Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika mencatat suhu udara rata-rata Indonesia meningkat sekitar 1,02 derajat Celsius selama periode 1981–2024. Kenaikan suhu maksimum mencapai 0,85 derajat Celsius, sedangkan suhu minimum meningkat lebih besar, yakni 1,64 derajat Celsius dalam 44 tahun. Angka-angka tersebut menegaskan bahwa pemanasan bukan lagi sekadar ancaman masa depan, melainkan perubahan yang sedang berlangsung di sekitar kita.

Dampak perubahan iklim biasanya dibicarakan melalui banjir, kekeringan, gagal panen, atau kebakaran hutan. Di sektor peternakan, perhatian lebih sering diarahkan pada berkurangnya hijauan pakan, menurunnya produksi susu, dan melambatnya pertambahan bobot badan. Semua persoalan itu penting. Namun, ada ancaman yang lebih mendasar dan belum banyak dibicarakan, yaitu menurunnya kemampuan ternak untuk bereproduksi.

Selama ini, keberhasilan pembangunan peternakan lebih sering dinilai dari peningkatan produksi. Ketika produksi susu naik atau pertambahan bobot badan membaik, program dianggap berhasil. Cara pandang tersebut tidak sepenuhnya keliru, tetapi belum lengkap. Produksi hanyalah hasil akhir. Fondasi yang menentukan keberlanjutannya adalah reproduksi. Tidak akan ada susu tanpa induk yang berhasil bunting. Tidak akan ada penambahan populasi sapi potong tanpa pedet yang lahir. Ketika reproduksi terganggu, penurunan produksi pada akhirnya hanya tinggal menunggu waktu. 

Ancaman yang tidak langsung terlihat

Peningkatan suhu yang disertai kelembapan tinggi dapat menyebabkan ternak mengalami cekaman panas. Dalam kondisi ini, tubuh bekerja lebih keras untuk menjaga suhu tetap normal. Frekuensi pernapasan dan denyut jantung meningkat, sementara aliran darah lebih banyak diarahkan ke permukaan tubuh agar panas dapat dilepaskan. Respons tersebut penting untuk mempertahankan hidup, tetapi membutuhkan energi yang besar. Akibatnya, fungsi biologis yang tidak mendesak untuk kelangsungan hidup, termasuk reproduksi, menjadi kurang diprioritaskan.

Pada ternak betina, cekaman panas dapat mengganggu keseimbangan hormon, memperlemah tanda-tanda birahi, menghambat ovulasi, serta menurunkan kualitas sel telur dan embrio. Pada pejantan, panas dapat mengganggu pembentukan sperma, menurunkan kemampuan geraknya, serta meningkatkan kerusakan dan kelainan bentuk. Ternak yang telah bunting pun tidak sepenuhnya aman karena panas dapat mengganggu lingkungan rahim, fungsi plasenta, dan pertumbuhan janin.

Masalahnya, dampak tersebut tidak selalu tampak pada saat suhu udara meningkat. Seekor sapi dapat terlihat sehat, tetap makan, bahkan masih berproduksi. Namun, proses biologis di dalam tubuhnya telah berubah.

Sel telur memerlukan waktu berminggu-minggu hingga berbulan-bulan untuk berkembang sebelum siap dibuahi. Sperma pun membutuhkan waktu untuk terbentuk secara sempurna. Karena itu, paparan panas hari ini dapat memengaruhi keberhasilan kebuntingan beberapa minggu atau bulan kemudian. Perubahan iklim meninggalkan “jejak biologis” yang sering baru disadari ketika angka kebuntingan menurun, masa kosong setelah melahirkan memanjang, atau jarak antar kelahiran menjadi lebih lama.

Pada tingkat sel, cekaman panas dapat meningkatkan pembentukan radikal bebas. Dalam jumlah berlebihan, molekul tersebut mengganggu keseimbangan di dalam sel dan menurunkan fungsi mitokondria sebagai organel sel penghasil energi. Padahal, energi dibutuhkan agar sel telur dapat matang, sperma dapat bergerak, dan embrio dapat berkembang. Gangguan yang berlangsung dalam ukuran sangat kecil ini dapat menghasilkan akibat besar berupa menurunnya peluang terbentuknya kebuntingan yang sehat.

