Wisuda IV Tahun 2017, Program Doktor, Magister, Profesi dan Spesialis  Klik tombol ini untuk Melihat
Toggle Bar

PSH Unand Bahas Dinamika Sejarah Intelektual Sumatera Barat

19 Mei 2016

Pusat Studi Humaniora (PSH) Universitas Andalas bekerja sama dengan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sumatera Barat menggelar Pidato Kebudayaan bersama Sejarawan Indonesia, Prof. Dr. Taufik Abdullah, MA dengan tema “Dinamika Sejarah Intelektual Sumatera Barat” pada Rabu (18/5) di Ruang Seminar lantai 2 Gedung E Universitas Andalas Kampus Limau Manis Padang.

Pidato kebudayaan ini dilaksanakan dalam rangka persiapan pendirian Museum Wartawan Marthias Dusky Pandoe di Lawang Kabupaten Agam. Marthias Dusky Pandoe merupakan seorang wartawan senior yang telah malang melintang di dunia jurnalistik nasional maupun lokal. Marthias Dusky Pandoe adalah seorang wartawan senior Indonesia yang berkarya untuk Harian Kompas sejak tahun 1970 sampai pensiun pada tahun 1998. Ia lahir di Lawang, Matur, Kabupaten Agam, pada 10 Mei 1930.

Ketua Panitia Acara, Bahren, SS, MA mengatakan kegiatan ini terlaksana dari hasil diskusi terkait semakin merosotnya jumlah intelektual di Sumatera Barat. Kemerosotan itu bermula semenjak PRRI, orang Minang sampai pada titik terendah secara harga diri. Maka Pak Nasir pada saat itu  mengambil keputusan untuk mengirim beberapa orang untuk pulang ke Padang, Sumatera Barat  salah satunya Pandoe guna memperbaiki keadaan ini. 

Niat untuk membuat Museum Pandoe/Pandoe Library tersebut disambut baik oleh keluarga besar Pandoe. Untuk itu sebagai pemanasan, maka dilaksanakan pidato kebudayaan dengan menghadirkan pakar/sejarawan Indonesia yang merupakan putra asli Sumatera Barat yaitu Prof.  Prof. Dr. Taufik Abdullah, MA. Pada kesempatan ini juga akan disampaikan memorial oleh Buya Masoed Abidin yang juga merupakan sahabat Pandoe.

Lebih lanjut Bahren berharap kegiatan ini agar dapat membangkitkan kegairahan generasi muda terhadap dunia intelektual Sumatera Barat.

Sementara itu, Wakil Rektor IV Unand, Dr. Ir. Endry Martius, M.Sc mengatakan mengutip dari tema tersebut, dari dinamika sejarah intelektual Sumatera Barat dalam kemunculan dan perkembangan tradisi keilmuan dan dinamika pemikiran pendidikan Islam di nusantara khususnya di Sumatera Barat ini selalu berkaitan dengan kondisi lingkungan yang mengitarinya. Kemunculan dan perkembangan tersebut lebih sebagai “formulasi baru” perpaduan antara kebudayaan dan peradaban yang sudah ada dan interen dalam masyarakat itu dengan kebudayaan dan peradaban baru yang datang kepadanya. 

Perjalanan sejarah pendidikan Islam menjadi sangat menarik untuk dikaji karena disamping nuansa spiritualis kental yang mengiringi penyebaran awalnya, lembaga pendidikan tersebut juga telah menjadi agen transformasi nilai dan budaya dalam sebuah komunitas yang bersifat dinamis. Sehingga, keberadaanya diakui memiliki pengaruh besar dalam membentuk bangsa ini, membebaskannya dari belenggu penjajahan, dan menelurkan generasi demi generasi yang mewarnai kemerdekaan negeri ini. 

Dr. Endry Martius menambahkan dari tema tersebut diatas kita bisa mempelajari atau mengambil hal-hal yang sesuai dengan sejarah Minangkabau di Sumatera Barat. Sebagai karya-karya sejarah dan budaya asli  Sumatera Barat menjadi cikal bakal berkembangnya ilmu-ilmu filsafat, metafisika, matematika, dan sebagainya. Penyesuaian budaya di dalamnya, mengakibatkan majunya kebudayaan-kebudayaan di Indonesia ataupun di tingkat dunia. 

Prof. Dr. Taufik Abdullah, MA dalam paparanya menyampaikan sepintas lalu tentu saja bisa dikatakan bahwa sejarah intelektual bukanlah berarti sejarah dari para intelektual, tetapi uraian tentang dinamika dan corak pemikiran dalam tinjauan kesejarahan. Dengan kata lain “sejarah intelektual” ialah hasil dari usaha akademis untuk merekan dan memahami perjalanan dan pengumpulan pemikiran yang disampaikan oleh para pemikir/intelektual dalam perjalanan waktu.

Sifat dari kisah kesejarahan Sumatera Barat terputus putus. Ketika wilayah kesejarahan itu telah mulai didekati maka yang segera muncul kepermukaan ialah percampuran unsur kesejarahan sebagai uraian tentang berbagai peristiwa yang terjadi di masa lalu dengan beragam mitos yang dianggap sebagai representasi realitas yang tidak tercatat. 

Mula-mula terasa juga betapa semua peristiwa yang bercampur aduk itu terjadi di masa “entah-berantah”. Tetapi ketika keasyikan dalam dunia mitos masih belum selesai, tiba-tiba seakan-akan dengan begitu saja dirusak oleh kehadiran suasana dan kejadian historis yang bukan saja logis tetapi juga memberikan bukti-bukti otentisitasnya. Atau sebaliknya, kepastian sejarah ternyata tidak mudah bisa memasuki wilayah kelampauan yang sejak semula berada dalam naungan mitologi.

Prof. Taufik Abdullah juga memaparkan tentang masa awal kegelisahan dan perumusan landasan baru, perdebatan intelektual dalam perubahan. Diakhir paparanya Prof. Taufik Abdullah menyampaiaan akhir sebuah pertanyaan tertanyakan juga. Apakah wacana kecendikiaan atau intellectual discourse yang pernah memunculkan dirinya di Sumatera Barat hanya berkisar pada masalah ke-Minangkabau-an saja? Jawabannya sederhana saja, “Berbagai subjek tentang sejarah, politik, ekonomi kebudayaan dan entah apa lagi dari cabang ilmu pengetahuan telah pernah dan bahkan masih diterbitkan. Hanya saja ketika intellectual discourse yang ditanyakan dan di saat masalah refleksi kultural yang dipersoalkan maka dunia penerbitan di Sumatera Barat ternyata terpukau pada satu hal saja yaitu dinamika kultural dan filsafat sosial dari “ke-Minangkabau-an”.

Dialog kebudayaan ini diikuti oleh mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi negeri dan swasta di Kota Padang yaitu, Universitas Andalas, IAIN Imam Bonjol, Universitas Bung Hatta, dan STKIP PGRI selain itu juga hadir dari PWI,  Aliansi jurnalistik Indonesia dan Pemko Padang.

Humas dan Protokol Unand

 

Read 1018 times