"Rumah" adalah salah satu kata yang paling sederhana sekaligus paling rumit dalam kehidupan manusia. Ia dapat berarti bangunan tempat kita tinggal, keluarga yang menunggu kepulangan, kampung halaman yang selalu dirindukan, atau bahkan ruang batin tempat seseorang merasa utuh. Tidak mengherankan apabila kisah-kisah besar dunia hampir selalu berbicara tentang perjalanan pulang. Salah satunya adalah The Odyssey, sebuah karya epik Yunani yang kembali mendapat perhatian luas melalui adaptasi film terbarunya.

The Odyssey merangkum 10 tahun perjalanan pulang Odysseus pascaperang Troya yang penuh kemalangan juga pembelajaran. Di balik kisah petualangan, peperangan, dan monster-monster mitologis yang ditampilkan, The Odyssey justru secara bersamaan menawarkan sebuah refleksi yang sangat manusiawi yakni perjalanan pulang sebagai perjalanan menemukan diri sendiri.

Selama ini, The Odyssey lebih sering dibaca sebagai kisah kepahlawanan Odysseus yang berjuang kembali ke Ithaca setelah Perang Troya. Pembacaan semacam ini tentu tidak keliru, tetapi belum terasa lengkap. Sebab, jika tujuan utama hanya kembali ke rumah, mengapa perjalanan itu harus berlangsung begitu lama? Mengapa jalan pulang diceritakan dipenuhi oleh badai, godaan, kehilangan sahabat, penyesalan, bahkan kesendirian? Pertanyaan-pertanyaan itu lebih jauh mengantarkan kita pada pembacaan yang lebih dalam.

Jika dibaca melalui perspektif semiotika, The Odyssey tidak hanya menghadirkan rangkaian peristiwa, tetapi membangun sebuah sistem tanda (system of signs) yang mengarahkan pembaca pada makna-makna yang melampaui cerita literal. Dalam kerangka semiotika, setiap tokoh, ruang, dan peristiwa berfungsi sebagai penanda (signifier) yang merujuk pada petanda (signified) berupa pengalaman eksistensial manusia. Sebagaimana dikemukakan oleh Roland Barthes, simbol-simbol budaya tidak pernah bersifat tunggal, melainkan membentuk jaringan makna yang terus diproduksi melalui proses pembacaan. Oleh karena itu, ketika The Odyssey dipertemukan dengan tradisi suluk, simbol-simbol dalam epik tersebut memperoleh horizon makna baru yakni perjalanan fisik berubah menjadi perjalanan spiritual; kepulangan menjadi metafora makrifat; dan setiap rintangan dibaca sebagai tahapan penyucian jiwa. Odysseus dalam hal ini tidak sedang mencari rumah semata. Ia sedang menjalani proses menjadi manusia yang layak untuk kembali ke “rumah”. Dengan demikian, yang berubah bukan hanya jarak antara Troya dan Ithaca, melainkan juga kualitas batin sang pengembara.

Dalam kajian tasawuf, perjalanan seperti ini dikenal dengan istilah suluk. Suluk bukan sekadar perpindahan tempat, tetapi perjalanan spiritual seorang salik menuju penyempurnaan diri. Jalan tersebut dipenuhi latihan kesabaran, muhasabah, pengendalian hawa nafsu, serta kesediaan menerima setiap ujian sebagai bagian dari pendidikan jiwa. Suluk mengajarkan kita bahwa seseorang tidak pernah benar-benar akan sampai apabila dirinya belum murni dan berserah diri sepenuhnya kepada Tuhan.

Lebih lanjut, jika perspektif suluk digunakan untuk membaca The Odyssey, maka hampir setiap episode perjalanan Odysseus memiliki makna simbolik. Setiap rintangan bukan sekadar konflik naratif, melainkan tahapan pembentukan karakter dimana dalam perjalanannya, Odysseus seakan dipaksa meninggalkan kesombongan, belajar menerima keterbatasan, dan memahami bahwa kecerdasan tanpa kebijaksanaan hanya akan melahirkan penderitaan baru.

Dalam khazanah tasawuf, suluk adalah jalan yang ditempuh seorang salik untuk mendekat kepada Tuhan melalui penyucian jiwa. Jalan itu tidak pernah digambarkan sebagai jalan yang lurus dan mudah. Sebaliknya, ia dipenuhi ujian yang bertujuan membersihkan hati dari kesombongan, kerakusan, kemarahan, dan berbagai bentuk keterikatan duniawi. Yang berubah dalam suluk bukanlah dunia di sekitar manusia, melainkan manusia itu sendiri.

