Live Streaming Wisuda III Program Sarjana dan Diploma Tahun 2018  Klik tombol ini
Toggle Bar

Ike Revita - Agen Moral

12 April 2018

Belajar dari kemarin, hidup hari ini, berharap untuk besok. Yang penting adalah untuk tidak berhenti bertanya." ~ Albert Einstein

Padang (Unand) - Kutipan ini diambil dari kumpulan kalimat-kalimat inspiratif yang saya temukan saat melanglang buana di dunia maya. Di kemukakan oleh  Albert Einstein, seorang ilmuwan fisika yang lahir di Jerman. Einstein sangat dikenal luas sebagai ilmuwan terbesar pada abad 20-an. Dengan teori realtivitasnya, Einstein dinilai mencapai titik keberhasilan yang luar biasa sebagai seorang ilmuwan. Meskipun demikian, kearifan dan kebijakan Eisntein tidaklah hilang begitu saja. Justru banyak kalimat-kalimat bijak yang dikemukakan Einstein yang mengisnpirasi banyak orang. Salah satunya adalah ideologi tentang belajar.

 

Belajar menurut Einstein menjadi salah satu fungsi utama dari kehidupan. Melalui proses  belajar, ada banyak pengetahuan yang bisa diperoleh. Pemerolehan pengetahuan ini dapat dilakukan dengan belajar dari pengalaman, mendengarkan, dan yang paling penting adalah tidak berhenti untuk bertanya. Inilah yang ingin saya garis bawahi, tidak berhenti untuk bertanya.  Hal ini akan bertemali erat dengan yang namanya perilaku seorang agen untuk sebuah perubahan, apalagi terkait dengan agen moral.

Apa itu Belajar?

Dalam KBBI (2012), belajar diartikan sebagai 1) berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu; 2) berlatih; dan 3) berubah tingkah laku atau tanggapan yang disebabkan oleh pengalaman. Dengan demikian, belajar merupakan upaya memperoleh ilmu atau kepandaian melalui upaya berlatih yang berujung pada terjadinya perubahan tingkah laku atau tanggapan akibat semakin bertambahnya pengalaman. 

Dimana proses belajar dilakukan?

Dalam beberapa tulisannya, Revita (2015) menyebutkan bahwa dunia adalah tempat manusia belajar. Dunia menjadi panggung kehidupan dimana semua manusia akan mengisi hidupnya dengan berbagai pengalaman. Selain itu, alam akan membantu manusia dalam proses belajar ini. Hal inilah yang menjadi filosofi bagi masyarakat Minangkabau ketika alam takambang menjadi guru  (Navies, 1984). Lewat alam, manusia senantiasa tidak berhenti belajar. Bahkan tidak jarang proses terjadi melalui aktivitas atau learning by doing.

Secara formal, proses belajar dilakukan di dalam kelas sekolah atau kampus. Kelas itu bisa mengacu pada banyak tempat, seperti kelas atau ruangan berukuran tertentu dimana di dalamnya ada papan tulis dan media belajar lainnya  atau laboratorium tempat dimana dilakukan praktik. Belajar pun dapat dilakukan di lapangan terbuka sebagaimana yang dilakukan banyak guru atau dosen dengan membawa murid/mahasiswanya ke lapangan. Singkatnya, tempat belajar formal ini dikoridori oleh aturan-aturan yang sifatnya universal, regional, atau nasional.

Contohnya adalah sekolah milik pemerintah dan swasta. Meskipun dimiliki oleh pemilik yang berbeda, mereka tetap harus mengikuti aturan yang sudah ditetapkan oleh kementrian pendidikan nasional. Begitu pula halnya dengan perguruan tinggi negeri dan swasta. Keduanya tetap mengikuti aturan dan kebijakan yang diatur oleh Menristekdikti.  Tidak ada alasan menjadikan milik negeri dan swasta sehingga ada aturan yang boleh dilanggar. Inilah yang dimaksud dengan belajar dalam koridor pendidikan  bersifat nasional.

Untuk tingkat regional, sebuah proses pembelajaran akan diukur dengan standar yang bersifat regional atau internasional. Hal ini biasanya berhubungan dengan yang disebut akreditasi.

Akreditasi secara semantis bermakna pengakuan terhadap lembaga pendidikan yang diberikan oleh badan yang berwenang setelah dinilai bahwa lembaga itu memenuhi syarat kebakuan atau kriteria tertentu. Pengakuan ini diperoleh setelah melewati rangkaian kegiatan yang salah satunya terkait dengan pembelajaran, out put, dan out come-nya. Semua aspek dinilai, sebagaimana yang dilakukan oleh beberapa PTN di dunia. Salah satunya adalah Universitas Andalas.  Beberapa program studinya sudah menuju ke arah sini. Dengan diakreditas secara regional AUN-QA (ASEAN University Network-Quality Assuarance), ABET (Accreditation Board for Engineering and Technology)  dan ABEST (The Alliance on Business Education and Scholarship for Tomorrow), Universitas Andalas sedang menyiapkan alumninya untuk mampu bersaing secara  global. Kekhawatiran akan kalah bersaing di level regional dan internasional tidak perlu terjadi. 

