Padang (UNAND) – Di tengah meningkatnya ancaman perubahan iklim yang memicu cuaca ekstrem, banjir, dan longsor di berbagai wilayah Sumatera Barat, Universitas Andalas (UNAND) menghadirkan solusi berbasis riset melalui pengembangan agroforestri cerdas iklim di Hutan Nagari Salibutan, Kecamatan Lubuk Alung, Kabupaten Padang Pariaman.
Penelitian yang dipimpin oleh Dr. Yulinda, dosen Penyuluhan Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Andalas, menunjukkan bahwa kearifan lokal Minangkabau berupa sistem parak memiliki potensi besar untuk menjadi model adaptasi dan mitigasi perubahan iklim yang berkelanjutan.
Hutan Nagari Salibutan merupakan salah satu kawasan penting penyangga lingkungan di daerah aliran Sungai Batang Anai. Kawasan ini berperan sebagai daerah tangkapan air yang menopang kehidupan masyarakat di wilayah hilir. Namun, perubahan pola curah hujan, meningkatnya suhu udara, serta tingginya risiko bencana hidrometeorologi menjadikan kawasan tersebut semakin rentan terhadap degradasi lingkungan.
Melalui penelitian yang didanai UNAND, tim peneliti mengkaji bagaimana sistem parak yang telah diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat Minangkabau dapat dipadukan dengan konsep Climate Smart Agriculture (CSA) atau Pertanian Cerdas Iklim.
“UNAND tidak hanya melakukan penelitian, tetapi juga mendorong penerapan hasil riset secara langsung bersama masyarakat. Pendekatan ini menunjukkan bahwa kearifan lokal dapat menjadi bagian penting dari solusi global menghadapi perubahan iklim,” ujar Dr. Yulinda pada Kamis (18/6).
Dalam praktiknya, masyarakat yang tergabung dalam Lembaga Pengelola Hutan Nagari (LPHN) dan Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) mengembangkan pola agroforestri berlapis. Pohon-pohon berkayu seperti asam kandis, durian, manggis, petai, dan pinang dipertahankan sebagai pelindung utama kawasan hutan sekaligus penyerap karbon. Pada lapisan berikutnya ditanam kakao, sedangkan tanaman rempah seperti jahe, kunyit, dan serai tumbuh di lantai hutan sebagai sumber pendapatan tambahan masyarakat.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa model ini mampu menjawab tiga tujuan utama Pertanian Cerdas Iklim, yakni meningkatkan produktivitas dan pendapatan petani melalui diversifikasi usaha, memperkuat ketahanan terhadap perubahan iklim, serta berkontribusi pada pengurangan emisi gas rumah kaca.
Selain memberikan manfaat ekologis, sistem agroforestri juga membuka peluang ekonomi baru, termasuk potensi pengembangan perdagangan karbon berbasis masyarakat yang saat ini mulai menjadi perhatian dunia.
Sebagai perguruan tinggi yang memiliki komitmen kuat terhadap pembangunan berkelanjutan, UNAND terus mendorong riset-riset yang berdampak langsung bagi masyarakat. Melalui kolaborasi dengan Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Barat, pemerintah nagari, LPHN, dan KUPS, UNAND berupaya menghadirkan model pengelolaan hutan yang tidak hanya menjaga kelestarian lingkungan, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar.
Dari jantung Hutan Nagari Salibutan, riset UNAND membuktikan bahwa warisan lokal Minangkabau dapat menjadi inspirasi global dalam menghadapi krisis iklim. Ketika tradisi dan ilmu pengetahuan berjalan beriringan, keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat dapat diwujudkan secara bersamaan.
Kegiatan ini didanai oleh LPDP atas nama Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia melalui Program EQUITY (Enhancing Quality Education for International University Impacts and Recognition) berdasarkan Kontrak Nomor B/53/UN16.29.1/HK.10.00/2026.(*)
Humas, Protokol, dan Layanan Informasi Publik