Lebih lanjut, membaca The Odyssey melalui lensa suluk membuka cara pandang yang berbeda dimana setiap peristiwa dalam perjalanan Odysseus dapat dimaknai sebagai simbol pendidikan batin. Laut yang terus bergelora dalam hal ini bukan hanya ruang geografis yang harus diseberangi. Ia merujuk pada metafora kehidupan yang tidak pernah sepenuhnya dapat dikendalikan. Dalam kehidupan nyata, badai dalam hal ini dapat hadir dalam berbagai bentuk seperti kehilangan orang yang dicintai, kegagalan, tekanan ekonomi, konflik keluarga, hingga krisis makna. Tidak ada seorang pun yang mampu menghindari badai. Sehingga yang membedakan antar kualitas diri satu manusia dengan manusia lainnya adalah bagaimana ia mengarungi badai tersebut. Dalam tasawuf, badai kehidupan bukan dipandang sebagai hukuman, melainkan sarana pembentukan jiwa. Kesulitan dipercaya memiliki fungsi pedagogis seperti mengikis kesombongan, melatih kesabaran, dan menguatkan ketergantungan manusia kepada Tuhan. Perspektif ini membuat penderitaan tidak lagi dipahami sebagai akhir dari harapan, melainkan bagian dari proses pendewasaan spiritual.

Selain badai, The Odyssey juga menampilkan dan dipenuhi oleh godaan. Salah satu adegan yang paling terkenal adalah perjumpaan Odysseus dengan para Siren. Suara mereka begitu indah dapat membuat setiap pelaut yang mendengarnya kehilangan kesadaran bahkan menghancurkan kapalnya sendiri. Apabila disinkronkan dengan kehidupan kita, dalam kehidupan modern, Siren tidak lagi bernyanyi dari atas karang. Ia hadir melalui berbagai bentuk yang lebih halus seperti popularitas yang membutakan, budaya konsumtif, ambisi yang tak mengenal batas, validasi media sosial, hasrat seksual bahkan keinginan untuk selalu terlihat berhasil di hadapan orang lain. Godaan terbesar zaman ini bukan selalu kejahatan yang tampak jelas, melainkan sesuatu yang terlihat menarik dan masuk akal. Banyak orang kehilangan arah dan tidak fokus bahkan menghancurkan diri mereka sendiri bukan karena dipaksa, tetapi karena tergoda. Di sinilah pesan The Odyssey terasa begitu aktual. Dikisahkan Odysseus selamat bukan karena ia merasa kebal terhadap godaan, melainkan karena ia menyadari kelemahannya. Ia meminta dirinya diikat pada tiang kapal agar tidak mengikuti suara Siren. Kesadaran atas keterbatasan diri dalam hal ini justru menjadi bentuk sebuah kebijaksanaan dimana tradisi tasawuf mengenal prinsip yang serupa yakni kerendahan hati untuk mengakui kelemahan merupakan langkah pertama menuju sebuah kematangan spiritual.

Selanjutnya, simbol lainnya yang juga cukup menarik dalam Odyssey adalah kehadiran Cyclops, raksasa bermata satu yang dihadapi Odysseus. Dalam pembacaan harfiah, ia adalah monster yang harus dikalahkan. Namun, secara simbolik, Cyclops dapat dipahami sebagai lambang cara pandang yang sempit. Mata yang hanya satu seakan menggambarkan ketidakmampuan melihat kenyataan secara utuh. Bukankah banyak konflik sosial hari ini juga lahir dari sikap semacam itu? Fanatisme, polarisasi politik, ujaran kebencian, dan intoleransi sering muncul ketika seseorang merasa hanya dirinya yang benar dan menutup diri terhadap perspektif lain. Lebih lanjut, melalui Cyclops juga, Odysseus belajar bahwa kecerdasan tidak selalu cukup. Setelah berhasil lolos dari gua Cyclops, saat ia tergoda untuk menyebutkan identitasnya karena rasa bangga, justru kesombongan sesaat itu mengundang murka Poseidon dan memperpanjang penderitaannya. Dalam konteks ini, Homer seolah mengingatkan kita bahwa kemenangan dapat berubah menjadi petaka apabila tidak disertai kerendahan hati.

