Gusri Heriyanti

  • + Prodi: Ilmu Hukum 
  • + Status: Mahasiswa
  • + Tahun Masuk: 2013

Mencari jati diri jauh lebih sulit daripada mencari arti kata tersulit  di kamus. Seorang perempuan yang masih ragu meranjak dewasa, itulah dia, menyimpan keraguan dan ketidakpastian akan masa depan yang nantinya dilakoni. 

Gusri Heriyanti,  kerap di sapa Gusri  kelahiran Takengon, 31 Agustus 1995 merupakan Putri Sulung dari tiga bersaudara dari orang tua Basri dan Ani Suryanti, tumbuh dan berkembang di lingkungan rawan konflik yang katanya negeri Serambi Mekah, yakni Aceh. 

Ia mulai menempuh jenjang pendidikan Sekolah Dasar di SDN 2 Redelong, menuntaskan Sekolah Menengah Pertama di SMPN 1 Wih Pesam serta menyelesaikan Sekolah Menengah Atas di SMAN Unggul Binaan Bener Meriah dengan jurusan IPA.  

Namanya mulai melejit ketika duduk di bangku SMA, ia mulai aktif di OSIS sejak 2010 dipercayakan menjadi Bendahara Umum.  Ia pernah aktif mengikuti Pelatihan Pers se-Provinsi Aceh dan mengikuti Sosialisasi Pilar-Pilar Kebangsaan. Kegiatan yang diikutinya sangat jauh dari jalur IPA, namun keinginannya tetap utuh untuk menjadi seorang Sarjana Kedokteran. 

Melihat prestasinya, ia pun dipercayakan mengikuti perlombaan Cerdas Cermat Empat Pilar Kebangsaan mewakili Kabupaten ke tingkat Nasional, dengan bekal usaha dan do’a  ia pun berhasil menyabet prestasi Juara 2 se-Provinsi Aceh bersama dengan sembilan orang teman yang tergabung dalam teamnya.

Di pertengahan 2013, tibalah ia menuju gerbang Pendidikan Tinggi dan memilih jurusan Ilmu Hukum dan Ilmu Administrasi Negara di Universitas Andalas. Tak banyak yang ia cita-citakan karena terkendala finansial. Mau tak mau hilang sudah harapan menjadi Sarjana Kedokteran. “Akankah aku nanti menjadi seperti apa yang kumau? Satu do’a yang tak pernah terlupa, satu mimpi yang akan mengubah hidup, satu ambisi yang harus kupeluk, namun beribu rintangan menantinya digerbang kesuksesan itu”. Dia tersadar begitu sulit untuk menuju kesana, tapi apa salahnya jika mencoba terlebih dahulu. Mencoba melambungkan mimpi-mimpi di langit yang tinggi sebelum berakhir di mimpi yang hanya disangkutkan di langit-langit kamar. 

Mimpi-mimpi yang kian hari bertambah menjadi lebih rendah karena rasa pesimisnya, rasa yang tak pernah bisa ditinggalkan meskipun optimis terkadang hadir menemani. Seperti manusia pada umumnya, ia hanya insan yang mencoba meminimalisir akan peluang kesalahan yang mungkin ia lakukan. Menepiskan kesalahan secara sempurna memanglah hal mustahil dilakukan bahkan sama sulitnya dengan mencari makna jati diri.

Hingga suatu hari, seorang guru memberitahunya tentang Beasiswa Bidikmisi jalur SNMPTN. Dengan sedikit harapan bahkan dengan rasa kurang percaya diri, ia tetap mengikuti proses seleksi untuk mendapatkan beasiswa tersebut. Beberapa minggu kemudian dengan perasaan campur aduk ia buka portal SNMPTN dan namanya disana tertulis bahwa ia diterima pada pilihan pertama menjadi Mahasiswa di FHUA angkatan 2013 dengan Beasiswa Bidikmisi. Alhamdulilah… 

Dengan tekad yang bulat, iapun tak akan menyia-menyiakan uang rakyat yang dipakai untuk membiayai kuliahnya. Selama menjadi mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Andalas, ia aktif dalam kegiatan organisasi Lembaga Pengkajian Islam (LPI) Fakultas Hukum. Tak banyak prestasi yang diraih, tekadnya hanya ingin mampu betahan dengan nilai yang baik karena kayakinannya hanya itulah persembahan abadi yang bisa membuat kedua orang tuanya tersenyum tatkala ia belum mampu membahagiakan kedua orang tuanya dengan cara yang berbeda.

Berbekalkan sebuah Karya Tulis Ilmiah (Skripsi) mengantarkannya untuk mendapat gelar sarjana hukum, hasil yang tidak mengecewakan ia memperoleh nilai A pada mata kuliah tugas akhir pada 8 September 2017 silam.

Ia percaya tidak ada sebuah hasil yang menghianati setiap proses. Walau belum seutuhnya ia tahu siapa dirinya, ia akan terus mencari tahu dan menulis skenario hidupnya sendiri. Tak peduli biar tak sesuai keinginannya nanti. “Meskipun demikian, tak bisa dipungkiri satu hal yang sangat kutakuti, terhempas jauh dari peredaran jalurku tak sesuai dengan skenario yang telah kupersiapkan serta kuimpikan dengan manis dan tersusun rapi. Itulah hidup, bila gagal dalam satu naskah, maka dengan gesit kubuka lembar naskah baru dan biarkan semua berlalu.”

Humas dan Protokol Unand

 

Read 168 times
More in this category: « Dalli Burhan Ridho Ilham »