Live Streaming Wisuda III Program Sarjana dan Diploma Tahun 2018  Klik tombol ini
Toggle Bar

Karya Puisi Dosen FIB Unand Dibukukan dengan Judul “Celoteh Dibawah Bendera”

14 Maret 2018

Padang (FIB Unand) - Wannofri Samry, Dr. M,Hum., merupakan dosen Ilmu sejarah  Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Andalas  yang gemar menulis puisi sejak duduk di bangku SMA, tepatnya sejak tahun 1985. Ketika masih di SMA  puisi miliknya sudah terbit di berbagai media cetak seperti KMS, Haluan, Singgalang, Jurnal Nasional, Kompas, dan bahkan hampir seluruh koran di Sumatera Barat.

Setelah sekian lama menulis, akhirnya puisi-puisi karya Wannofri Samry, Dr. M,Hum., dikumpulkan dalam suatu bentuk buku dengan judul Celoteh Dibawah Bendera. Didalam buku tersebut, puisi-puisi yang dilahirkan bertemakan tentang kebangsaan karena Wannofri Samry memang suka membuat puisi bertema kemanusiaan dan kebangsaan.

“Inspirasi untuk menulis puisi baginya sangat beragam, bisa dari mana saja, dari iseng-iseng bisa, dari membaca bisa, dari melihat orang juga bisa umpamanya melihat ada orang lewat, lihat air mengalir, atau sedang melihat hujan, biasanya bisa muncul ide untuk menulis puisi. Kadang ya seperti itu saja, sederhana saja inspirasi untuk menulis puisi itu tidak selalu terfokus pada satu kejadian saja baru bisa menghasilkan puisi,” katanya kemarin Selasa (13/3) diruang kerjanya.

Ditambahkannya tidak bisa dipungkiri bahwa tema yang paling disukainya saat menulis puisi adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan kemanusiaan. 

Pernah waktu itu ia membaca berita yang terbit di koran tempo, waktu itu kalau tidak salah tentang seseorang yang ingin melanjutkan sekolah kemudian ia pergi ke Jakarta. 

“Hal ini berkaitan dengan kemanusiaan, bagaimana seseorang ingin dapat pendidikan dan mengejar sesuatu ke Jakarta kemudian muncul inspirasi untuk menulis puisi,” jelasnya.

Ia mengaku sangat terinspirasi oleh karya penyair seperti Chairil Anwar dan puisi karya-karya Aprizal, Sapardi, dan Subagio.  Tapi, untuk usianya sekarang ini ia lebih memilih untuk hanya menulis puisi ketimbang jadi seorang penyair karena baginya menulis puisi sudah terinternalisasi di dalam dirinya.

”Saya ndak maulah jadi penyair sekarang, cuma ingin menulis puisi saja, kita kan punya standar sendiri-sendiri ya, dulu-dulu waktu di bangku kuliah mungkin memang ingin jadi penyair besar akan tetapi sekarang sudah mulai memudar keinginan itu” tuturnya.

Dikatakannya bukan berarti menulis puisinya berhenti karena menulis puisi itu kayaknya sudah terinternalisasi sudah tidak bisa dihentikan, ia juga memberikan tips bagaimana cara menulis puisi kepada para pemula. 

Menurutnya hal awal yang harus ada dalam diri seorang penulis adalah harus ada kesadaran intelektual didalam diri kita, untuk diawal kepenulisan hindari ekspektasi untuk jadi penyair. 

“Sebenarnya sah-sah saja kita bermimpi untuk jadi penyair besar, tidak ada yang salah dengan hal tersebut akan tetapi, hal besar yang perlu kita fokuskan adalah menulis atau menciptakan puisinya terlebih dahulu,” ungkapnya.

Lebih lanjut ia mengatakan bukanlah hal yang diharamkan bagi penulis-penulis awal untuk meniru atau mengikuti gaya penulis lain. 

Baginya, setiap penulis itu adalah epigon (pengikut). “Setiap orang awalnya adalah epigon (pengikut), termasuk Chairil Anwar, Buya Hamka, Gus TM, dan lain-lain. Chairil Anwar itu dia adalah pengikut penyair Perancis. Gus TM itu dia dulu ngikut Sapardi tetapi, akhirnya mereka menemukan dirinya sendiri. Jadi boleh saja untuk diawal kita meniru atau mengikuti gaya penulis besar,” ungkapnya. ReadMore

Humas 

 

 

Read 377 times