Sawahlunto (UNAND) – Inovasi ramah lingkungan lahir dari kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Andalas (UNAND) di Desa Silungkang Tigo, Kecamatan Silungkang, Kota Sawahlunto. Tahun 2025 ini, tim KKN Silungkang Tigo berhasil mengembangkan pewarna alami untuk benang songket dengan memanfaatkan ekstrak daun jambu air (Syzygium aqueum).
Terobosan ini tidak hanya menjaga kelestarian warisan budaya, tetapi juga mengurangi penggunaan pewarna sintetis berbahaya dan mampu menekan biaya produksi hingga 30 persen. Inovasi tersebut dilakukan melalui metode sederhana dan ramah lingkungan, sekaligus memberi nilai tambah bagi songket Silungkang yang telah dikenal luas.
Tim KKN Silungkang Tigo menjadi salah satu penerima hibah Program Kemitraan Masyarakat Terintegrasi dengan Kegiatan Mahasiswa (PKM-TKM) UNAND tahun 2025. Kegiatan dilaksanakan di bawah bimbingan Dosen Pembimbing Lapangan, Revi Marta, M.I.Kom., dengan penanggung jawab program kerja Andriani Devina Galih (Agroekoteknologi). Ia didampingi anggota tim, yakni Cinta Ghaniyyah Bond (Biologi), M. Hegel Irfansyach (Biologi), dan Bisker Jalehon Tua Simbolon (Agroekoteknologi).
Pemanfaatan daun jambu air dipilih karena kandungan tanin yang dapat menghasilkan warna cokelat alami. Daun tersebut sangat melimpah di Silungkang, murah, dan selama ini kerap terbuang. “Pemanfaatan daun jambu air ini diharapkan bisa menjadi bahan pewarna alami yang lebih aman sekaligus meningkatkan nilai jual songket,” ujar Andriani pada Minggu (27/7).
Proses pewarnaan dilakukan dengan merendam benang dalam larutan pembuka pori-pori (campuran baking soda, tawas, tunjung, dan cuka). Setelah itu, daun jambu air muda yang sudah dikeringkan direbus untuk menghasilkan ekstrak, lalu benang direndam selama empat jam. Tahap akhir berupa fiksasi menggunakan larutan tunjung atau kapur, menghasilkan variasi warna mulai dari krem hingga abu-abu tua.
Hasil uji coba menunjukkan benang tetap lembut dan tidak rusak meski melalui proses pewarnaan. Warna yang dihasilkan lebih natural, memberi karakter khas pada kain songket, serta mampu menekan biaya produksi. Produk songket berbahan pewarna alami ini juga memiliki potensi pasar baru karena label ramah lingkungan semakin diminati.
Melalui inovasi ini, mahasiswa KKN UNAND Silungkang Tigo 2025 tidak hanya berkontribusi pada pelestarian budaya dan lingkungan, tetapi juga memperkuat daya saing ekonomi pengrajin songket. Langkah tersebut menjadi bukti nyata bahwa kolaborasi antara akademisi dan masyarakat mampu melahirkan solusi kreatif yang berdampak luas.(*)
Humas, Protokoler, dan layanan Informasi Publik