampaknya bahkan merambah penerbangan, dengan sejumlah bandar udara sempat ditutup untuk alasan keselamatan.

Ketika gunung api meletus, perhatian kita memang hampir selalu tertuju pada apa yang terjadi saat itu: dentuman, kolom abu, lontaran material pijar, aliran lava, serta ancaman terhadap penduduk. Namun bagi seorang ilmuwan tanah, abu yang hari ini dianggap sebagai gangguan dan bencana justru memunculkan pertanyaan lain: apa yang akan terjadi pada material vulkanik itu setelah letusan mereda? Bagaimana abu dan material yang sekarang menutupi permukaan bumi berubah setelah puluhan, ratusan, bahkan ribuan tahun? Pada titik itulah cerita tentang erupsi beralih menjadi cerita tentang lahirnya tanah.

Jejak sejarah Krakatau

Kepulauan Krakatau di Selat Sunda memberikan kesempatan langka untuk membaca perjalanan panjang sebuah gunung api. Di kawasan ini masih tersisa jejak Krakatau Purba yang diperkirakan mengalami erupsi besar dan keruntuhan kaldera sekitar abad ke-5–6 M. Bagian tubuh gunung purba yang tersisa antara lain membentuk Pulau Sertung dan Pulau Panjang.

Aktivitas vulkanik kemudian kembali membangun tubuh Krakatau di dalam kawasan kaldera tersebut, dengan tiga puncak utama, yaitu Rakata, Danan, dan Perbuwatan. Letusan dahsyat tahun 1883 menghancurkan Danan dan Perbuwatan serta menyisakan sebagian Rakata. Beberapa dasawarsa kemudian, aktivitas vulkanik kembali muncul dari dasar laut dan sejak 1927–1928 dan puncak Anak Krakatau muncul tahun 1930, yang hingga kini terus mengalami erupsi, pertumbuhan, keruntuhan, dan perubahan bentuk.

Bentang alam ini seperti menyediakan halaman-halaman berbeda dari sebuah buku tentang waktu. Batuan dan material vulkanik yang awalnya hampir tidak mengandung bahan organik perlahan mengalami pelapukan, ditumbuhi organisme, dan akhirnya berkembang menjadi tanah.

Dalam ilmu tanah, perbedaan umur material semacam ini dapat dipelajari melalui pendekatan kronosekuen. Kita membandingkan material dan tanah dengan umur berbeda untuk memahami bagaimana waktu memengaruhi perkembangan tanah.

Namun Krakatau bukan laboratorium dengan kondisi yang sepenuhnya terkendali. Erupsi berulang, erosi, pertumbuhan vegetasi, perubahan garis pantai, dan keruntuhan tubuh gunung terus mengubah permukaannya.  Justru ketidakteraturan itulah yang membuat Krakatau menjadi laboratorium alam yang sangat menarik.

Ketika Jam Tanah Dimulai

Material yang baru dikeluarkan gunung api merupakan bahan induk tanah. Abu, lapili, skoria, dan pecahan batuan didominasi mineral primer dan gelas vulkanik. Kandungan karbon organiknya sangat rendah karena kehidupan baru mulai mengkolonisasi permukaan tersebut.

Penelitian kami terhadap material erupsi Anak Krakatau 2018 memberikan kesempatan melihat kondisi yang mendekati “waktu nol” pembentukan tanah. Sampel yang diambil hanya sekitar dua sampai tiga bulan setelah erupsi masih menunjukkan karakter material vulkanik yang sangat muda.

Material tersebut didominasi mineral primer, terutama plagioklas, termasuk labradorit, serta gelas vulkanik. Mineral sekunder yang biasanya menjadi ciri tanah vulkanik yang telah berkembang, seperti alofan dan imogolit, praktis belum terbentuk.

Namun material muda tersebut bukan berarti tidak memiliki potensi kesuburan. Di dalam mineral vulkanik tersimpan berbagai unsur seperti kalsium, magnesium, kalium, dan unsur lainnya. Unsur-unsur itu belum semuanya tersedia bagi tanaman. Waktu, air, suhu, organisme, dan proses kimia harus bekerja untuk melepaskannya.

Di sinilah pelapukan mulai memainkan peranan. Air hujan memasuki pori material vulkanik. Mineral mengalami reaksi kimia. Sebagian unsur terlarut dilepaskan, sementara unsur lain membentuk mineral baru. Mikroorganisme mulai datang. Lumut dan tumbuhan pionir berkembang. Akar tanaman menembus material, kemudian sisa tanaman mati dan terdekomposisi. Karbon mulai masuk ke dalam sistem.

