Penerimaan Mahasiswa Program Studi Program Profesi Insinyur  Klik tombol ini untuk selengkapnya
Toggle Bar

FIB Unand dan Lembaga Dapur Kultur Bahas Perempuan dan Maritim dalam Konteks Sejarah Publik Indonesia

10 Oktober 2017

Padang (FIB Unand) - Jurusan Sejarah FIB Unand mengadakan seminar dengan tema “Perempuan dan Maritim dalam Konteks Sejarah Publik Indonesia” pada Senin (9/10/2017) di Ruang Seminar Fakultas Ilmu Budaya Unand.  Ini kali pertama Jurusan Sejarah mengadakan seminar bekerja sama dengan Lembaga Dapur Kultur. Pada tahun sebelumnya, Lembaga Dapur Kultur mengadakan seminar serupa di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Unand.

Pada acara ini, juga diadakan penandatanganan MoU antara Lembaga Dapur Kultur dengan Fakultas Ilmu Budaya. MoU ditandatangani oleh Hariyaldi Kurniawan sebagai perwakilan dari Lembaga Dapur Kultur dan Imelda Indah Lestari, S.S., M.Hum., Wakil Dekan III sebagai perwakilan FIB Unand.

Seminar ini menghadirkan tiga orang pembicara, yakni Krisna Murti, seorang seniman alumni ITB; Prof. Dr. phil Gusti Asnan, Guru Besar Jurusan Sejarah FIB Unand; dan Dr. Siti Fatimah, M.Pd., M.Hum., dosen Universitas Negeri Padang.

Ketiga pembicara membicarakan tema dengan sisi yang berbeda. Krisna Murti berbicara tentang sejarah dan teknologi, khususnya foto dan video; Gusti Asnan berbicara tentang sejarah maritim dan kreativitas; sementara Siti Fatimah berbicara tentang perempuan dan sejarah maritim sebagai industri wisata.

Krisna Murti dengan kemampuan photoshopnya menghadirkan kembali tokoh-tokoh yang pernah ada dalam sejarah Indonesia.

Ia juga menjadikan mainan sebagai alternatif dalam menunjang kreativitas. Uniknya, ia menghadirkan tokoh-tokoh tersebut dengan dirinya sendiri sebagai model. Jadilah, Krisna Murti berbagai tokoh wayang, penari perempuan, dan lainnya.

Sementara itu, Gusti Asnan menyatakan bahwa perempuan ialah impian para pelaut. Hal ini kemudian membuat salah seorang peserta seminar, Sri Haryati, berkomentar bahwa jika demikian berarti perempuan ialah korban para pelaut.

“Jika memang Anda, sebagai perempuan, merasa sebagai korban, ungkapkanlah. Anda bisa mengungkapkan lewat novel sejarah misalnya. Umumnya, kita mengenal para perompak ialah para lelaki. Khalayak umum banyak yang tidak mengetahui bahwa perempuan juga pernah menjadi perompak. Hal ini tentunya menarik jika diungkapkan melalui novel sejarah,” jelas Gusti Asnan.

Kemudian, Siti Fatimah menyoroti perempuan-perempuan pesisir, lebih khususnya perempuan di kawasan Mandeh, Pesisir Selatan. “Pada kalangan nelayan, ada yang disebut ‘hari kalam’. Pada hari kalam ini, nelayan tidak melaut. Mereka akan menghabiskan waktu bermain domino atau sabung ayam. Pada waktu inilah, perempuan nelayan berperan.

Perempuan-perempuan nelayan di Mandeh akan mencari lokan untuk dijual. Dengan demikian, pada hari kalam, perempuanlah yang berperan dalam perekonomian,” jelas Siti Fatimah.

Seminar yang diadakan di Ruang Seminar Fakultas Ilmu Budaya Unand ini berjalan lancar. Peserta yang hadir tidak hanya dari Unand saja, tetapi juga dari berbagai instansi, yakni dari STKIP PGRI Padang, UIN Imam Bonjol, dan ISI Padang Panjang.

FIB Unand

 

 

Read 128 times