Live Streaming Wisuda III Program Sarjana dan Diploma Tahun 2018  Klik tombol ini
Toggle Bar

FIB Unand Serahkan Sertifikat dan Lepas Mahasiswa Darmasiswa TA 2017-2018

25 Mei 2018

Padang (FIB Unand) – Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas melalui Dekan FIB Dr. Hasanuddin, M.Si. menyerahkan sertifikat kepada tujuh orang mahasiswa Darmasiswa yang belajar di FIB Universitas Andalas pada tahun akademik 2017-2018, sekaligus melepasnya secara resmi di Ruang Sidang Dekanat. 

Selain dari Dekan FIB Unand, acara ini juga dihadiri oleh Kepala Biro Akademik dan Kemahasiswaan, Syafwardi, S.E., M.Pd; Kepala UPT Layanan Internasional Vonny Indah Mutiara, Ph. D, Kepala Pusat Bahasa Unand, Dr. Rina Marnita AS, M.A., para Wakil Dekan FIB, sejumlah dosen yang mengajar, dan undangan lainnya

Ketujuh mahasiswa Darmasiswa yang belajar di FIB Unand selama dua semester, yaitu dimulai dari bulan September 2017 sampai dengan bulan Agustus 2018 ini berasal dari negara-negara yang berbeda seperti Vietnam, Philipina, Jepang, Cheico, Madagaskar, Australia, dan Mesir.  

Setidaknya,  ada tiga program utama yang harus mereka lakukan. Pertama, mereka mempelajari Bahasa Indonesia secara umum di mana ada beberapa skills yang harus dikuasai seperti speaking, reading, listening, dan writing. Kedua, Untuk mengenal negara Indonesia, mereka harus mengikuti mata kuliah Sejarah dan Kebudayan Indonesia. Ketiga, mereka mempelajari tentang budaya lokal Minangkabau melalui mata kuliah Budaya Minangkabau. 

Darmasiswa adalah program beasiswa yang ditawarkan kepada semua mahasiswa asing dari negara-negara yang memiliki hubungan diplomatik dengan Indonesia untuk mempelajari bahasa, seni dan budaya. Peserta dapat memilih salah satu universitas terpilih yang berlokasi di berbagai kota di Indonesia.

Program ini diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) bekerja sama dengan Kementerian Luar Negeri (Kemlu). Program Darmasiswa dimulai pada 1974 sebagai bagian dari inisiatif ASEAN (Association of South East Asian Nations), yang hanya menerima mahasiswa dari ASEAN. 

Namun, pada tahun 1976 program ini diperluas untuk menyertakan mahasiswa dari negara lain seperti Australia, Kanada, Prancis, Jerman, Hongaria, Jepang, Meksiko, Belanda, Norwegia, Polandia, Swedia, dan Amerika Serikat. Pada awal 90-an, program ini diperpanjang lebih lanjut untuk memasukkan semua negara yang memiliki hubungan diplomatik dengan Indonesia. Hingga saat ini, jumlah negara yang berpartisipasi dalam program ini lebih dari 80 negara. 

Tujuan utama dari Program Darmasiswa adalah untuk mempromosikan dan meningkatkan minat dalam bahasa dan budaya Indonesia di kalangan pemuda dari negara lain. Ini juga telah dirancang untuk memberikan tautan dan pemahaman budaya yang lebih kuat di antara negara-negara yang berpartisipasi. 

Sewaktu acara penyerahan sertifikat dan perpisahan tersebut, Dr. Hasannudin, M.SI, selaku Dekan FIB Unand berkata bahwa mahasiswa Darmasiswa di FIB Unand sangat antusias mengikuti program-progam yang ada.

Hal ini tergambar terutama ketika mereka diajari kesenian Minang, mereka benar-benar menguasai. Begitu pula ketika memainkan alat musik Minang, mereka sangat antusias.  

Ketika mereka telah selesai belajar di FIB Unand, mahasiswa Darmasiswa itu diberi sertifikat. Sertifikat ini layaknya sertifikat pada umumnya. Disana tertera mata kuliah dan juga transkrip nilai.  

Dr. Hasanudin M.Si berharap agar minat mahasiswa Darmasiswa pada tahun-tahun berikutnya  dapat meningkat, minimal sebanyak 20 orang. Tujuannya adalah agar mampu meningkatkan ‘gairah’ dan atmosfer akademik FIB Unand. Disamping itu, juga agar terjalin kerja sama yang lebih luas dengan negara-negara di dunia. Dia juga berharap Untuk tahun berikutnya mahasiswa yang datang adalah mahasiswa regular. 

Senada dengan Dr. Hasannudin, M.Si., Dr. Ferdinal, M.A.,  selaku Wakil Dekan I FIB Unand juga memiliki harapan. 

Ia berharap dengan kedatangan mahasiswa darmasiswa ke FIB Unand suasana akademik FIB Unand dapat berubah, baik dosen, mahasiswa, maupun civitas akademika yang ada di FIB Unand. Salah satu contohnya adalah bagaimana cara kita memandang waktu, mungkin selama ini kita sebagai  dosen sering terlambat, karena akan mengajar orang asing ingin telat juga atau tidak.

"Dengan kedatangan mereka kan juga terjadi asimilasi budaya ya. Jadi, budaya-budaya dari mereka yang bagus hendaknya bisa kita ambil. Kemudian, diakhir, nanti mereka akan memberikan evaluasi kepada kita, dengan adanya evaluasi tersebut kita bisa menyadari bagian mana yang masih kurang dari kita dan bagaimana cara kita melengkapi itu, “ ujarnya. 

Humas 

 

Read 488 times