Launching Produk Riset PPTI-Unand Virgin Coconut Oil (VCO)  Klik tombol ini
Toggle Bar

Unand Kukuhkan Eva Decroli Sebagai Guru Besar Ilmu Penyakit Dalam

11 November 2019

Padang (Unand) – Universitas Andalas mengukuhkan Prof. Dr. dr. Eva Decroli, SpPD-KEMD sebagai Guru Besar Tetap dalam Bidang Ilmu Penyakit Dalam pada Fakultas Kedokteran.

Pengukuhan ini berlangsung di Gedung Convention Hall Kampus Unand Limau Manis Padang pada Senin (11/11) yang dihadiri oleh Guru Besar tamu dari Universitas lain seperti Universitas Indonesia, Universitas Sumatera Utara dan Universitas Udayana.

Pemasangan kalung tanda kehormatan dipasangkan langsung oleh Ketua Majelis Guru Besar (MGB) Universitas Andalas Prof. Dr. Fauzan Azima, MS didampingi oleh Rektor Prof. Dr. Tafdil Husni, SE, MBA dan Sekretaris MGB Prof. Dr. Erizal Mukhtar, MS, Dekan Fakultas Kedokteran (Dr. dr. Wirsma Arif Harahap, SpB (K) Onk.

Dalam orasi ilmiahnya Prof. Dr. dr. Eva Decroli, SpPD-KEMD menyampaikan terkait optimalisasi upaya preventif dan promotif menghadapi ancaman Diabetes Mellitus Tipe 2 (DMT2) di Indonesia pada era revolusi industri 4.0.

Menurutnya, DMT2 merupakan penyakit yang menjadi ancaman utama bagi kesehatan umat manusia pada abad sekarang.

“Berdasarkan perkiraan World Helth Organization (WHO) tahun 2000 jumlah penderita DMT2 diatas umur 20 tahun berjumlah 150 juta orang, namun dalam kurun waktu 25 tahun kemudian tepatnya tahun 2025 jumlah membengkak menjadi 300 juta orang dan diestimasikan 439 orang tahun 2030,” ujarnya.

Disampaikannya DMT2 dalam perjalananya selalu didahului oleh keadaan yang dinamakan dengan prediabetes, kemudian prediabetes didahului pula oleh pre-prediabetes yaitu berupa factor resiko seperti obesitas, riwayat keluarga dan bertambah tua.

“Dampak serius dari DMT2 adalah munculnya berbagai komplikasi terutama glukotoksisitas dan lipotoksisitas yang bisa memperburuk resistensi insulin dan fungsi sel β  pangkreas,” jelasnya.

Dengan demikian, dikatakannya DMT2 akan mempermudah komplikasi sehingga apa yang disebut dengan penyakit jantung diabetic, penyakit ginjal diabetic, penyakit pembuluh darah karena diabetic, penyakit kaki diabetic, disfungsi ereksi dan lainnya.

Untuk upaya optimalisasi promotif pada DMT2 ini dengan melakukan pendekatan kesehatan masyarakat, maka insidensi, prevalensi, kebiasaan beraktivitas fisik, diet sehat dan lainnya dapat di optimalisasi.

“Optimalisasi lainnya yang diperlukan menghadapi tantangan diabetes adalah mengkampanyekan pasien prediabetes untuk melakukan program pencegahan guna mencapai penurunan berat badan dibawah 7% dan melaksanakan olahraga minimal 150 menit/minggu,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia mengunggkapkan menurunkan berat badan termasuk mengurangi makan dan meningkatkan aktivitas fisik merupakan hal penting untuk menurunkan resiko diabetes pada orang yang keelbihan berat badan dan gemuk.

Pemanfaatan teknologi untuk perbaikan gaya hidup mungkin efektif dalam hal menurunkan berat badan dan resiko diabetes karena pesan pencegahan diabetes dapat diviralkan melalui smartphone dan aplikasi website. “Kebiasaan merokok juga dapat meningkatkan resiko DMT2,” tambahnya.

Disampaikannya didunia kesehatan dan kedokteran revolusi 4.0 ditandai dengan munculnya perubahan signifikan dan teknologi medis yang berdampak menyeluruh dalam bidang kesehatan.

“Health 4.0 merupakan cara pengembangan dan model managerial bidang kesehatan yang memungkinkan pengambaran secara gradual keadaan pasien, petugas kesehatan, baik secara formal maupun informal,” unggkapnya.(*)

Humas dan Protokol Unand 

 

Read 226 times