Perlahan-lahan material geologi berubah menjadi tubuh tanah yang hidup.

Krakatau Menyimpan Rekaman Waktu

Jejak perkembangan tersebut dapat dibandingkan dengan tanah pada bagian Kepulauan Krakatau yang lebih tua. Penelitian tanah di kawasan ini menunjukkan bahwa setelah beberapa dasawarsa, proses pedogenesis mulai meninggalkan tanda yang dapat diukur.

Akumulasi humus meningkat. Komposisi kimia material berubah. Unsur-unsur yang relatif mudah tercuci berkurang, sedangkan besi dan aluminium relatif terakumulasi. Perubahan tersebut menunjukkan bahwa pembentukan tanah bukan peristiwa sesaat, melainkan perjalanan panjang.

Dengan demikian, ketika kita berjalan dari material sangat muda Anak Krakatau menuju permukaan yang lebih tua di Sertung, Panjang atau Rakata jajaran kepulauan Krakatau, sebenarnya kita sedang membaca pengaruh waktu terhadap material vulkanik.

Namun jam tersebut tidak selalu berjalan mulus. Anak Krakatau merupakan contoh paling jelas. Gunung ini terus mengalami erupsi sehingga permukaannya berulang kali menerima material baru. Vegetasi yang mulai tumbuh dapat kembali tertutup abu atau material piroklastik. Tanah muda yang baru mulai berkembang dapat terkubur. Keruntuhan besar pada Desember 2018 bahkan mengubah morfologi Anak Krakatau secara drastis.

Dalam perspektif pedologi, kejadian seperti itu dapat dipandang sebagai semacam pengaturan ulang jam pembentukan tanah. Permukaan baru muncul dan material segar kembali menjadi titik awal bagi proses pelapukan dan kolonisasi kehidupan.

Dari Bencana Menjadi Tanah

Manusia mengenal abu vulkanik terutama sebagai ancaman. Pandangan tersebut sepenuhnya dapat dimengerti. Abu dapat mengganggu pernapasan, transportasi, penerbangan, pertanian, sumber air, serta kehidupan masyarakat dalam waktu singkat.

Namun gunung api memiliki dua wajah dalam perjalanan waktu. Material yang menjadi bencana hari ini dapat menjadi bahan induk tanah pada masa mendatang.

Indonesia mempunyai banyak kawasan pertanian produktif yang berkembang di atas material vulkanik. Kesuburan tersebut bukan muncul segera setelah erupsi. Ia merupakan hasil interaksi panjang antara material vulkanik, iklim, organisme, relief, dan waktu.

Krakatau memperlihatkan proses itu dalam skala yang dapat kita amati.

Anak Krakatau memberi gambaran tentang awal perjalanan. Pulau-pulau yang lebih tua memperlihatkan apa yang dapat dilakukan oleh puluhan hingga ratusan tahun pelapukan dan kehidupan. Sementara jejak Krakatau Purba mengingatkan bahwa bentang alam yang kita lihat hari ini hanyalah satu episode dalam sejarah geologi yang jauh lebih panjang.

Karena itu, aktivitas Anak Krakatau yang kembali menarik perhatian sekarang tidak hanya penting dilihat dari perspektif kebencanaan. Setiap lapisan abu, lapili, dan lava yang ditambahkan gunung tersebut sekaligus menjadi bahan baru bagi bentang alam masa depan.

Mungkin manusia melihat erupsi dalam hitungan menit, hari, atau tahun. Tanah mempunyai ukuran waktunya sendiri.

Di Kepulauan Krakatau, kita dapat membaca kedua skala waktu tersebut sekaligus: kedahsyatan erupsi gunung yang merupakan proses geologi, berlangsung sangat cepat dan ketekunan proses pembentukan tanah yang bekerja perlahan setelah itu.

Gunung dapat menghancurkan bentang alam dalam hitungan jam. Kehidupan kemudian kembali, mineral melapuk, akar mulai tumbuh, karbon terakumulasi, dan tanah terbentuk.

Krakatau purba sampai Anak Krakatau mengajarkan bahwa setelah sebuah letusan berakhir, cerita sebenarnya belum selesai. Bagi tanah, perjalanan itu justru baru dimulai.

Penulis: Prof. Dr. Ir. Dian Fiantis, M.Sc. Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian, dan Sekolah Pascasarjana Universitas Andalas, Padang.Pengurus dan Anggota Himpunan Ilmu Tanah Indonesia (HITI)