Dalam beberapa bulan terakhir, perhatian publik terhadap nilai tukar rupiah kembali meningkat. Setelah bertahun-tahun relatif stabil pada kisaran Rp14.000–Rp16.000 per dolar AS, rupiah kini bergerak mendekati Rp18.000 per dolar AS. Perkembangan ini memunculkan pertanyaan, sampai di mana rupiah akan melemah, dan kapan titik baliknya akan terjadi?
Pertanyaan tersebut sebenarnya tidak mudah dijawab. Nilai tukar merupakan salah satu variabel ekonomi yang paling sulit diprediksi karena dipengaruhi oleh kombinasi faktor ekonomi, politik, psikologi pasar, dan dinamika global. Bahkan para ekonom peraih Nobel sekalipun tidak bisa memprediksi pergerakan kurs secara akurat. Meski demikian, bukan berarti titik balik rupiah sama sekali tidak dapat diperkirakan. Pengalaman berbagai negara menunjukkan bahwa pelemahan mata uang biasanya mengikuti pola tertentu. Ketika pelemahan telah melampaui kondisi yang dapat dijelaskan oleh fundamental ekonomi, pasar sering kali memasuki fase yang dikenal sebagai overshooting, yaitu kondisi ketika nilai tukar bergerak terlalu jauh dari nilai wajarnya. Pada titik inilah peluang pembalikan arah mulai muncul.
Mengapa Rupiah Terus Melemah?
Untuk memahami kemungkinan titik balik, terlebih dahulu perlu dipahami penyebab pelemahan rupiah saat ini. Dari sisi global, penguatan dolar AS masih menjadi faktor utama. Ketidakpastian geopolitik, konflik di Timur Tengah, perlambatan ekonomi global, serta tingginya suku bunga di Amerika Serikat mendorong investor internasional mencari aset yang dianggap lebih aman. Fenomena flight to quality ini menyebabkan aliran modal keluar dari negara berkembang, termasuk Indonesia.
Di sisi domestik, pasar juga memperhatikan beberapa faktor yang dianggap meningkatkan risiko investasi di Indonesia. Di antaranya adalah meningkatnya kebutuhan pembiayaan utang pemerintah, tekanan terhadap neraca pembayaran, serta berbagai perubahan kebijakan ekonomi yang dipersepsikan meningkatkan ketidakpastian. Selain itu, pelemahan ekspor akibat perlambatan ekonomi dunia juga mengurangi pasokan devisa yang masuk ke dalam negeri. Dengan kata lain, pelemahan rupiah saat ini bukan hanya disebabkan oleh penguatan dolar AS, tetapi juga mencerminkan penyesuaian terhadap berbagai risiko yang sedang diperhitungkan oleh pasar.
Menentukan Nilai Wajar Rupiah
Salah satu cara memperkirakan titik balik adalah dengan membandingkan kurs pasar dengan nilai wajarnya (equilibrium exchange rate). Pendekatan paling sederhana adalah menggunakan konsep Purchasing Power Parity (PPP), yaitu teori yang menyatakan bahwa dalam jangka panjang perbedaan inflasi antarnegara akan tercermin dalam nilai tukar. Jika kurs sekitar tahun 2014 berada di kisaran Rp12.000 per dolar AS, kemudian inflasi Indonesia rata-rata sekitar 3–4 persen per tahun dan inflasi Amerika Serikat sekitar 2–3 persen per tahun, maka nilai tukar keseimbangan saat ini secara kasar berada pada kisaran Rp15.000–Rp16.000 per dolar AS.
Tentu saja pendekatan ini sangat sederhana karena tidak memperhitungkan arus modal, risiko politik, maupun kondisi pasar keuangan global. Oleh karena itu diperlukan penyesuaian berupa risk premium atau premi risiko.
Jika premi risiko Indonesia diperkirakan berada pada kisaran Rp1.000–Rp1.500 per dolar AS, maka nilai tukar yang dapat dianggap wajar saat ini berada pada kisaran Rp16.500–Rp17.500 per dolar AS. Dengan asumsi tersebut, kurs yang mendekati Rp18.000 mulai menunjukkan adanya indikasi bahwa pasar telah bergerak di atas nilai fundamental yang dapat dijelaskan oleh faktor ekonomi jangka panjang.