Di sinilah lembaga yang terkait dengan pengembangan pendidikan dan penjaminan mutu (LP3M) Universitas Andalas menjalankan perannya. Melalui aktivitas yang tidak pernah mengenal menyerah dan lelah, tim di lembaga ini terus menerus melakukan support  kepada prodi yang sedang mempersiapkan diri untuk memasuki gerbang globalisasi dalam ranah pendidikan.

Semua ini sudah pasti tidak lepas dari peran ujung tombak dari sebuah proses belajar di ranah pengisi otak ini, yakni guru atau dosen. Guru dan dosen dianggap sebagai orang yang berhubungan langsung dengan keberhasilan sebuah pendidikan. Terlepas dari aspek-aspek eksternal. Guru dan dosen adalah agen dalam perubahan, apalagi terkait dengan moral yang kemudian akan menjadi budaya.

Apa itu Agen Moral?

Agen moral disusun oleh dua kata, agen dan moral. Dalam KBBI (2012), agen disebut juga perwakilan. Moral adalah  ajaran tentang baik dan buruk yang diterima oleh umum mengenai perbuatan, sikap, atau kewajiban (http://kbbi.co.id/arti-kata/moral). Dengan demikian, agen moral adalah perwakilan (sudah pasti orang) yang mengajarkan tentang hal-hal baik dan buruk terkait perbuatan, sikap, atau kewajiban. Di sekolah dan kampus, yang mengajarkan ini sudah pasti guru dan dosen. Hal senada pun pasti dilakukan orang tua saat anak berada di rumah. Akan tetapi saya tidak menyebut orang tua sebagai agen moral karena orang tua ini bukan perwakilan siapa-siapa. Mereka justru bertanggung jawab penuh kepada anak-anak yang sudah diamanahi kepadanya. Dengan kata lain, istilah agen moral lebih tepat ditujukan pada guru dan dosen untuk ranah pendidikan formal.

Bagaimana menjadi seorang agen moral?  

Sudah pasti ada ada tahap-tahap yang harus diikuti. Salah satunya dengan belajar dan menuntut ilmu. Itulah sebabnya, ada aturan yang dibuat pemerintah agar seorang guru dan dosen senantiasa melanjutkan studinya hingga mencapai jenjang tertentu. Tidak hanya itu, aturan ini bahkan dibuat mengikat sehingga seorang guru minimal memiliki pendidikan di jenjang strata 1 dan dosen di strata 2. 

Tingginya jenjang akademik seorang guru dan dosen ini idealnya dibarengi dengan meingkatnya kemampuan menjadi model bagi anak didiknya. Model dalam berperilaku dan berbahasa.

Inilah yang kemudian terjadi di sebuah sekolah berbasis agama. Gurunya gagal memberikan contoh pada anak didiknya. Ketika anak-anak melakukan kesalahan, hukuman fisik dengan menjemur anak-anak di lapangan justru menjadi pilihan. Ironisnya, aktivitas ibadah pun ditiadakan. Padahal di pendidikan zaman now, hal seperti di atas  tidak lagi berlaku. Ini pula yang dikatakan Fasli Jalal, mantan Wamendikbud, dalam sebuah  pernyataannya di sebuah seminar betapa pentingnya memperhatikan perkembangan sosio- emosional anak dalam belajar. Guru sudah pasti harus mengetahui ini sebagai seorang ‘pengisi otak manusia’, apalagi jika terjadi di tingkat dasar. Era golden age harus termasuk dalam perhatian utama.

Tanggung jawab yang sama juga harus dilakukan seorang dosen. Dosen tidak hanya seorang berpendidikan yang dengan petantang-petenteng memarahi mahasiswa atas kesalahan yang dibuat. Justru dosen adalah seorang edukator yang bertugas tidak hanya mentransfer ilmu, tetapi juga menjadi fasilitator dan motivator bagi anak didiknya. Kalau hanya memarahi, menyalahkan, kemudian meninggalkan mahasiswa dan memberinya nilai 45, 50, atau 60 adalah agen moral yang benar-benar ‘amazed’. Apalagi ketika agen itu tidak mau menerima informasi atas sebuah kebenaran karena yang benar adalah hanya dia sehingga ‘kamu salah...kamu salah’ adalah   tuturan yang menjadi pilihan saat berdialog.

Sungguh kasihan jika agen moral berperilaku seperti ini. Akan seperti apakah pendidikan di masa depan jika seorang agen  moral bisanya hanya menyalahkan tanpa mau memberitahu benarnya seperti apa. Yang jelas, seorang jenius dan diakui dunia seperti Einstein pun menyebutkan bahwa kita juga harus senantiasa memiliki pemikiran yang terbuka, maka kita akan selalu memiliki harapan untuk hari esok. (Ike Revita - Kepala Pusat Pengembangan Pendidikan dan Pelatihan LP3M Unand

Humas dan Protokol Unand 

 

Read 384 times