Formulir Pembukaan Rekening Baru Bank Syariah Mandiri untuk Mahasiswa Baru SNMPTN 2019  Klik tombol ini
Toggle Bar

Orasi Ilmiah Hakim MK Prof. Saldi Isra Pada Dies Natalis Unand ke 62

13 September 2018

Padang (Unand) – Hakim Mahkamah Konstitusi (MK) Republik Indonesia Prof. Dr. Saldi Isra, SH, MPA menyampaikan orasi ilmiah dalam rangka peringatan hari lahir (Dies Natalis) Universitas Andalas yang ke 62 pada Kamis (13/9) di Gedung Convention Hall kampus Unand Limau Manis Padang.

Dalam peringatan Dies Natalis Universitas Andalas ia menyampaikan orasi ilmiah tentang “Masa Depan Demokrasi Konstitusional Indonesia”.

Dikemukannya tulisan ini bukanlah tulisan yang baru sama sekali,  sebab tulisan ini substansinya diambil dari tulisan yang pernah dimuat pada jurnal prisma yang berjudul Design Constitusional Democracy Presidential Indonesia dengan penambahan dan pengurangan.

“Tulisan ini sekarang sedang dalam Review pembaca ketiga disalah satu jurnal di Belanda yang mejelaskan kalau dibanyak negara menganut sistem demokrasi presidential ada problem mengapa di Indonesia relative berjalan dengan baik dibandingkan negara-negara lain,” ujarnya yang juga Guru Besar Hukum Tata Negara Fakultas Hukum Universitas Andalas.

Lebih lanjut ia mengungkapkan tulisan utuh dari orasi ilmiah ini sedang dalam proses penulisan akhir untuk jadi buku utuh yang akan dilaunching dalam waktu dekat ditahun ini juga.

Judul ini dipilih karena awalnya ia sudah memilih topik lain yaitu menulis tentang presiden langsung yang dikaitkan dengan bagaimana pencapaian tujuan dalam bernegara tetapi dalam perjalanan ada bagian-bagian yang terpaksa harus mengkritik undang-undang (uu) yang harus dihindarinya, sebab kalau mengkritik uu itu akan menjadi bahan yang akan di ujikan  ke MK.

Ia juga mengungkapkan kenapa saat ini jarang menulis di kompas, bukan jarang, tidak lagi sebutnya karena itulah resiko yang harus diambil ketika memilih menjadi Hakim, hakim berbicara dengan putusan, soal orang setuju atau tidak putusan tersebut itu menjadi ranah publik yang memperdebatkannya.

“Dimaki-makipun Hakim dengan putusan yang diambil, Hakim yang bersangkutan tidak boleh memberikan komentar begitu ketatnya menjadi hakim, yang agak longgar hanya menjadi hakim garis,” sebutnya.

Akhirnya ia membatalkan topik itu dengan memilih topik yang agak umum, tetapi masih menarik untuk diperdebatkan.

Misalnya orang selalu bertanya didalam sila keempat pancasila permusyawaratan tetapi tiba-tiba design demokrasi menjadi dipilih langsung apakah pemilihan langsung itu kemudian tidak bertentangan dari sila keempat dari pancasila.

Debat seperti ini, pertanyaan kritis seperti ini bukan hanya pertanyaan kalangan akademis tetapi juga pertanyaan muncul dari kalangan politisi yang dulunya juga ikut mengubah konstitusi.

Oleh karena itu menurutnya perlu dibentangkan baik-baik mengapa kemudian perlu ada perubahan-perubahan dibandingkan jaman sebelumnya.

Judul ini sengaja dipilih karena design demokrasi sudah berbeda dengan perubahan konstitusi, perubahan ini harus dijelaskan mengapa dia menimbulkan konsekuensi yang tidak semua orang bisa memahami, kalau bisa paham mungkin tidak semua orang menerimanya.

Mengapa ada perbedaan dibandingkan dulu sebelum ada perubahan konstitusi dengan perubahan hari ini.

Apa pentingnya konstitusi bagi sebuah negara atau UUD bagi sebuah negara secara umum ia mengambil pendapat ahli konstitusi dari Amerika Serikat sebetulnya konstitusi adalah frame umum yang mengambarkan  design sebuah negara.

“Kalau orang melihat bagaimana negara itu, potret secara umum yang pertama dilihat adalah konstitusi karena di dalam konstitusi digambarkan bagaimana model system negaranya apakah Negara kesatuan atau federal, bagaimana system demokrasinya apakah Parlementer atau Presidential, lembaga-lembaga apa saja yang ada didalam sebuah negara, secara minimal harus dicamtumkan di konstitusi,” jelasnya.

Makanya kalau orang sekolah mengambil ilmu sosial dibanyak tempat diluar negeri mereka diwajibkan mengambil kuliah tentang konstitusi negara itu, karena secara umum harus paham terlebih dahulu bagaimana negara diatur.

Kemudian diakhir orasi, ia mengucapkan terimakasih dan rasa bangga sebab beberapa bulan yang lalu Universitas Andalas diumumkan  masuk sepuluh besar perguruan tinggi tebaik di Indonesia.

Ia merasa Universitas Andalas memiliki potensi bisa lebih baik lagi dan memperkirakan dengan potensi yang dimiliki angka enam atau lima batas minimal yang sebetulnya bisa dicapai.

Oleh karena itu, bagaiamana menaikkan itu tugas pimpunan universitaslah yang menjelaskan kepada semua warga Universitas Andalas apa yang harus dilakukan.

Sebagai orang yang dikaryakan ditempat lain ia akan tetap memabantu Universitas Andalas untuk mencapai tujuan itu.

Ia juga menyampaikan bulan November ini  akan melaucnhing lima atau enam bukunya diruangan Convention Hall Universitas Andalas dan ada lima atau enam lagi buku dari kolega nya Hakim Konstitusi sebagai bagian dari peringatan ulang tahunnya yang ke 50.

Humas dan Protokol Unand 

 

 

Read 792 times