Ketika Pasar Mulai Berlebihan
Dalam literatur ekonomi internasional, kondisi ketika nilai tukar bergerak jauh melampaui nilai fundamental dikenal sebagai exchange rate overshooting. Konsep ini pertama kali dijelaskan oleh ekonom terkenal, Rudiger Dornbusch, yang menunjukkan bahwa pasar keuangan sering bereaksi berlebihan terhadap perubahan ekspektasi. Ketika investor khawatir terhadap suatu risiko, mereka cenderung menjual aset secara bersamaan. Akibatnya, nilai tukar dapat bergerak jauh lebih cepat dibandingkan perubahan fundamental ekonomi yang sebenarnya. Fenomena ini pernah terjadi pada banyak negara, termasuk Indonesia.
Pada krisis Asia tahun 1998, rupiah sempat melemah hingga mendekati Rp17.000 per dolar AS sebelum kemudian menguat kembali ke kisaran Rp6.000–Rp8.000. Pada krisis keuangan global 2008, rupiah juga sempat terdepresiasi tajam sebelum kembali menguat setelah tekanan pasar mereda. Hal yang sama terjadi pada awal pandemi COVID-19 tahun 2020 ketika rupiah sempat menembus Rp16.500 sebelum kembali menguat dalam beberapa bulan berikutnya. Dalam setiap kasus tersebut, titik balik tidak terjadi karena fundamental ekonomi langsung membaik, tetapi karena pasar mulai menyadari bahwa pelemahan yang terjadi sudah terlalu jauh.
Kapan Titik Balik Rupiah Bisa Terjadi?
Pengalaman berbagai negara menunjukkan bahwa titik balik mata uang biasanya muncul ketika tiga kondisi terjadi secara bersamaan.
Pertama, sentimen pasar sudah sangat negatif. Hampir semua pelaku pasar percaya bahwa pelemahan akan terus berlanjut. Ironisnya, kondisi seperti ini sering menjadi sinyal bahwa sebagian besar aksi jual sudah terjadi.
Kedua, valuasi mata uang telah menjadi sangat murah. Ketika kurs sudah jauh berada di bawah nilai wajarnya, investor mulai melihat peluang keuntungan dari pembelian aset yang dianggap murah.
Ketiga, muncul katalis kebijakan yang mampu memulihkan kepercayaan pasar. Katalis tersebut dapat berupa kenaikan suku bunga, perbaikan fiskal, peningkatan cadangan devisa, keberhasilan menarik investasi asing, atau membaiknya kondisi global.
Tanpa adanya katalis, mata uang dapat tetap berada pada kondisi undervalued untuk waktu yang cukup lama.
Di Mana Perkiraan Titik Balik Rupiah?
Tidak ada angka yang pasti. Namun jika menggunakan kombinasi pendekatan PPP, premi risiko, serta pengalaman historis Indonesia, terdapat indikasi bahwa kurs pada kisaran Rp18.000 sudah mulai mendekati wilayah undervalued. Apabila pelemahan berlanjut hingga kisaran Rp18.500–Rp19.000 per dolar AS, maka kemungkinan besar rupiah telah memasuki fase overshooting yang cukup signifikan. Pada level tersebut, peluang munculnya pembalikan arah akan semakin besar, terutama jika didukung oleh perbaikan sentimen global atau kebijakan domestik yang dianggap kredibel oleh pasar.
Hal ini tidak berarti rupiah pasti akan berbalik tepat pada angka tersebut. Pasar sering kali bergerak lebih jauh dari yang diperkirakan. Namun secara historis, semakin jauh nilai tukar bergerak dari nilai wajarnya, semakin besar pula peluang terjadinya koreksi.
Penutup
Pada akhirnya, titik balik rupiah tidak ditentukan oleh satu angka tertentu, melainkan oleh interaksi antara fundamental ekonomi, persepsi risiko, dan psikologi pasar. Dalam jangka pendek, pasar dapat membawa rupiah ke level yang tampak tidak rasional. Namun dalam jangka panjang, nilai tukar hampir selalu kembali mendekati fundamentalnya. Karena itu, pertanyaan yang paling relevan bukanlah apakah rupiah akan menyentuh Rp18.000 atau Rp19.000 per dolar AS, melainkan apakah pelemahan tersebut masih dapat dijelaskan oleh kondisi fundamental ekonomi Indonesia.
Jika jawabannya tidak lagi demikian, maka sejarah menunjukkan bahwa pasar biasanya sedang mendekati titik baliknya. Dalam perspektif tersebut, kurs Rp18.000 mungkin bukan akhir dari pelemahan rupiah, tetapi bisa menjadi awal dari fase ketika pasar mulai bertanya: apakah rupiah sudah terlalu murah untuk terus dijual? Pertanyaan itulah yang sering menjadi penanda awal lahirnya titik balik sebuah mata uang.

Penulis: Dr. Hefrizal Handra (Dosen FEB UNAND)

