Live Streaming - Wisuda IV Tahun 2020  Klik tombol LIVE STREAMING
Toggle Bar

Dosen Faterna Unand : Sumbar Miliki 4 Rumpun Itik Lokal

24 Juli 2020

Padang (Unand) – Dosen Fakultas Peternakan (Faterna) Universitas Andalas Dr. Ir. Sabrina, MS menyatakan hingga saat ini Provinsi Sumatera Barat memiliki empat rumpun itik lokal yang dipelihara secara tradisional oleh masyarakat.

Keempat rumpun itik lokal tersebut yakni itik Pitalah, itik Bayang, itik Kamang, dan itik Sikumbang Jonti, untuk Itik Pitalah dan itik Bayang sudah ditetapkan Kementerian Pertanian sebagai rumpun itik nasional pada tahun 2012.

Hal itu, disampaikannya dalam kegiatan webinar nasional Webinar Nasional dengan tajuk Strategi Pengembangan Itik lokal Sumatera Barat pada Kamis (23/7) lalu.

Peneliti senior Faterna Universitas Andalas ini menyatakan ternak itik merupakan komoditi peternakan yang populer dikembangkan di wilayah pedesaan Sumatera Barat, selain sebagai sumber daya genetik (plasma nutfah), ternak itik memiliki peran besar sebagai penghasil daging dan telur, dan even pariwisata pacu itik. 

Kuliner daging itik yang popular di Sumatera Barat adalah gulai itik hijau, rendang suwir dari daging itik dan rendang telur

Sementara itu, peneliti muda Faterna Universitas Andalas Dr. Kusnadidi Subekti, SPt, MP mengusulkan tiga skenario pembentukan rumpun baru ternak itik di Sumatera barat, yaitu persilangan itik Bayang dengan Pitalah, persilangan itik Bayang dengan Mojosari, dan persilangan itik Pitalah dengan Mojosari. 

Program persilangan antar rumpun tersebut dilakukan selama 4-5 generasi. “Selain itu, program seleksi ini juga harus dilakukan secara ketat, terutama seleksi pada sifat produksi telur, sifat pertumbuhan dan sifat adaptability,” ujarnya.   

Senada dengan itu, Guru Besar Fakultas Peternakan IPB Prof. Dr. Ir. Cece Sumantri, MSc berharap itik Kamang dan itik Sikumbang Janti menjadi plasma nutfah Sumatera Barat dapat segera didaftarkan sebagai rumpun itik nasional. 

Ia menyarankan itik-itik lokal spesifik yang berkembang di daerah tertentu, penting untuk didaftarkan ke Kementerian Pertanian untuk ditetapkan sebagai rumpun itik nasional. 

“Untuk itu, data dan informasi yang dibutuhkan terutama terkait dengan nilai strategis itik, asal-usul itik, sebaran asli geografis, karakteristik ternak itik, informasi genetik, jumlah dan struktur populasi serta foto dokumentasi penting sebagai kelengkapan persyaratan untuk pendaftaran galur itik lokal,” jelas alumni S3 dari Yamaguchi University Jepang ini.

Berkaitan dengan itu, Ir. Aryati dari Dinas Peternakan Sumatera Barat menyatakan peternakan itik di Sumatera Barat membutuhkan sentuhan inovasi dan teknologi terutama dari peneliti khususnya Universitas Andalas.

“Mayoritas peternak skala kecil dengan sistem produksi semi intensif, sistem pembibitan dan penetasan menggunakan teknologi sederhana sehingga kualitas bibit itik juga sangat beragam,” ungkapnya.

Webinar yang dibuka oleh Dekan Faterna Universitas Andalas Prof. Dr. Ir. James Hellyward ini diikuti oleh berbagai perguruan tinggi peternakan se-Indonesia, Lembaga Penelitian, Dinas Peternakan, pelaku industri peternakan, peternak, asosiasi peternakan dan mahasiswa. Ikut bergabung dan memberikan komentar pada sesi diskusi yaitu pakar Nutrisi Ternak dari UPM Malaysia, yaitu Prof. Abdul Razak Alimon (*)

Dr. Rusfidra, S.Pt Panitia Webinar Nasional Bagian Teknologi produksi Ternak Fakultas Peternakan Unand

 

 

Read 454 times