Sudah terjadi di Indonesia

Ancaman itu bukan sekadar temuan laboratorium atau persoalan negara lain. Penelitian pada peternakan sapi perah di Kabupaten Bogor menunjukkan bahwa lokasi dengan tekanan panas lebih tinggi memiliki masa kosong yang lebih panjang. Meskipun keberhasilan reproduksi juga dipengaruhi oleh pakan, kesehatan, deteksi birahi, dan pengelolaan inseminasi, temuan tersebut memperlihatkan bahwa kondisi lingkungan tidak dapat dipisahkan dari manajemen reproduksi.

Penelitian di lahan gambut Kalimantan Tengah bahkan mencatat indeks suhu dan kelembapan kandang pada siang hari berada pada tingkat bahaya hingga darurat. Ternak meresponsnya dengan meningkatkan suhu rektal, denyut jantung, dan frekuensi pernapasan. Sapi persilangan menunjukkan respons cekaman yang lebih tinggi daripada sapi Bali, sementara sapi persilangan yang sedang bunting menjadi kelompok paling rentan.

Temuan tersebut sekaligus memperlihatkan nilai strategis ternak lokal. Sapi Bali dan sejumlah bangsa lokal Indonesia mampu menjaga suhu tubuh lebih stabil dalam kondisi tropis dibandingkan sebagian ternak persilangan. Kemampuan ini bukan berarti ternak lokal kebal terhadap panas, tetapi menunjukkan bahwa sumber daya genetik yang telah lama beradaptasi dengan lingkungan Indonesia perlu ditempatkan sebagai aset dalam menghadapi perubahan iklim.

Menempatkan reproduksi dalam agenda adaptasi

Strategi adaptasi perubahan iklim di sektor peternakan tidak boleh berhenti pada upaya mempertahankan produksi. Reproduksi juga harus menjadi ukuran keberhasilannya. Gangguan produksi mungkin dapat dipulihkan dalam satu musim, sedangkan kegagalan reproduksi dapat memengaruhi populasi ternak selama bertahun-tahun.

Di tingkat peternak, tindakan paling mendasar adalah mengurangi beban panas melalui penyediaan naungan, ventilasi yang baik, air minum yang mudah diakses, serta pemberian pakan pada waktu yang lebih sejuk. Pengamatan birahi dan pelaksanaan perkawinan atau inseminasi juga perlu dilakukan lebih cermat selama periode panas.

Namun, tanggung jawab tidak dapat dibebankan kepada peternak semata. Pemerintah dan penyuluh perlu memasukkan pengelolaan cekaman panas ke dalam pendampingan reproduksi dan program perbaikan kandang. Dukungan perlu disesuaikan dengan kemampuan peternak rakyat agar teknologi adaptasi tidak hanya dapat diterapkan oleh perusahaan besar.

Perguruan tinggi dan lembaga penelitian juga perlu mempercepat pengembangan strategi nutrisi, teknologi reproduksi, serta pemuliaan ternak yang lebih toleran terhadap panas. Keunggulan ternak lokal perlu dilestarikan dan dikembangkan, bukan dikorbankan semata-mata demi mengejar produksi tinggi yang mungkin sulit dipertahankan dalam lingkungan yang semakin panas.

Data BMKG menunjukkan bahwa Indonesia sedang bergerak menuju kondisi yang semakin hangat. Pertanyaannya bukan lagi apakah perubahan iklim akan memengaruhi peternakan, melainkan seberapa siap kita menghadapinya. Sudah saatnya reproduksi ternak tidak dipandang hanya sebagai urusan kebuntingan atau inseminasi buatan, tetapi sebagai bagian penting dari strategi adaptasi perubahan iklim.

Masa depan peternakan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh jumlah ternak yang dipelihara hari ini, tetapi juga oleh kemampuan mereka melahirkan generasi berikutnya.

Penulis: Ananda, MSi (Dosen Fakultas Peternakan Universitas Andalas)