Sementara itu, simbol menarik lainnya yakni Ithaca. Jika Ithaca dibaca sebagai simbol, dalam tradisi sastra, maka ia dapat menjadi lambang harapan, identitas, atau tujuan eksistensial manusia. Ithaca dalam konteks ini bukan hanya lagi merujuk pada tempat kelahiran Odysseus, melainkan titik yang terus memanggilnya untuk pulang. Dalam pembacaan spiritual, Ithaca dapat dipahami sebagai metafora tujuan tertinggi kehidupan yaitu keadaan ketika manusia mencapai kedamaian karena telah menemukan kembali orientasi terdalam hidupnya. Bagi pembaca, pengalaman simbolik ini mengingatkan kita pada perjalanan seorang hamba menuju kedekatan dengan Tuhan, bukan karena Ithaca adalah Tuhan, melainkan karena kerinduan untuk pulang memiliki pola yang serupa dengan kerinduan jiwa kepada Sang Pencipta. Ithaca menjadi lambang tujuan terdalam kehidupan yakni pulang kepada diri yang telah dimurnikan oleh pengalaman.

Pada akhirnya, ketika perspektif suluk digunakan untuk membaca The Odyssey, kisah Odysseus memperoleh dimensi yang jauh lebih kaya. Seluruh perjalanan menuju Ithaca bukan hanya perpindahan dari Troya ke tanah kelahirannya, melainkan proses pemurnian diri dimana setiap badai, kehilangan, dan godaan perlahan mengikis kesombongan yang pernah dimilikinya. Ia tidak kembali sebagai raja yang sama. Ia pulang sebagai manusia yang telah ditempa oleh penderitaan.

Lebih lanjut, semua simbol yang hadir dalam perjalanan pulang Odysseus tersebut seakan berpuncak pada satu nilai penting yakni sebuah kesabaran dan keberserah-dirian (bentuk Taqwa). Perjalanan Odysseus berlangsung selama sepuluh tahun. Ia tidak dapat mempersingkat waktu, memaksa keadaan, atau memilih jalan yang lebih mudah. Yang dapat ia lakukan hanyalah terus melangkah dan fokus. Kesabaran dalam The Odyssey bukan sikap pasif yang menunggu nasib berubah, melainkan keteguhan untuk tetap bergerak di tengah ketidakpastian. Disaat hatinya ikhlas dan percaya justru hal inilah yang kemudian mengantarkannya kembali pulang.

Dari film Odyssey kita juga dapat melihat bahwa pertumbuhan sejati nyatanya membutuhkan waktu. Jiwa tidak menjadi matang dalam semalam. Kebijaksanaan lahir dari pengalaman yang berulang, dari kegagalan yang diterima dengan lapang dada, dan dari kesediaan untuk terus belajar. Di sinilah letak keabadian The Odyssey. Ia bukan hanya kisah tentang Yunani kuno, bukan sekadar cerita tentang dewa-dewi dan monster mitologis, tetapi narasi universal tentang manusia dimana setiap orang memiliki "Troya" yang harus ditinggalkan, "lautan" yang harus diseberangi, "Siren" yang harus dihindari, dan "Ithaca" yang ingin dicapai. Odysseus tidak pernah keluar dari setiap ujian sebagai pribadi yang sama. Setiap kehilangan membentuk kebijaksanaannya. Setiap kegagalan mengikis kesombongannya. Setiap penantian mengajarkan kesabaran. The Odyssey melampaui statusnya sebagai cerita petualangan. Ia menjadi narasi tentang transformasi diri manusia yang sesungguhnya dimana hal yang sama sesungguhnya juga menjadi inti perjalanan suluk.

Pada akhirnya, suluk mengajarkan bahwa perjalanan menuju Tuhan selalu melewati perjalanan menuju diri sendiri. Sementara The Odyssey menunjukkan bahwa tidak ada kepulangan yang sejati tanpa perubahan batin. Ketika dua tradisi yang lahir dari ruang dan zaman yang berbeda itu dipertemukan, kita menemukan pesan yang sama yakni badai bukan untuk menenggelamkan manusia, godaan bukan untuk memastikan ia kalah, dan perjalanan bukan untuk menghabiskan waktu. Semuanya adalah cara kehidupan membentuk manusia agar layak sampai di tujuan.

Penulis: Shilva Lioni (Dosen Program Studi Sastra Inggris, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas)